Alergi, Cegah dengan ASI Eksklusif
| Thursday, 21 May 2009 | |
| JIKA tidak ditangani, alergi akan menghambat proses perkembangan anak.Sebab itu,atasi sejak dini penyakit alergi yang bisa dilakukan dengan pemberian ASI Eksklusif.
Ketua Divisi Alergi-Imunologi Bagian Ilmu Kesehatan anak FKUI-RSCM, Dr Zakiudin Munasir SpA (K) menuturkan, tidak sedikit orang yang menyepelekan alergi sehingga ketika periksa ke dokter, kondisinya menjadi lebih parah. ”Alergi akan memengaruhi kualitas hidup seseorang, baik pada orang dewasa maupun anakanak,” sebut Zakiudin.
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa susu menjadi golongan makanan yang memengaruhi timbulnya alergi. Susu sapi merupakan protein asing utama bagi bayi pada bulan-bulan awal kehidupan yang dapat menimbulkan reaksi alergi pertama. Karena fungsi ususnya belum sempurna,protein susu sapi tidak bisa dipecah dengan sempurna. ”Sekitar 4,1 % alergi terjadi karena konsumsi susu,” ujarnya. Pencegahan bisa dilakukan dengan melakukan eliminasi makanan alergen, yaitu dengan mengganti dengan makanan yang senilai untuk mencegah malanutrisi. ”Umumnya, alergi makanan akan menghilang dalam jangka waktu tertentu, dan pencegahan sejak dini bisa dilakukan dengan pemberian ASI eksklusif,” ucap dokter kelahiran Mojokerto, 14 Agustus 1953. Sedangkan untuk mencegah anak yang lahir dari orang tua yang mengidap alergi bisa dilakukan dengan probiotik. Probiotik adalah bakteri hidup yang memiliki efek menguntungkan untuk menguatkan dan meningkatkan kesehatan flora usus. Probiotik merupakan salah satu cara yang dapat membantu mengurangi risiko alergi. “Konsumsi probiotik pada ibu hamil dapat meningkatkan daya tahan ibu yang juga akan berpengaruh baik pada janin,” ujar dokter lulusan Universitas Indonesia ini.Selain itu,ibu hamil juga harus menghindari pencetus alergi atau alergen saat mengandung. Ibu hamil sebaiknya sadar akan pencetus alergi dan menghindarinya. Namun, kemungkinan anak mengidap alergi masih dapat terjadi ketika anak lahir. Untuk itu, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan atau lebih diperlukan agar anak memiliki daya tahan tubuh yang baik dan mengurangi terpaparnya risiko alergi dan infeksi. ASI mengandung zat gizi lengkap yang dibutuhkan bayi termasuk hypo allergenik,DHA,dan probiotik. Nilai lebihnya ASI mengandung kolostrum yang dapat melindungi bayi dari alergi dan infeksi. Namun, ada kondisi ketika seorang ibu tidak dapat memberikan asupan ASI maksimal.Di antaranya karena pembengkakan dan peradangan payudara hingga produksi ASI berkurang. Untuk meningkatkan jumlah probiotik dalam ASI, ibu yang sedang menyusui bisa mengonsumsi yoghurt, tempe, miso, atau buttermilk. Dikatakan oleh ahli alergi imunologi dari Divisi Alergi Imunologi Klinik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam dari RSCM,Dr Iris Rengganis SpPD, KAI bahwa alergi mempunyai banyak penyebab walaupun lebih besar terjadi karena faktor genetik. Akan tetapi mengatasi dengan mengenal tanda-tanda alergi terlebih dahulu terhadap makanan juga perlu dilakukan orang tua. ”Orang tua harus mengenali anak yang alergi terhadap makanan dengan mengenal gejala dan segera tangani dengan membawanya ke dokter,”ujarnya. (inggrid namirazswara) Sumber : SINDO
|
ASI dan Ibu Bekerja
Yunita R. Rovroy
06-05-2009
Jika diberi informasi dan bimbingan lebih baik, maka ibu akan memberi bayinya lebih sering dan lebih lama Air Susu Ibu atau ASI. Demikian hasil penelitian majalah kedokteran Belanda, Nederlands Tijdschrift voor Geneeskunde.
Setelah melahirkan, 78 persen perempuan Belanda memberi bayi mereka ASI. Dibandingkan dengan negara-negara lain, persentase ini relatif rendah.
75 dari 78 persen itu kemudian berhenti memberikan ASI sebelum bayi berusia empat bulan.
Padahal pemberian air susu ibu membawa dampak bagus bagi anak maupun ibu. Si anak lebih baik dilindungi dari infeksi, penyakit alergi, obesitas dan diabetes.
ASI juga bisa mempererat hubungan antara ibu dan anak.
Tapi kalau demikian, mengapa kebanyakan ibu berhenti pemberian ASI sebelum atau setelah anaknya berusia empat bulan?
Alasan utama adalah kecemasan terhadap pertumbuhan bayi dan masalah yang dialami semasa pemberian ASI, misalnya payudara terasa sakit.
Kurniawaty, ibu seorang anak berusia 11 bulan, memberi anaknya ASI selama kurang lebih tiga bulan. Dan pemberian ASI itu dimulai sejak bayinya lahir. Mengapa ia kemudian memutuskan berhenti?
“Anak saya menyusu hanya sebentar saja. Saya takut asupan ASI tidak cukup. Lalu saya memutuskan untuk memberi anak saya susu formula saja.”
Supply and demand
Tapi menurut Mia Sutanto dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia AIMI, si ibu sebenarnya tidak perlu khawatir ASInya tidak cukup.
“ASI itu produksinya berdasarkan prinsip supply and demand. Itu satu. Jadi semakin sering disusui, semakin sering ASI dikeluarkan dari payudara, semakin sering payudara dikosongkan, produksi ASI justru akan semakin banyak.”
Tapi, demikian Mia, kelancaran air susu ibu juga sangat ditentukan oleh kondisi mental sang ibu.
“Seandainya ibunya sudah merasa khawatir, ragu, cemas, takut bahwa ASInya sedikit dan tidak bisa mencukupi kebutuhan bayinya, otomatis ASI pasti akan sedikit.”
Tapi sebaliknya, seandainya si ibu merasa percaya diri, tenang, nyaman dan bahagia menyusui bayinya dan percaya diri bahwa ASInya pasti cukup untuk bayinya, otomatis pasti cukup, kata Mia Sutanto.
Selain kekhawatiran ASI tidak cukup, bagi Kurniawaty kendala utama lain adalah kembali bekerja di luar rumah. Baginya tidak mungkin melanjutkan pemberian ASI karena sulit memerah ASI di tempat kerja.
“Saya bekerja di toko penjual pakaian. Di sana waktu beristirahat berbeda-beda jamnya. Kalau lagi butuh orang, karena pelanggannya banyak misalnya, saya diminta membantu teman sekerja saya. Saya misalnya harus mengambil sepatu atau pakaian. Jadi hampir tak mungkin menikmati waktu istirahat setengah jam penuh.”
Lain halnya dengan Sunarsih. Ia tetap melanjutkan pemberian ASI setelah kembali bekerja. Alasannya: tempat kerjanya tidak jauh dari rumah.
“Saya sebagai pekerja swasta, jadi waktu menyusui itu saya bisa memerah ASI dulu dan susunya bisa disimpan di kulkas. Kalau sudah waktunya untuk menyusui, saya kembali lagi ke rumah.”
ASI yang disimpan di kulkas bisa bertahan sampai dengan lima hari. Tapi kalau disimpan di dalam freezer itu bisa tahan lebih lama lagi, kata Mia Sutanto.
“Seandainya disimpan di dalam freezer yang satu pintu dengan kulkas, itu bisa tahan dua sampai tiga minggu. Kalau disimpan di freezer yang pintunya dua, jadi terpisah dari kulkas, bisa tahan empat sampai lima bulan. Tapi seandainya disimpan dalam freezer khusus untuk daging dan sebagainya, itu bisa tahan enam bulan sampai satu tahun.”
Pentingnya ASI
Organisasi Kesehatan Dunia WHO memang menganjurkan bayi hanya diberikan ASI saja sampai berusia enam bulan. Kemudian setelah enam bulan bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI atau solid.
Pemberian ASI kemudian diteruskan sampai si bayi berusia dua tahun atau lebih.
Lalu apa pentingnya pemberian ASI eksklusif?
“Dunia kedokteran menemukan, setelah dilakukan beberapa research, bahwa memang kondisi optimal pencernaan bayi untuk bisa menerima makanan atau asupan lain selain ASI adalah setelah dia berusia enam bulan.”
Dengan kata lain, bayi pada saat usia 0 sampai enam bulan hanya bisa mencerna dan menyerap ASI.
Jadi, demikian Mia, memang yang paling optimal adalah bayi 0 sampai 6 bulan hanya diberikan ASI.
“Yang kedua, selama pemberian ASI 0 sampai 6 bulan, seluruh kebutuhan nutrisi, gizi dan kalori sudah bisa memenuhi sebesar 100% dari ASI. Jadi sebenarnya tidak perlu ditambahkan dengan yang lain-lain. Hanya cukup memberikan ASI saja.”
Penelitian juga menunjukkan bayi yang diberikan ASI eksklusif akan mendapatkan perlindungan yang optimal di kemudian hari terhadap berbagai gangguan penyakit, antara lain alergi, infeksi saluran pernafasan dan infeksi saluran pencernaan.
Sumber :
Posisi Tepat Perlancar ASI
| Thursday, 30 April 2009 | |
| BANYAKmanfaat yang diberikan dari adanya program inisiasi menyusu dini (IMD).Tak hanya untuk si kecil, IMD juga bermanfaat untuk ibu.
Karena itu, posisi yang tepat saat menyusui sangat memengaruhi lancarnya ASI. “Menyusui itu, mudah tetapi terkadang sulit dilakukan.Tetapi walaupun begitu, saya akan terus memberi ASI karena saya tahu persis efek dan kandungan dari ASI,” cerita artis yang baru saja melahirkan anak keduanya,Mona Ratuliu, saat menceritakan mengapa ia melakukan IMD.
Bagi ibu,inisiasi dini bermanfaat untuk meningkatkan hubungan khusus ibu dan bayi, merangsang kontraksi otot rahim sehingga mengurangi risiko perdarahan sesudah melahirkan,memperbesar peluang ibu untuk memantapkan dan melanjutkan kegiatan menyusui selama masa bayi serta mengurangi stres ibu setelah melahirkan. “Selain itu, inisiasi juga dapat mengurangi risiko osteoporosis, menurunkan berat badan lebih cepat, mengatur jarak kehamilan berikut secara alami serta secara alami dan membentuk ikatan emosional antara ibu dan bayi,” ucap dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Puri Indah Jakarta, Dr Jeanne Roos Tikoalu SpA. Kehadiran buah hati di dalam rumah tangga memang menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri untuk setiap pasangan,di mana dipercaya bahwa anak menjadi salah satu acuan sebuah rumah tangga bahagia atau tidaknya. Setelah 9 bulan lamanya sang ibu mengandung, tentunya bukan berarti segala sesuatu atau tugas dari seorang ibu sudah terselesaikan, justru sebaliknya. Bagi beberapa pasangan yang baru menikah mungkin akan sedikit mengalami kesulitan dalam merawat bayi, tentang bagaimana langkah yang baik dalam memijat bayi, memandikan bayi, ataupun menyusui.“Pelekatan adalah kunci keberhasilan pada bayi yang menyusui. Sebab itu, posisi sangat memengaruhi kelancaran ASI,” kata Jeanne. Ia menjelaskan, semakin sering menyusui,maka produksi ASI pun akan semakin banyak.Dan dengan posisi tepat pada saat bayi menyusu,maka ASI pun akan lebih lancar keluar.Bayi menyusu bukan pada puting,tetapi pada payudara. Jika ASI tidak dikeluarkan, maka akan menimbulkan payudara menjadi penuh (refelks balik inhibitor). Oleh sebab itu,untuk mencegah terjadinya inhibitor, maka yang perlu dilakukan selain dengan melekatkan bayi yang tepat dan dengan sering menyusui juga dengan menyusui bayi sesering mungkin selama bayi mau dan membiarkan bayi selesai menyusu dengan sendirinya. Posisi yang tepat itu adalah bayi dekat dengan ibu sehingga dagu bayi menempel pada payudara ibu dan dada bayi menempel pada dada ibu.Posisi telinga bayi berada pada satu garis lurus dengan tangannya “Sangga tubuh bayi dan arahkan wajah bayi menghadap ke payudara ibu dengan hidung bayi berada di depan puting payudara,” ucapnya. (inggrid namirazswara) Sumber : SINDO
|
-
Archives
- December 2009 (5)
- November 2009 (1)
- September 2009 (6)
- August 2009 (10)
- July 2009 (5)
- June 2009 (3)
- May 2009 (5)
- April 2009 (7)
- March 2009 (8)
- February 2009 (2)
- January 2009 (7)
- December 2008 (4)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
