ASI Dan Tumbuh Kembang Anak
| Thursday, 23 July 2009 | |
|
ASI (air susu ibu) dan imunisasi punya peranan penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara maksimal.Asalkan,imunisasi dilakukan secara teratur dan ASI diberikan hingga anak berusia 6 bulan. ”Berikan bayi ASI sejak bayi lahir sampai 6 bulan pertama dan dilanjutkan hingga 2 tahun,”ucap Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI),Dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi,Sp A,MARS. Memang,ASI kaya akan berbagai nutrisi penting dan bisa memperkuat daya tahan tubuh yang dibutuhkan bayi untuk masa pertumbuhan. Partiwi menjelaskan bahwa setiap ibu berpotensi menyusui bayinya. Namun,banyak orang menduga bahwa menyusui adalah proses yang bersifat alamiah dan tidak perlu dipelajari. Tuhan memang memberikan sarana kepada wanita untuk bisa menyusui, tetapi menyusui perlu persiapan jauh sebelum kelahiran sehingga proses menyusui dan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dapat dilakukan. ASI adalah cairan biologis kompleks yang bersifat spesifik dan mengandung semua nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan anak, yang disesuaikan dengan keperluan, laju pertumbuhan, dan kebiasaannya menyusu. ”Bayi memperoleh nutrisi terbaik, perlindungan terhadap infeksi dan stimulasi sejak dini dari proses menyusui,” tuturnya di acara Temu Media yang mengambil tema ”Peran Air Susu Ibu (ASI) dan Imunisasi untuk Masa Depan Anak Indonesia yang Sehat dan Berkualitas’’ di Jakarta, beberapa waktu lalu. Pada awal kehidupan bayi, fungsi saluran pencernaan belum sempurna.Beberapa enzim dihasilkan untuk mengolah makanan yang dikonsumsi, dan enzim tersebut akan sempurna setelah bayi berusia 16 minggu. Dalam ASI telah tersedia berbagai macam enzim yang akan membantu proses penyerapan ASI. Seperti zat kekebalan seperti b dan Imunoglobulin (Ig) A sekretorik juga terdapat di dalam ASI, membuat bayi yang mendapat ASI jarang mengalami infeksi pencernaan. ”Faktor yang menentukan kecerdasan anak sebagian ditentukan oleh genetik atau keturunan dan sebagian lagi ditentukan oleh makanan, stimulasi, pendidikan dan lainnya,” tutur dokter lulusan Universitas Indonesia dengan spesialisasi neurologi anak ini. Selanjutnya,Partiwi juga mengatakan di saat menyusui banyak stimulasi yang diterima oleh seorang bayi. Proses inisiasi menyusui dini yang dilakukan di awal proses kehamilan, merupakan proses stimulasi yang melibatkan pancaindra bayi. Pelukan, belaian atau sentuhan yang diterima pada permukaan kulit bayi, suara ibu atau degup jantung ibu yang bervariasi akan memberi stimulasi tersendiri pada indera pendengaran bayi. Tatapan mata ibu pada bayi juga akan merangsang indra penglihatan yang akan memberi stimulasi khusus lainnya. Cairan lainnya yang juga sulit ditiru adalah variasi keasaman atau basa ASI akan memengaruhi rasa dan memberi stimulasi terhadap indera pengecap dalam mulut bayi sesuai yang dimakan oleh ibu. ”Yang terpenting adalah skin to skin contact,”dijelaskan Partiwi. Sementara itu, ketua Satgas Imunisasi IDAI Prof DR Dr Sri Rezeki S Hadinegoro,SpA (K),mengatakan bahwa selain ASI yang menjadi hal terpenting untuk kesehatan anak di masa depan adalah imunisasi. Imunisasi merupakan investasi kesehatan masa depan.Karena itu, menjadi tugas orangtua dan masyarakat untuk memberikan pelayanan kesehatan anak yang terbaik termasuk membantu melaksanakan program imunisasi nasional. ”Imunisasi dapat melindungi anak dari serangan berbagai penyakit,” tandasnya di acara yang sama. Sri menjelaskan, imunisasi juga dapat merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit. Pemberian imunisasi dan ASI sebenarnya merupakan suatu bentuk tanggung jawab orangtua untuk kehidupan kesehatan anak mereka. ”Setiap anak berhak untuk mendapatkan perlindungan yang dapat diperoleh dari pemberian imunisasi sehingga kesempatan mereka untuk belajar, bermain, dan beraktivitas bebas tanpa gangguan kesehatan yang seharusnya bisa diminimalisasi”,papar dokter yang juga merupakan Ketua Komite Nasional Penanggulangan & Pengkajian Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KOMNAS PP KIPI). Terdapat beberapa hal yang menghalangi dilakukannya imunisasi pada bayi yakni negara-negara berkembang sangat tertinggal dalam hal cakupan imunisasi, sulitnya menjangkau populasi yang tidak dapat terakses dan juga yang menolak imunisasi, adanya persepsi negatif terhadap imunisasi, kegagalan vaksin-vaksin baru dan desas-desus yang semuanya menjadi pertanyaan tentang keamanan imunisasi. ”Karena itu, edukasi kepada masyarakat melalui media penting dilakukan,”ujarnya.Pemikiran negatif atau pro dan kontra mengenai imunisasi sebenarnya bukanlah hal baru dan terjadi di berbagai negara sejak pertama diperkenalkan oleh Edwar Jenner di Inggris,pada awal 1800-an. Sri menjelaskan,masalah pemberian imunisasi biasanya muncul dalam hal keamanan. Hal ini sangat tergantung pada praktik di lapangan, misalnya vaksin tidak dikocok dengan benar,maka setelah disuntik jadi mengeras,sering terjadi kesalahan dalam menyimpan vaksin sehingga tidak bisa bekerja efektif. Di samping itu,harus diperhatikan juga cara penyuntikannya.Dalam hal ini pemerintah sudah memberi panduan imunisasi dan telah diketahui oleh semua petugas pelaksana imunisasi. ”Banyak ibu yang mengeluhkan, bahwa anaknya demam setelah dilakukan imunisasi, untuk menghindari terjadinya hal tersebut, sebaiknya ibu yang telah selesai melakukan imunisasi jangan mengambil tindakan langsung pulang, tetapi ditunggu 15 menit untuk memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa pada bayinya,” jelasnya.( inggrid namirazswara)
Sumber : SINDO |
Hadang Infeksi dengan ASI dan Imunisasi
Kamis, 23 Juli 2009 | 10:57 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta -Secara berturut-turut Daffa, 3 tahun, mendapat vaksin polio pada usia 2 , 4, 6, dan 18 bulan di Rumah Sakit Bunda, Jakarta. Daffa tinggal mendapat satu kali lagi vaksin polio ketika nanti berusia 5 tahun. Sebab, vaksin polio diberikan dalam lima tahapan.
Sang ibu, Leni, 31 tahun, juga memenuhi empat imunisasi dasar lain bagi Daffa. Sebut saja vaksin BCG, hepatitis B, DPT, dan campak. Kelak, Leni berpikir, tak akan ada tempat lagi buat penyakit tuberkulosis, polio, maupun campak yang menimpa buah hatinya. Apalagi dia juga memenuhi 6 bulan air susu ibu (ASI) eksklusif bagi Daffa. “Saya juga memberi Daffa imunisasi tambahan hepatitis A dan influenza,” ujarnya.
Leni termasuk ibu yang tahu arti penting ASI dan imunisasi bagi tumbuh kembang anaknya. Ia sejalan dengan Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia dr Badriul Hegar, SpA(K), yang mengatakan pemberian ASI dan imunisasi adalah hal yang sangat mendasar dalam rangka menurunkan angka kematian bayi dan balita serta membasmi berbagai penyakit infeksi.
“Masalah perinatal dan infeksi masih menjadi masalah kesehatan anak Indonesia,” ujar Hegar pada acara temu media bertajuk “Air Susu Ibu dan Imunisasi untuk Anak Indonesia yang Sehat dan Berkualitas” di Hotel Sahid kemarin siang.
Karena itu, dalam kesempatan yang sama Ketua Satuan Tugas ASI IDAI Dr I G. Ayu Partiwi, SpA, menggalakkan pemberian ASI eksklusif bagi bayi-bayi Indonesia. Susu ibu, kata Partiwi, mengandung semua nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan anak.
Susu ibu memiliki zat kekebalan, seperti Imunoglobin (lg)A sekretorik, yang membuat bayi jarang mengalami infeksi pencernaan. “Bayi memperoleh nutrisi terbaik, perlindungan terhadap infeksi, dan stimulasi sejak dini dari proses menyusui,” ujar Partiwi saat presentasi. Ia juga mengingatkan, memenuhi ASI eksklusif bukan berarti anak jadi tidak sakit sama sekali, melainkan tetap mesti disambung dengan imunisasi.
Ketua Satuan Tugas Imunisasi IDAI Prof Dr dr Sri Rezeki S Hadinegoro, SpA(K), mengatakan imunisasi merupakan investasi kesehatan di masa depan. Imunisasi merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit.
Anak yang mendapat imunisasi dasar lengkap akan terlindung dari sejumlah penyakit berbahaya. Imunisasi akan meningkatkan kekebalan tubuh sehingga si anak mampu melawan penyakit yang bisa dicegah vaksin tersebut. “Imunisasi juga mencegah penularan penyakit kepada orang-orang di sekitarnya,” ucap Sri saat menjadi pembicara.
Dalam diskusi yang sekaligus untuk memperingati Hari Anak Nasional ini, Sri mengatakan, apabila anak tidak memperoleh imunisasi, tubuhnya tak mempunyai kekebalan terhadap mikroorganisme ganas (patogen). Bahayanya lagi, si anak yang tidak mendapat imunisasi akan menyebarkan kuman-kuman ke orang sekitarnya, sehingga dapat menimbulkan wabah yang bisa meluas ke mana-mana. “Penyakit tetap berada di lingkungan masyarakat,” Sri menjelaskan. Meski begitu, dokter berkacamata ini mengakui imunisasi punya sejumlah kekurangan. Banyak masyarakat memiliki persepsi negatif soal imunisasi.
Sebenarnya masalah tersebut bergantung pada praktek para tenaga kesehatan di lapangan. Misalnya jika vaksin tidak dikocok dengan benar, setelah disuntik malah menjadi keras. Kemudian sering terjadi kesalahan dalam menyimpan vaksin, sehingga tidak bekerja dengan efektif. Di samping itu, Sri juga menyoroti cara penyuntikkannya. Contohnya vaksin tertentu mesti disuntik di lemak atau otot, atau di intrakutannya. “Kalau orang gemuk, ketebalan kulitnya berbeda. Jadi ada yang memakai jarum suntik khusus.”
Lebih dalam, untuk anak dengan autistik sebenarnya juga harus mendapat perlakuan khusus. Tenaga kesehatan di lapangan harus melihat sejauh apa si anak menderita kelainan sarafnya. Sebab, beberapa dari mereka, setelah mendapat vaksin tertentu, mengalami demam, kemudian malah kejang. Selanjutnya, menurut Sri, apabila anak yang alergi disuntik jatuh pingsan, harus berhati-hati untuk imunisasi berikutnya.
Lebih jauh Sri memaparkan, vaksin itu berisi mikroorganisme, zat pelarut, adjuvant, pengawet, dan zat untuk mencegah infeksi. Perlu perhatian pada penyimpanan, cara pemberian, dosis, jadwal, serta pencatatan dan pelaporan efek samping. Dalam hal ini, sebetulnya pemerintah sudah memberi panduan dan telah diketahui oleh semua petugas di lapangan. Vaksin baru (modern) pun pada umumnya lebih baik mutunya dalam menghasilkan antibodi dan lebih aman.
Bagaimanapun, setelah diberi imunisasi, si anak tetap masih mungkin terkena penyakit, meski jauh lebih ringan. Sejumlah literatur menunjukkan, kemungkinan serangan penyakit pada anak yang diberi imunisasi hanya 5-15 persen. Adapun efektivitas imunisasi sekitar 80-95 persen. Tetapi yang jelas, pemberian vaksin adalah upaya perlindungan terhadap bayi dan balita Indonesia agar memperoleh potensi hidup yang optimal. “Jumlah anak Indonesia sekitar 30 persen dari jumlah penduduk saat ini,” Hegar menjelaskan.
HERU TRIYONO
Manfaat ASI dan Imunisasi bagi Anak - ASI mengurangi risiko alergi dan infeksi lambung, usus, serta sembelit. - ASI memiliki kekebalan lebih tinggi terhadap penyakit. Misalnya jika si ibu sudah pernah terkena campak, antibodi sang ibu terhadap penyakit tersebut diteruskan kepada bayi melalui ASI. - Bayi dengan ASI lebih bisa menghadapi efek kuning. - Dengan imunisasi, bayi dan anak membentuk kekebalan melalui pertahanan nonspesifik dan spesifik. - Imunisasi meniru kejadian infeksi alami. - Imunisasi diperlukan untuk mencegah penyakit yang menyebabkan kematian dan cacat tubuh. Sumber : Tempo
Agar Sukses Bekerja dan Menyusui
| Thursday, 23 July 2009 | |
|
BAGI ibu yang bekerja, sebaiknya tetap memberikan ASI. Berikut beberapa cara untuk ibu bekerja agar sukses memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan: 1. Ibu mempersiapkan diri, berniat menyusui sejak hamil. 2. Menyediakan sarana ruang menyusui dan lemari es di lingkungan kerja. 3. Menyusui sesering mungkin dan semau bayi. 4. Sebaiknya hindari menggunakan botol saat menyusui. 5. Mencari dukungan dari lingkungan keluarga, teman, dan sahabat. 6. Jika ibu flu, jangan pernah berhenti untuk memberikan ASI, tetapi gunakan masker saat menyusui. Mengapa Imunisasi Diperlukan: 2. Imunisasi meniru kejadian infeksi alami. 3. Tubuh membentuk kekebalan melalui pertahanan nonspesifik & spesifik. 4. Imunisasi diperlukan untuk mencegah penyakit yang menyebabkan kematian dan kecacatan. 5. Guna memenuhi kewajiban hak anak. Dampak Jika Tidak Imunisasi : 2. Anak dapat meninggal atau cacat. 3. Anak akan menularkan penyakit ke anak/dewasa lain. 4. Penyakit tetap berada di lingkungan masyarakat.(inggrid) Sumber : SINDO |
-
Archives
- December 2009 (1)
- November 2009 (1)
- September 2009 (6)
- August 2009 (10)
- July 2009 (5)
- June 2009 (3)
- May 2009 (5)
- April 2009 (7)
- March 2009 (8)
- February 2009 (2)
- January 2009 (7)
- December 2008 (4)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
