ASI ( Air Susu Ibu )

- more fresh… HEALTHIER and free -

MASIH DISUSUI DI ATAS 2 TAHUN

http://www.tabloid-nakita.com/

Oleh Lembaga Kesehatan Dunia, anak batita dianjurkan untuk tetap
mengonsumsi ASI. Namun di balik itu ada keraguan mengenai pantas atau
tidak anak di atas 2 tahun masih menetek pada ibunya. Betulkah ia akan
kehilangan kesempatan untuk belajar mandiri?

Sebagian ibu tetap menyusui meski umur anaknya sudah di atas 2 tahun.
Salah satu alasannya, pemberian ASI membuat ibu dan si kecil bahagia. WHO
dan UNICEF pun menganjurkan ibu untuk menyusui anaknya hingga berusia 2
tahun atau lebih. Tentu saja, sejak menginjak usia 6 bulan, anak harus
mendapat makanan pendamping ASI karena kebutuhan nutrisinya semakin besar
dan tidak mungkin tercukupi oleh ASI saja. Namun begitu, ASI tetaplah
merupakan sumber nutrisi yang sama baiknya dengan masa 6 bulan pertama
karena masih mengandung protein, lemak, vitamin, mineral, dan faktor
imunologi.

Jack Newman, M.D., FRCPC, penulis buku Dr. Jack Newman’s Guide to
Breastfeeding, The Ultimate Breasfeeding Book of Answers in the United
States, dalam situs naturalfamilyonline

.com mengatakan, beberapa faktor
imunologi pada ASI bahkan menjadi lebih banyak jumlahnya di tahun kedua
daripada di tahun pertama. Pengamatannya pada beberapa day care
menyimpulkan, anak-anak yang masih mendapat ASI lebih jarang sakit
daripada anak-anak yang tidak mendapat ASI. Ini berarti ibu yang tetap
memberikan ASI justru kehilangan lebih sedikit waktu bekerja daripada
ibu-ibu lain yang harus bolak-balik mengantar anak ke dokter dan
merawatnya karena lebih sering sakit.

Namun begitu, bukan berarti menyusui batita tak lepas dari problema.
Terutama ketika ibu harus berhadapan dengan lingkungan sosial yang lebih
besar dan tuntutan terhadap anak untuk kelihatan mandiri, termasuk dalam
urusan minum susu. Mengenai kemandirian ini sudah banyak pertanyaan yang
dilontarkan terhadap anjuran memberikan ASI hingga usia 2 tahun atau
lebih. Antara lain dijawab oleh Newman, “Anak yang menyusu sampai ia
memutuskan sendiri untuk berhenti (biasanya di usia 2 sampai 4 tahun)
justru pada umumnya lebih mandiri, dan barangkali yang lebih penting, ia
merasa lebih aman dalam keman-diriannya. Ia sudah mendapatkan rasa nyaman
dan aman dari tetek ibunya sampai ia sendiri siap memutuskan untuk
berhenti. Ketika memutuskan berhenti, ia tahu dirinya sudah melakukan
pencapaian dan maju selangkah. Hal itu merupakan tonggak keberhasilan
dalam hidupnya.”

Nah, apa lagi masalah seputar menyusui anak batita dan bagaimana
menyiasatinya? Risa Kolopaking, M.Psi. dari Rumah Sakit Hermina Bekasi,
menjawabnya untuk Anda.

SEBENARNYA APAKAH FUNGSI ASI BAGI ANAK DI ATAS DUA TAHUN?

ASI sendiri memiliki dua fungsi penting untuk anak. Pertama, fungsi
nutrisi dan kedua, fungsi psikologis. Pemberian ASI akan menguatkan
hubungan ibu dan anak. ASI wajib diberikan hingga anak berusia 6 bulan.
Selanjutnya, diberikan bersamaan dengan makanan padat secara bertahap.
Menyusui sampai di atas 2 tahun lebih karena pertimbangan psikologis
ketimbang nutrisi. Dengan menyusu, anak menda-patkan perasaan aman dan
dicintai. Yang harus diingat, jalinan perhatian dan kasih sayang dari ibu
tidak harus melulu lewat pemberian ASI, tapi juga lewat aktivitas dan
tindakan lainnya.

APA YANG AKAN TERJADI JIKA ANAK MASIH MENYUSU ASI DI ATAS DUA TAHUN?

Bagi ibu, gigi anak yang sudah banyak tumbuh, berpotensi melukai puting
susunya. Ibu-ibu yang masih menyusui anaknya di atas dua tahun pasti
sering mengalaminya. Pemberian ASI yang terlalu berlarut-larut juga bisa
menimbulkan keter-gantungan emosional kurang sehat antara ibu dan anak
jika tanpa diimbangi aktivitas lain yang bisa menjalin keakraban
orangtua-anak. Sama halnya jika anak dibiarkan mencari rasa aman dengan
caranya sendiri seperti mengisap jempol, menggigit kuku, memilin rambut,
dan sebagainya.

Dampak sosialnya juga ada. Jika anak masih menyusu padahal dia sudah
memasuki usia sekolah, bisa dilukiskan bagaimana komentar teman-temannya?

BAGAIMANA CARA MENYAPIH ANAK DI ATAS 2 TAHUN?

Ibulah yang sebenarnya paling tahu bagaimana cara menyapih anaknya dengan
baik. Salah satunya dengan mengurangi pemberian ASI secara bertahap.
Misal, bulan ini anak menyusu cukup lima kali sehari. Bulan berikutnya
dikurangi menjadi empat kali sehari, lalu kurangi lagi menjadi tiga kali,
dan seterusnya sampai anak berhenti sama sekali minum ASI. Waktu
pengurangan disesuaikan dengan kondisi ibu dan kesiapan anak. Cara ini
cukup efektif dan aman. Produksi ASI juga dengan sendirinya akan
berkurang, bahkan menghilang sama sekali. Pengeluaran ASI tergantung pa-da
rangsangan isapan yang didapat. Semakin jarang diisap maka semakin sedikit
ASI yang diproduksi.

Hindari cara-cara keras yang bisa membuat anak trauma. Contoh, mengoleskan
ramuan pahit agar anak tak lagi menyentuh ASI. Tindakan me-nutupi puting
susu juga sama buruknya. Anak justru akan merasa dirinya ditolak. Juga
merasa dirinya tidak disayangi lagi.

Yang sebaiknya dilakukan, berikan penjelasan tepat dan mudah dipahami,
mengapa anak harus berhenti minum ASI. Um-pamanya, karena anak sudah
besar, sudah pintar makan nasi, buah, sayur, dan sebagainya.

APA HAMBATAN MENYAPIH DARI SISI IBU?

Dari sisi ibu, masalah utama ada pada kondisi psikologis. Banyak ibu yang
merasa tidak tega saat harus menyapih anak-nya. Terlebih, jika sudah
mem-berikan air susunya selama lebih dari dua tahun. Suatu masa yang tidak
pendek untuk memutuskan jalinan kasih

sayang. Apalagi, ibu juga merasa sebagai sebuah sosok yang sangat
dibutuhkan anaknya. Dia bisa melihat betapa anaknya senang dan ceria
begitu diberi ASI. Ibu juga tidak mau melihat anaknya sedih dan marah saat
tidak diberi ASI.

Terlebih, jika ibu tidak berkarier di luar rumah. Seringnya kontak dengan
anak membuat ibu sulit menolak permintaannya, termasuk meminta ASI.
Bedakan dengan wanita karier, yang produksi ASI-nya otomatis akan
berkurang karena sibuk bekerja. Hambatan di atas terjadi juga pada ibu
yang hendak menyapih secara bertahap saat anak berusia 1,5 tahun.

Untuk mengatasinya, ibu harus bersikap lembut tetapi tegas dan konsisten.
Jangan merasa ada perasaan bersalah karena hendak menyetop ASI. Tapi,
hindarkan pula sikap terpaksa kala memberikan ASI. Lakukan penyapihan
secara bertahap.

BAGAIMANA JIKA DILIHAT DARI SISI ANAK?

Menyapih di atas dua tahun tentu lebih sulit ketimbang di bawah usia itu.
Di usia 1-2 tahun, anak masih mudah diajak bekerja sama. Sikap egosentris
dan individualisnya belum terlalu besar. Kemampuan memorinya juga belum
berkembang dengan baik, sehingga anak tidak terlalu menyimpan pengalaman
indah dirinya dicintai dan disayangi saat menyusui.

Di atas dua tahun, orangtua memang harus berupaya ekstra melakukan
penyapihan karena anak sudah mulai bersikap egonsentris. Apa-apa yang
dimintanya harus dipenuhi. Apalagi, jika sesuatu yang dimintanya identik
dengan kasih sayang. Jika ditolak, anak akan melampiaskannya dengan temper
tantrum, sikap yang membuat orangtua langsung menyerah.

Untuk mengatasinya, lakukan aktivitas yang menyenang-kan antara ibu dan
anak. Dengan demikian, anak akan tahu, meski tidak menyusu ASI, anak masih
dicintai, disayangi, dan diperhatikan. Rajinlah berkomunikasi dengan si
kecil. Luangkan juga waktu untuk bermain, mendongeng, atau mengajaknya
jalan-jalan. Berikanlah reward berupa pelukan, ciuman, atau dekapan saat
anak melakukan perilaku positif. Hal lain yang perlu diperhatikan, jangan
sekali-kali menawarkan ASI, atau memberikan ASI sebagai jurus ampuh saat
anak rewel, terjatuh, atau menangis.

GANTI MENYUSUI ASI DENGAN AKTIVITAS MENYENANGKAN

Ainul Mardiyah (28), ibunda Janeeta Az-Zahra Simanjuntak (3,5)

“Saya mulai menyapih si kecil di usia 1 tahun 10 bulan. Selama waktu itu,
saya berusaha mengurangi pemberian ASI secara bertahap. Caranya, setiap
kali dia minta ASI di malam hari, saya langsung menggantinya dengan susu
formula dalam botol. Mulanya dia menolak, tapi lama-lama dia mau juga.

Agar dia benar-benar mau berhenti menyusu, saya atau suami selalu
mengajaknya bermain sebelum tidur. Setelah kecapekan, dia pun tertidur dan
lupa akan rutinitasnya mengisap puting susu sebelum tidur. Memang, di
awal-awal masa penyapihan dia melakukan penolakan. Ada saja sikap rewelnya
yang membuat kami kesal. Kadang juga minta dikelonin saat meminum susu
dari botol. Saya turuti saja. Toh, itu merupakan salah satu bentuk
pemberian kasih sayang, pengganti jalinan kasih sayang di kala menyusui.
Lambat laun, sikap rewel anak berhenti. Saya pun senang karena berhasil
menyapih Zahra tanpa ‘kekerasan’. Tidak ada cairan pahit, plester, apalagi
penolakan keras.”

STOP ASI LEWAT SLOW WEANING

Luluk Lely Soraya Ichwan (32) ibu dari Alyssa Azmi Anantama Ardhya (3,5)

“Sebetulnya proses menyapih saya lakukan ketika Alyssa (putri saya)
menginjak 2 tahun. Pertimbangannya, banyak manfaat yang didapat dari
menyusui baik secara fisik maupun psikologis. Secara fisik, si kecil tidak
mudah sakit. Sedangkan secara psikologis, terjadi ikatan kasih sayang
antara ibu dan anak. Menyusui sangat luar biasa.

Jujur saja. Sebelum Alyssa berusia 2 tahun, saya mengalami dilema besar.
Itu karena dari beberapa artikel yang ada, termasuk tabloid nakita (kiblat
saya dalam membesarkan anak), rata-rata menyarankan anak berhenti menyusu
di usia 2 tahun. Akhirnya saya menemukan sebuah sumber situs laktasi dan
berkonsultasi dengan mereka. Jawabannya, memang enggak ada keharusan bahwa
di usia 2 tahun anak harus stop minum ASI. Akhirnya, saya tetap menyusui
Alyssa meski umurnya sudah lebih dari 2 tahun.

Proses penyapihan saya lakukan secara perlahan dan bertahap, atau
istilahnya slow weaning. Pertama, saya memberikan penjelasan, ‘Nak, Alyssa
kan sudah besar. Dah jadi kakak. Nah kalau kakak harusnya dah enggak minum
ASI lagi. Jadi mulai sekarang kita belajar untuk enggak minum ASI lagi.’
Alyssa pun awalnya menolak seraya mengatakan, ‘Tapi Ica maunya disayang
Mama. Ica mau minum ASI aja.’ Akhirnya, saya coba mengalihkan perhatian
Alyssa. Jika sudah ada tanda-tanda Alyssa minta menyusu, saya langsung
ajak dia bermain, membaca buku, atau apa saja yang Alyssa suka. Lama-lama
di usia 3 tahun Alyssa sudah berhenti sendiri minum ASI. Dialah yang
memutuskan, dia mau berhenti minum ASI tanpa harus saya paksa.”

June 26, 2006 - Posted by | Article

1 Comment »

  1. Sy ibu rmh tangga.Anak sy usia 1th 11bln.Sampai saat ini sy masih menyusui. Sebenarnya sy ingin anak sy nantinya lepas sendiri minum asi.tetapi ayahnya yg memaksa sy&anak sy u/berhenti…sy kuatir kalo nantinya anak sy secara psikolagis merasa ditolak/tdk bs mandiri krn dia tau bhw ayahnya yg memaksanya u/berhenti minum asi(nenen).jika saat siang, anak sy sdh jarang minta asi/kadang tdk sm sekali.Tp bagaimana jika disaat tidur malam,anak tiba2 terbangun minta u/disusui?krn ayahnya sering terbangun&marah krn anak sy suka minta nenen wkt mlm hr. Tolong solusinya.trim

    Comment by Mariesa | October 22, 2010 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: