ASI ( Air Susu Ibu )

- more fresh… HEALTHIER and free -

Susu Formula dan Angka Kematian Bayi

Kamis, 06 Maret 2008

Opini

Siti Nuryati, MAHASISWA PASCASARJANA GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Temuan para peneliti dari Institut Pertanian Bogor tentang adanya kontaminasi pada produk susu formula dan makanan bayi membuat banyak kalangan, terutama ibu-ibu, panik. Seperti dilansir di berbagai media massa beberapa hari ini, para peneliti tersebut menemukan 22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) dan 40 persen makanan bayi (dari 15 sampel) yang dipasarkan pada April hingga Juni 2006 telah terkontaminasi Enterobacter sakazakii.

Kejadian ini kembali mengingatkan kita akan salah satu hak bayi yang selama ini sering dilupakan oleh para ibu, yakni hak untuk memperoleh air susu ibu yang sering dengan mudahnya digeser oleh susu formula. Betapa tidak, data menyebutkan hanya 14 persen bayi di Indonesia yang disusui secara eksklusif oleh ibunya hingga usia 4 bulan. Pemasaran yang agresif dari produsen susu pengganti ASI merupakan salah satu faktor penghambat pemberian ASI di Indonesia. Pemberian susu formula kepada bayi yang semestinya mendapatkan ASI eksklusif menjadi gaya hidup saat ini. Berdasarkan survei pada 1999, bayi di Indonesia rata-rata memperoleh ASI eksklusif 1,7 bulan.

Survei Demografi Kesehatan Indonesia pada 1997 dan 2002 menunjukkan pemberian ASI kepada bayi satu jam setelah kelahiran menurun dari 8 persen menjadi 3,7 persen. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan menurun dari 42,2 persen menjadi 39,5 persen, sedangkan penggunaan susu formula meningkat tiga kali lipat dari 10,8 persen menjadi 32,5 persen.

UNICEF menyatakan 30 ribu kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia tiap tahun bisa dicegah melalui pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan sejak tanggal kelahirannya tanpa harus memberikan makanan serta minuman tambahan kepada bayi.

UNICEF menyebutkan bukti ilmiah yang dikeluarkan oleh jurnal Paediatrics pada 2006. Terungkap data bahwa bayi yang diberi susu formula memiliki kemungkinan meninggal dunia pada bulan pertama kelahirannya. Dan peluang itu 25 kali lebih tinggi daripada bayi yang disusui oleh ibunya secara eksklusif. Banyaknya kasus kurang gizi pada anak-anak berusia di bawah 2 tahun yang sempat melanda beberapa wilayah Indonesia dapat diminimalisasi melalui pemberian ASI secara eksklusif. Karena itu, sudah sewajarnya ASI eksklusif dijadikan prioritas program di negara berkembang ini.

UNICEF menyebutkan bahwa ketidaktahuan ibu tentang pentingnya ASI, cara menyusui dengan benar, serta pemasaran yang dilancarkan secara agresif oleh para produsen susu formula merupakan faktor penghambat terbentuknya kesadaran orang tua dalam memberikan ASI eksklusif.

Berbagai penelitian pun melaporkan, bayi yang diberi susu formula terancam mengalami obesitas. Kebanyakan susu formula berbasis susu sapi yang mengandung protein jauh lebih banyak daripada protein manusia. Kita tahu bahwa hewan cenderung lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan dengan manusia. Tidak mengherankan jika ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa bayi yang mendapat ASI tidak segemuk bayi yang mendapat susu formula. Pertumbuhannya lebih bagus dan jarang sakit. Tidak sedikit bayi terserang diare akibat susu formula karena gula susu sapi (laktosa) pada beberapa bayi.

Susu formula di pasar kini banyak mengandung tambahan nutrisi berupa asam lemak, seperti AA dan DHA, yang dipercaya dapat mencerdaskan anak. Namun, bayi tidak memiliki kemampuan mencerna semua zat gizi tersebut. Pada bayi, produksi enzim belum sempurna untuk dapat mencerna lemak, sedangkan dalam ASI sudah disiapkan enzim lipase yang membantu mencerna lemak dan enzim ini tidak terdapat pada susu formula atau susu hewan. Lemak yang ada pada ASI dapat dicerna maksimal oleh tubuh bayi dibanding lemak yang ada pada susu formula, sehingga tinja bayi susu formula lebih banyak mengandung makanan yang tidak dapat dicerna oleh tubuhnya.

Komposisi yang terkandung dalam susu formula pun tidak pernah berubah, semuanya disamaratakan bagi setiap bayi dan pada tingkatan umur yang sama, walaupun kebutuhan bayi yang satu dengan yang lain amatlah berbeda. Kandungan lemak (AA dan DHA), karbohidrat, protein, vitamin, mineral, enzim, hormon, dan yang paling penting, zat antibodi, yang terkandung dalam ASI tidak akan didapatkan dalam susu formula mana pun.

Penambahan AA, DHA, dan spingomielin pada susu formula sebenarnya tidak merupakan pertimbangan utama pemilihan susu yang terbaik. Penambahan zat yang diharapkan berpengaruh terhadap kecerdasan anak memang masih sangat kontroversial. Banyak penelitian masih bertolak belakang untuk menyikapi pendapat tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan pemberian AA dan DHA kepada penderita prematur tampak lebih bermanfaat. Sementara itu, pemberian kepada bayi cukup bulan (bukan prematur) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna mempengaruhi kecerdasan. Dengan demikian, WHO hanya merekomendasikan pemberian AA dan DHA hanya kepada bayi prematur.

Tindakan Menteri Kesehatan yang lebih cenderung menggulirkan program mengedrop makanan pendamping ASI, saat menghadapi melambungnya harga susu, dibanding menggulirkan gerakan kembali ke ASI adalah keprihatinan tersendiri. ASI adalah satu-satunya yang baik untuk bayi. Ibu sebaiknya memahami soal susu formula sebelum memberikannya kepada bayi. Sangat disayangkan bahwa tidak semua ibu bisa memberikan ASI eksklusif. Banyak faktor yang mempengaruhi sang ibu sehingga tidak bisa menyusui anaknya. Salah satunya adalah masalah psikologis ibu pasca-melahirkan.

Kalau sudah begitu, jalan keluarnya adalah dengan memberikan susu formula. Padahal pemberian susu formula bagi bayi berumur di bawah 1 tahun tidak dianjurkan. Dokter menyarankan agar bayi diberi ASI sampai berusia 6 bulan, yang disebut dengan ASI eksklusif, dan tetap dilanjutkan sampai 2 tahun jika masih menyusui. Berkaitan dengan hal itu, para ibu perlu terus didorong agar memberikan ASI. Tempat kerja didorong agar memberikan kemudahan bagi para ibu untuk memberi ASI eksklusif. Penyediaan Pojok ASI (ruang yang nyaman dan privat bagi ibu untuk mengeluarkan ASI selama bekerja) adalah salah satu bentuk kepedulian dalam rangka menyelamatkan anak bangsa.

Sumber : Koran Tempo

About these ads

March 6, 2008 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,171 other followers

%d bloggers like this: