ASI ( Air Susu Ibu )

- more fresh… HEALTHIER and free -

Breastfeeding Improves Positive Parenting Practices And Brings Up Well Adjusted Kids

Monday, March 30, 2009 at 11:20:46 AM

Researchers say traditional parenting methods such as breastfeeding, discipline are likely to bring up well adjusted kids.

In the study involving 1,136 mothers, the researchers found that breastfeeding is associated with more positive parenting practices that can continue beyond infancy.

According to the Institute of Education in London, breastfeeding for at least six months not only helps improve mother-child relationships, it also boost kids’ and educational development.

While studying mothers reading a storybook to their one-year-old children, lead researcher Dr Leslie Gutman found that those who breastfed made more effort to engage their infants in the book than mothers who bottle-fed.

Moreover, they appeared to have a warmer relationship with their babies.

Low-income mothers who bottle-fed their babies tended to communicate with them much less.

Many mothers give up breastfeeding because they do not feel supported enough or they return to work.

“Breastfeeding is a time-consuming activity and mothers can be tempted to put their babies on the bottle earlier if they feel they have to return to work for financial reasons,” the Telegraph quoted Gutman as saying.

“Mothers are given information leaflets in hospitals about breastfeeding but we may need more than this. Another option is workplace nurseries where mothers could go and feed their babies during the day,” Gutman added.

Another experiment showed over the period of four years mothers who had been on a low income when their child was one, but had breastfed for more than six months, had a higher quality of interaction with their five-year-old than other mothers.

Source-ANI
ARU/L

Source : MedIndia

March 31, 2009 Posted by Administrator | Article | | No Comments Yet

ASI Bukan Urusan Ibu (Saja)

Langkah menyusui tidak berbanding lurus dengan pengetahuan dan niat ibu.

Gencarnya kampanye pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan membuat Siti, bukan nama sebenarnya, semakin bulat tekadnya memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Apalagi niat perempuan berusia 26 tahun itu didorong penuh oleh sang suami. Namun sebagai wanita kerja, ia harus puas selalu berada di sisi si kecil sepanjang hari hanya dua bulan. Sebenarnya jatah cutinya tiga bulan. Tapi karena ia mengambilnya sebulan sebelum melahirkan, maka saat si kecil berusia dua bulan, ia harus kembali bergelut dengan pekerjaan kantor.

Niatnya memberikan yang terbaik untuk si kecil tak surut. Sebelum ke kantor, dia selalu menyempatkan diri memerah ASI ke dalam botol. Selanjutnya, selama jam kerja, pemenuhan ASI diserahkan kepada mertua. Tentu saja sang nenek antusias mengemban tugas mulia ini. Setiap cucunya menangis, dia selalu sigap memberi ASI dari botol yang telah disiapkan.

Namun, suatu hari terjadilah awal petaka itu. Meski sudah diberi ASI, si cucu tetap rewel dan mengisap jempolnya dalam-dalam. Sang nenek pun berasumsi cucunya masih lapar. Karena tidak tega, ia memberi cucunya pisang dicampur air. Hal itu dilakukannya berulang kali tanpa sepengetahuan Siti. Orang tua ini tak paham bahwa pemberian makanan pendamping terlalu dini akan mengganggu pemenuhan ASI eksklusif, serta berdampak negatif terhadap kesehatan bayi.

Mencapai target pemberian ASI eksklusif memang tak hanya bergantung kepada si ibu. Konselor laktasi Kemang Medical Care, Esthetika Wulandari, menyatakan, langkah ibu juga harus didukung pihak lain, termasuk nenek. Problemnya, tindakan orang tua kadang tak sejalan, termasuk dalam soal waktu pemberian makanan pendamping. “Alasan mereka, pada zaman ibu dulu, bayi dikasih pisang juga tidak mati,” ujar Tika–sapaan akrab Esthetika– dalam diskusi mengenai ASI eksklusif di Kantor Pusat Unilever Jakarta, Jumat pekan silam.

Sederet ketidakpahaman orang tua membuat para ibu muda tak melangkah maju dalam urusan ASI. Apalagi kaum sepuh ini memiliki pendidikan rendah, pengetahuan terbatas, dan tradisi keluarga yang masih kuat. Bukan cuma soal pemberian makanan pendamping, para orang tua dulu menilai, misalnya, menyusui cukup tiga bulan. “Jika seorang ibu memproyeksikan seperti itu, maka sang anak (yang telah menjadi ibu muda) akan terbawa,” Tika menjelaskan. Untuk itu, perlu tekad kuat si ibu dalam membuat keputusan menyusui eksklusif. “Keputusan itu harus dimulai dari awal kehamilan.”

Tika pun memberi sejumlah tip. Sebelum kelahiran bayi pasangan muda ini, ia sarankan untuk menetapkan tujuan bersama, yakni memperjelas pembagian peran masing-masing. Meski terkadang si ibu tetap sangat rentan dilanda kejenuhan. Dalam fase ini, adalah tugas sang ayah membuat suasana menjadi kondusif kembali. “Misalnya dengan membolehkan istri jalan-jalan ke mal seharian,” Tika mencontohkan. Ia menambahkan, para pria jangan menjadi ayah yang memiliki persepsi bahwa menyusui adalah urusan istri semata, sehingga istri pun menanggung segala beban dan risiko.

Patut diingat pula, kata Tika, menjadi seorang ibu adalah babak baru yang mendebarkan, serta sumber stres seorang perempuan–dari bentuk tubuh yang tidak lagi ideal, tekanan suami, orang tua, dan keluarga, hingga tugas ganda bekerja dan mengurus anak. Karena itulah, niat menyusui menjadi tidak berbanding lurus dengan pengetahuan dan tekad sang ibu. “Lingkungan sosiologis dan psikologis mempengaruhi keputusan mereka (ibu),” ujarnya.

Yang jelas, menurut konsultan yang tinggal di kawasan Halim itu, keputusan ibu untuk menyusui dipengaruhi cerita anggota keluarga, pendapat suami, serta konsultan laktasi. Selain itu, suasana tempat kerja pun menjadi faktor yang tak bisa dianggap sepele. Saat ini hanya beberapa perusahaan yang menyediakan fasilitas ruangan bayi, sehingga sang ibu bisa bekerja sembari momong si kecil.

Spesialis anak dan konsultan laktasi, dr Edi Setiawan Tehuteru, SpA, menyatakan, keluarga seharusnya paham perilaku si kecil. Dalam kasus Siti, misalnya, saat si kecil mengisap jempolnya, si nenek mengira cucunya lapar. Padahal, sebenarnya itu hanya gerakan refleks semata. “Lagi pula pengosongan lambung itu berlangsung 2-3 jam,” Edi menegaskan. Pada beberapa kasus, hal ini bisa menyebabkan sang ibu menjadi depresi dan mempengaruhi produksi ASI.

Sejumlah penelitian pun telah membuktikan, keberhasilan menyusui sangat ditentukan oleh lingkungan sosial. Satu di antaranya adalah disertasi doktor bidang nutrisi Universitas Indonesia, Judhiastuty Februhartanty, pada awal 2008. Karyanya yang berjudul Peran Ayah dalam Optimalisasi Praktek Pemberian ASI: Sebuah Studi di Daerah Urban Jakarta bisa dijadikan referensi. Disimpulkan Judhiastuty, untuk memenuhi ASI eksklusif, harus ada keharmonisan hubungan pola menyusui tripartit, yaitu antara ayah, ibu, dan bayi.

Penelitian Nia Afriana dari program studi ilmu kesehatan masyarakat Universitas Indonesia pun layak disimak. Dalam tesis yang berjudul Analisis Praktek Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja di Instansi Pemerintah di DKI Jakarta Tahun 2004, Nia menegaskan, proporsi ibu bekerja yang menyusui eksklusif lebih banyak didapati pada kelompok ibu yang mendapat dukungan dari keluarganya. Sayangnya, menurut data Badan PBB untuk Dana Anak-anak (Unicef), pemberian ASI eksklusif di Indonesia cuma 40 persen. Angka itu masih jauh dari target nasional, yaitu 80 persen. Berarti, perlu tekad yang lebih serius! HERU TRIYONO

Langkah Menuju Sukses

1. Sang ibu benar-benar berniat menyusui eksklusif.

2. Sebelum kelahiran, suami dan istri menetapkan pembagian peran.

3. Jangan berasumsi apa yang ibu butuhkan sebelum bertanya.

4. Berbagi pengetahuan guna mendapat bantuan dan dukungan keluarga.

5. Sempatkan berkonsultasi dengan dokter atau konsultan laktasi anak. l

Sumber : Koran Tempo

March 30, 2009 Posted by Administrator | Article | | No Comments Yet

Cara Tepat Menyusui Bayi Mungil Anda

Ada caranya agar produksi ASI lancar. Sehingga si kecil pun mendapat ASI eksklusif.
Jum’at, 27 Maret 2009, 07:55 WIB
Petti Lubis
(doc Corbis)

Yang paling ditakuti, adalah luka akibat menyusui. Puting yang luka pada masa menyusui biasanya disebabkan oleh praktek menyusui yang kurang tepat atau adanya perlukaan dan infeksi akibat gigi bayi. Keadaan ini tentunya harus diperiksa oleh dokter agar mendapatkan pengobatan  tepat. Bila perlukaan cukup luas dan masih bernanah, sebaiknya Anda tidak menyusui.

Namun demikian, ASI tetap harus dikeluarkan agar tidak terjadi penumpukan ASI di dalam payudara. Penumpukan ini dapat menyebabkan pembengkakan dan sakit pada payudara, bahkan demam. Pengeluaran ASI juga perlu untuk menjamin produksi ASI yang langgeng. Dan Anda pun masih dapat menyusui kembali setelah infeksi sembuh.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya perlukaan pada puting, di antaranya adalah:

- Tempatkan gusi bayi pada areola (daerah berwarna lebih gelap di sekitar puting) sehingga seluruh puting berada di antara lidah dan langit-langit di dalam mulut bayi.

- Sebelum menyusui, tekan payudara dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengeluarkan beberapa tetes ASI. Oleskan tetesan ASI tersebut pada seluruh permukaan puting dan areola payudara. Dengan begitu, puting dan areola tidak mudah lecet dan terhindar dari infeksi. Campuran ASI, air liur, dan produk cairan dari kelenjar montgomery yang ada di daerah areola bermanfaat mematikan mikroorganisme.

- Langkah yang sama sebaiknya juga dilakukan setelah menyusui.

Agar produksi ASI lancar, sebaiknya berlangsung seimbang. Misalnya, jika Anda lebih sering menyusui dengan payudara kanan, produksi ASI di payudara sebelah kiri bisa terhenti. Pasalnya, payudara kiri kurang rangsangan untuk memproduksi ASI. Proses menyusui sebaiknya berlangsung seimbang antara payudara kiri dan kanan sehingga keduanya sama-sama menerima rangsangan yang sama untuk memproduksi ASI.

Sumber :  VIVAnews

March 28, 2009 Posted by Administrator | Article | | No Comments Yet