Bermain untuk Menyambung Saraf
Bermain untuk Menyambung Saraf
Rabu, 28 Januari 2009 | 10:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Belum hilang rasa penat setelah kerja seharian, setiba di rumah, Mulyo, 31 tahun, langsung terkejut melihat ruang makan bak kapal pecah. Dua kursi berhadapan dalam posisi jungkir balik, dan taplak meja tergeletak di lantai. Belum sempat berkomentar sepatah kata pun, terdengar suara buah hati, Daffa, 2,5 tahun, dalam lafal yang belum jelas. Ia meminta ayahnya menyingkir karena takut tertabrak “mobil”. Maklum, ia tengah mendorong kursi ke arah ayahnya. Kejadian ini bukan yang pertama kalinya. Bila bermain dengan ibunya pun Daffa menjadikannya sebagai kuda, sehingga sang ibu kelelahan karena harus terus merangkak dengan beban bocah di atasnya.
Perilaku anak seusia itu, menurut konsultan tumbuh-kembang anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Soedjatmiko, harus diapresiasi. Orang tua tak boleh sampai memarahi. Yang tepat, mereka semestinya dikoreksi. “Anak tidak boleh dihukum, karena mereka belum tahu,” ujarnya saat lokakarya bertajuk “Memaksimalkan Kecerdasan Anak Melalui Nutrisi yang Tepat dan Stimulasi (Floor Time)” di Balai Kartini, Jakarta, akhir pekan lalu.
Soedjatmiko menyatakan apa pun yang dilakukan anak selalu mulai dengan pertanyaan. “Dan itulah konsep floor time,” katanya. Hematnya, floor time dilakukan selama 20-30 menit bersama anak. Langkahnya berupa bermain dan berinteraksi. Cara ini dapat diulang beberapa kali per hari. Yang penting orang tua mengikuti kemauan anak berinteraksi dan menyesuaikan usia perkembangannya.
Bagi bayi usia 0-12 bulan, yang secara verbal belum jelas, dapat dirangsang inteligensinya lewat kontak mata. Menurut spesialis saraf anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Dwi Putro Widodo, pada umur 36 minggu hingga 4 bulan, fungsi penglihatan berkembang. Ia menambahkan, penglihatan bagian dari kecerdasan dan perkembangan otak. “Penglihatan merupakan jendela perkembangan kemampuan inteligensi,” ia menambahkan seusai diskusi.
Ketika bayi menginjak usia 6 bulan, Soedjatmiko menyebutkan, bisa dirangsang dengan aksi menutup mainan kerincingan dengan sapu tangan. Anak pada usia ini bakal kelimpungan mencari kerincingan karena dianggap hilang. Stimulasi lain, mengangkat sapu tangan pelan-pelan, lalu tutup kembali, diulang hingga tiga kali. Hal ini efektif merangsang fungsi saraf kognitif si bayi. “Pada usia 9 bulan atau lebih dapat menggunakan puzzle,” katanya.
Pada tahap selanjutnya, usia 1-3 tahun, imajinasi anak lebih luas lagi. Misalnya Daffa, yang menganggap ibunya kuda. Menurut Soedjatmiko, biarkan si anak memegang peranan. Yang jelas, orang tua harus ikut bergerak dan bekerja sama. Hal itu membuat anak merasa diperhatikan, dihargai pendapatnya, serta percaya diri.
Soedjatmikoa menjelaskan usia nol sampai tiga tahun adalah masa emas dalam mengoptimalkan perkembangan otak. Nah, stimulasi yang diberikan bisa merangsang terbentuknya hubungan antarsel otak yang belum terhubung menjadi sempurna. Kekuatan dan jumlah hubungan baru antarsel saraf ini menjadi dasar memori pada manusia yang kelak akan membantu dalam proses belajar.
Di samping stimulasi, nutrisi berperan penting dalam memaksimalkan kecerdasan otak. Nutrisi terbaik adalah air susu ibu (ASI). Ada banyak zat gizi dalam ASI yang diperlukan buat perkembangan otak yang sehat, antara lain protein dan asam amino, AADHA, gangliosida (GA), dan kolin. Menurut Dwi, GA dan AA-DHA adalah nutrisi utama dalam ASI. Gangliosida berfungsi menghubungkan sel otak satu dengan yang lain. Semakin banyak yang terhubung, semakin optimal fungsi otaknya. AA-DHA juga mempengaruhi ketajaman penglihatan dan daya ingat. “Penyimpanan informasi sangat penting dalam menopang belajar,” Dwi menjelaskan. Protein dan asam amino juga mempengaruhi konsentrasi, emosi, dan pengendalian diri.
Selain kedua entitas tersebut, kecerdasan otomatis terkait dengan genetik. Secara genetik, perkembangan otak itu rapi, teratur, dan bertahap sesuai dengan umur kronologis. Nah, tiap-tiap area di otak memiliki kurva pertumbuhan dan puncaknya sendiri-sendiri, serta saling berhubungan. “Makanya ada kecerdasan matematika, sosial, dan olahraga,” ujar Dwi. Meski begitu, Dwi menilai genetik tidak banyak pengaruhnya.
Sejatinya, stimulasi pada anak diberikan sejak dalam kandungan. Pada delapan minggu kehamilan janin—saat otak tubuh dan berkembang—janin sudah bisa diajak berinteraksi dengan mendengar dan merasakan aktivitas sang bunda.
HERU TRIYONO
Sumber : Tempo
Kandungan ASI Lebih Stabil ketimbang Susu Formula
MUNGKIN tak ada susu apapun di dunia ini yang kandungannya bisa menyamai air susu ibu (ASI). Kelengkapan gizi dan nutrisi yang dimilikinya memungkinkan si bayi bisa bertahan hidup, tanpa harus mengasup makanan pendamping lainnya.
Salah satu kandungan penting dalam ASI adalah kolostrum. Zat ini berfungsi melindungi bayi dari berbagai penyakit. Dalam kolostrum terdapat protein, vitamin A, karbohidrat, dan lemak rendah yang berguna bagi bayi di hari-hari pertamanya.
Selain kolostrum, ASI juga mengandung taurin, decosahexanoic acid (DHA), dan arachidonic acid (AA). Ketiga kandungan tersebut sangat diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak bayi.
Memang, beberapa susu formula sudah memasukkan komposisi ini. Cuma, menurut ahli gizi Universitas Indonesia Susianto, kandungan gizi dalam susu formula seringkali tidak stabil karena adanya perubahan suhu. Maklum, biasanya, kandungan DHA dan AA dalam susu formula diambil dari ikan. “Kalau kandungan gizi di ASI pasti stabil,” katanya.
Kelebihan utama ASI lainnya yang tak dimiliki oleh susu lainnya adalah zat imunologik. ASI mengandung zat antiinfeksi yang bersih dan bebas kontaminasi. Zat imun itu ada pada immunoglobulin, sekretori, dan laktoferin.
Zat immunoglobulin yang terdapat dalam kolostrum berfungsi mencegah terjangkitnya penyakit pada bayi. Lalu, zat sekretori yang dapat melumpuhkan bakteri patogen e-coli serta berbagai virus pada saluran pencemaan. Sementara laktoferin, sejenis protein, merupakan komponen zat kekebalan yang berfungsi mengikat zat besi di saluran pencemaan.
Meski kandungan gizi dalam ASI-begitu banyak, zat-zat tadi bakal mudah terserap tubuh bayi. Kandungan protein whey memudahkan penyerapan lebih besar dibandingkan susu sapi atau susu formula.
Menurut Dokter Mulyadi dari Medizone Clinic, komposisi gizi yang ada di ASI sebenarnya tak akan berbeda antara ibu yang satu dengan ibu yang lainnya. Tapi, apa yang dikonsumsi oleh sang ibu memang akan memberi pengaruh, baik ke kualitas gizi maupun rasa ASI itu sendiri.
Makanya, ibu yang tengah menyusui sangat disarankan untuk menjaga pola makannya. Artinya, jangan sampai kurang dan harus bergizi. Selain itu, makanan dengan citarasa yang kuat seperti asam atau pedas juga sebaiknya dihindarkan dulu.
Karena, makanan jenis itu akan membuat rasa ASI tidak enak untuk bayi. Meminum banyak air putih dan susu bagi ibu menyusui juga sangat dianjurkan. Selain demi menjaga asiupan ASI terhadap bayi, makanan jenis itu sangat berguna untuk menjaga kesehatan sang ibu sendiri. (Epung Saepudin, M.D. Novita)
Sumber : Kompas
Inilah Tips Seputar Pemberian ASI

Sejatinya, memberi asupan ASI pasta melahirkan bisa menjadi sebuah proses yang tidak mudah bagi seorang ibu. Tubuh dan psikologis ibu bisa jadi masih sangat lelah. Oleh karena itu, harus ada dukungan suami. “Dukungan suami untuk memberi ASI eksklusif sangat diperlukan. Itu juga menentukan sukses tidaknya memberikan ASI eksklusif,” kata Dokter Mulyadi dari Medizone Clinic.
Jaga makan, jauhi obat pelangsing
Suami disini bisa berperan sebagai partner sang ibu dalam mengurus bayi. Dengan demikian, ibu bisa mempunyai tenaga dan gizi yang cukup untuk memberikan ASI. Agar kuat mengalirkan ASI, seorang ibu juga perlu menjaga pola makannya. Untuk awal-awal bulan, sebaiknya ibu tak terlalu merisaukan perubahan tubuh. Yang penting, asupan gizi untuk bayi cukup. Bila tak mau badan melar terlalu besar, sang ibu bisa mengatur jam makan dan jumlah kalori yang bakal dikonsumsi. Asalkan tetap kenyang.
Yang tak kalah penting, setelah bersalin ada baiknya ibu juga beraktifitas. Tapi, olahraga ringan baru boleh dilakukan setelah enam minggu. Jauhi obat pelangsing karena akan memperburuk kualitas ASI.
Makin tegang, makin susah keluar
Banyak orang bilang, proses menyusui akan terjadi secara alamiah. Meski begitu, Dokter Mulyadi dari Medizone Clinic memberi beberapa tips agar ibu bisa sukses memberi ASI untuk bayinya. Pertama, tangan ibu harus bersih. Kedua, ibu harus santai. Kalau sang ibu tegang, ASI akan sulit untuk keluar.
Dokter Mulyadi menyarankan ibu menyusui dengan posisi duduk. Pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan, berikan ASI selama 5-10 menit lewat setiap payudara. Pada hari selanjutnya bisa ditambah hingga 15-20 menit untuk setiap payudara. “Secara insting si bayi pasti bisa menemukan puting susu si ibu,” kata Susianto, ahli gizi dari Universitas Indonesia
Cara menyusui yang benar adalah puting susu masuk seluruhnya ke dalam mulut bayi. Ini juga salah satu cara mencegah puting susu tidak lecet. Bila bayi sudah kenyang, tekan dagu bayi agar mulut terbuka dan puting susu terlepas. Atau bisa juga dengan cara memasukkan jari kelingking ibu ke dalam mulut bayi. Yang pasti, jangan menarik keluar puting dari mulut bayi secara mendadak.
Konsumsi katuk agar aliran lancar
Kemampuan menyusui setiap ibu itu berbeda-beda. Ada yang kapasitas ASI-nya begitu banyak, ada pula yang hanya sedikit. Bagi mereka yang kandungan ASI-nya sedikit tau perlu risau. Ada beberapa tanaman yang bisa mamcu produksi ASI salah satunya daun katuk.
Daun katuk adalah daun dari jenis tanaman Sauropus adrogynus (L) Merr, famili Europhobiaceae. Sebutan lain daun katuk adalah memata (Melayu), simani (Minangkabau), kebing dan katukan (Jawa) serta kerakur (Madura). Manfaat daun katuk untuk memperbanyak ASI sudah dikuatkan beberapa penelitian. Seperti sat daun katuk diujicobakan ke kambing betina selama 15 hari, produksi susunya meningkat drastis hingga 1,5 kalinya.
Jika ingin alami, sebaiknya daun katuk direbus atau ditumbuk terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Tapi di zaman modern seperti saat ini, seperti dalam bentuk minuman sachet dicampur dengan susu, hingga dalam bentuk kapsul atau pil. Harganya juga cukup terjangkau.
(Kontan/Epung Saepudin)
Sumber : Kompas
-
Archives
- September 2009 (5)
- August 2009 (9)
- July 2009 (5)
- June 2009 (3)
- May 2009 (5)
- April 2009 (7)
- March 2009 (8)
- February 2009 (2)
- January 2009 (7)
- December 2008 (4)
- November 2008 (4)
- October 2008 (16)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS

