Berikan ASI, Bukan Air Susu Ibu Sapi
Tiap makhluk memiliki karakteristik masing-masing, termasuk bayi manusia. Mengapa bayi Anda harus diberi susu dari ibu sapi?
Hidayatullah.com–Ide menggunakan botol susu sebagai pengganti ASI merupakan hal yang aneh 80 tahun lalu. Namun sekarang, para wanita harus dibujuk agar mau meninggalkan botol susu dan kembali menyusui anaknya secara alami.
Alasan seperti; wanita ingin segera kembali bekerja di luar rumah begitu selesai melahirkan, sakit ketika menyusui, atau tidak percaya diri untuk menyusui bayinya, adalah faktor-faktor penyebab berkurangnya jumlah ibu menyusui.
Banyak ahli kedokteran yang selalu mendorong agar para ibu mau memberikan ASI secara alami. Mereka bahkan telah menyodorkan sederet manfaat pemberian ASI, yang baik untuk kesehatan, kecerdasan, dan emosional anak dan ibunya.
Manfaat pemberian ASI secara alami bagi ibu, antara lain:
1. Tidak memberatkan anggaran belanja. ASI tidak perlu dibeli dengan harga yang sangat mahal seperti susu formula.
2. Menyusui bisa membantu mengurangi berat badan ibu.
3. Ketika bayi menghisap susu ibu, hal itu memicu produksi oxytocin yang bisa membuat rahim berkontraksi sehingga kembali ke ukuran semula.
4. Resiko kanker payudara menurun, sejalan dengan lamanya masa menyusui setiap anak.
5. Ibu akan terlindungi dari penyakit diabetes tipe 2, kanker indung telur, dan depresi, setelah melahirkan (PPD).
6. Kegiatan menyusui memerlukan suasanya tenang, sehingga kontak fisik antara ibu dan bayi menimbulkan rasa nyaman bagi keduanya. Kontak fisik membuat ikatan batin ibu dan anak semakin kuat.
7. ASI tidak merepotkan ibu, karena tidak perlu merebus air dan mensterilkan botol. ASI adalah makanan bayi siap saji.
Manfaat pemberian ASI secara alami bagi bayi, antara lain:
1. Ketika bayi menghisap puting ibunya, bukan hanya susu yang didapat, tapi bayi juga melatih rahangnya. Menyedot puting ibu membantu bayi pada masa transisi dari ASI ke makanan padat.
2. Gerakan menyedot susu ibu juga akan memudahkan si bayi untuk belajar bicara.
3. ASI jauh lebih menyehatkan. Colostrum, yaitu susu pertama yang keluar dari puting ibu, mengandung gizi yang sangat lengkap, protein, dan antibodi. Semuanya itu sangat diperlukan bagi bayi yang belum memiliki sistem pertahanan tubuh mumpuni. Antibodi pada ASI yang tidak dimiliki susu formula melindungi bayi dari berbagai macam infeksi.
4. Bayi terlindungi dari penyakit seperti infeksi telinga, virus-virus di perut, diare, infeksi pernafasan, atopic dermatitis, asma, obesitas, diabetes tipe 1 dan 2, leukimia, sindrom kematian bayi mendadak (SIDS), penyakit pencernaan.
ASI mengandung jumlah vitamin D dan E lebih banyak daripada susu formula. Penelitian menunjukkan, ASI dua setengah kali lebih ampuh mencegah terjadinya rakhitis.
ASI mengandung mineral yang bermacam dan jumlahnya lebih banyak dari susu formula. Bahkan banyak mineral yang ada pada ASI tidak dimiliki susu formula. Sebut saja selenium dan chromium. Selenium sangat berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Sementara Chromium membantu menyeimbangkan kadar gula dalam darah.
Mineral seperti kalsium, zat besi, dan mangan pada ASI, bisa dengan mudah diserap tubuh. Namun tidak demikian dengan mineral yang ada pada susu formula.
Tidak seperti susu formula, ASI membantu pembentukan bakteri yang bermanfaat seperti Bifido. Bakteri ini menjaga saluran pencernaan bayi dari bakteri berbahaya, serta mencegah terjadinya kolik dan eksema.
Obesitas jarang dijumpai pada bayi yang minum ASI, tidak seperti mereka yang minum susu formula.
ASI juga membuat bayi lebih cerdas, karena DHA yang sangat penting untuk pembentukan otak jumlahnya lebih banyak. Penelitian menunjukkan, bayi ASI mendapatkan nilai 6-10 poin lebih tinggi dalam tes intelejensia dibandingkan bayi-bayi susu formula.
Dan tentunya logika sederhana menyatakan, ASI pasti cocok untuk bayi, karena ASI memang susu untuk anak manusia. Sedangkan susu formula sebenarnya adalah susu sapi yang tentunya paling cocok untuk anak sapi. [di/bc/illi/
Sumber : www.hidayatullah.com
Sejuta Manfaat ASI
Sunday, 27 December 2009 SELAIN membantu perkembangan otak,ASI ekslusif juga bagus untuk mempersiapkan sitem pencernaan bayi,karena pada saat lahir pencernaan bayi belum lengkap dan hanya bisa mencerna ASI.
ASI mengandung nutrisi yang mempunyai fungsi spesifik untuk pertumbuhan otak antara lain long chain polyunsaturated fatty acid (DHA dan AA) untuk pertumbuhan otak dan retina, kolesterol untuk myelinisasi jaringan syaraf,taurin untuk neurontransmitter inhibitor dan stabilisator membran, laktosa untuk pertumbuhan otak, koline yang mungkin meningkatkan memori.
ASI juga mengandung lebih dari 100 macam enzim yang membantu penyerapan zat gizi yang terkandung di dalam ASI. Proses menyusui ASI tidak hanya sekadar memberi makan tapi juga mendidik dan memberikan kebutuhan psychososial. Proses menyusui itu merupakan stimulasi bagi pendidikan anak karena ada kontak mata,diajak bicara, dipeluk dan dielus-elus oleh sang ibu. Di luar negeri telah banyak dilakukan penelitian terhadap anak yang menyusui ASI lebih dari setengah abad yang lalu.
Mulai dari Douglas tahun 1950 yang menemukan bahwa anak ASI lebih cepat bisa berjalan,sampai penelitian oleh Lucas (1996) dan Riva (1998) yang menemukan bahwa nilai IQ anak ASI lebih tinggi beberapa poin. Berdasarkan hasil studi Horwood & Fergusson tahun 1998 terhadap 1000 anak berusia 13 tahun di Selandia Baru, tampak kecenderungan kenaikan lama pemberian ASI sesuai dengan peningkatan IQ, hasil tes kecerdasan standar, peningkatan rangking di sekolah dan peningkatan angka di sekolah.
Tidak hanya itu,penelitian lain yang dilakukan di negara yang berbeda pada tahun 2002 juga seiya sekata dengan hasil studi Horwood & Fergusson. Richards dkk di Inggris menemukan bahwa anakanak yang diberi ASI secara bermakna menunjukkan hasil pendidikan yang lebih tinggi. Semua hasil penelitian tersebut menyakinkan manfaat positif memberikan ASI bahwa anak ASI lebih cerdas.
Anak yang diberi ASI akan lebih sehat, IQ lebih tinggi, EQ dan SQ lebih baik bahkan soleh dan soleha. Penelitian yang dilakukan para ilmuwan Universitas Bristol mengungkap bahwa di antara manfaat ASI jangka panjang adalah dampak baiknya terhadap tekanan darah, yang dengannya tingkat bahaya serangan jantung dapat dikurangi. Kelompok peneliti tersebut menyimpulkan bahwa perlindungan yang diberikan ASI disebabkan oleh kandungan zat gizinya.
Menurut hasil penelitian itu, yang diterbitkan dalam jurnal kedokteran Circulation, bayi yang diberi ASI berkemungkinan lebih kecil mengidap penyakit jantung. Telah diungkap bahwa keberadaan asam-asam lemak tak jenuh berantai panjang (yang mencegah pengerasan pembuluh arteri), serta fakta bahwa bayi yang diberi ASI menelan sedikit natrium (yang berkaitan erat dengan tekanan darah) yang dengannya tidak mengalami penambahan berat badan berlebihan, merupakan beberapa di antara manfaat ASI bagi jantung.
Selain itu, kelompok penelitian yang dipimpin Dr. Lisa Martin, dari Pusat Kedokteran Rumah Sakit Anak Cincinnati di Amerika Serikat, menemukan kandungan tinggi hormon protein yang dikenal sebagai adiponectin di dalam ASI.Kadar Adiponectinyang tinggi di dalam darah berhubungan dengan rendahnya risiko serangan jantung. Kadar adiponectin yang rendah dijumpai pada orang yang kegemukan dan yang memiliki risiko besar terkena serangan jantung.
Oleh karena itu telah diketahui bahwa risiko terjadinya kelebihan berat badan pada bayi yang diberi ASI berkurang dengan adanya hormon ini.Lebih dari itu,mereka juga menemukan keberadaan hormon lain yang disebut leptin di dalam ASI yang memiliki peran utama dalam metabolisme lemak. Leptin dipercayai sebagai molekul penyampai pesan kepada otak bahwa terdapat lemak pada tubuh.
Sementara itu,pemberian susu formula memang tidak dianjurkan. Bayi yang diberi susu formula terancam obesitas. Kebanyakan susu formula berbasis susu sapi yang mengandung protein jauh lebih banyak dari protein manusia. Kita tahu bahwa hewan cenderung lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan dengan manusia.
Tidak heran sebuah penelitian menyebutkan bahwa bayi yang mendapat ASI tidak segemuk bayi yang mendapat susu formula. Pertumbuhannya lebih bagus dan jarang sakit. Tidak sedikit bayi diare akibat susu formula karena gula susu sapi (laktosa) pada beberapa bayi. Susu formula di pasaran kini banyak mengandung tambahan nutrisi berupa asam lemak seperti AA dan DHA yang dipercaya dapat mencerdaskan anak.
Namun, bayi tidak memiliki kemampuan untuk mencerna semua zat gizi tersebut. Pada bayi produksi enzim belum sempurna untuk dapat mencerna lemak, sedangkan dalam ASI sudah disiapkan enzim lipase yang membantu mencerna lemak, dan enzim ini tidak terdapat pada susu formula atau susu hewan. (rendra hanggara)
Sumber : SINDO
Sadar ASI Eksklusif Belum Meluas
Rabu, 23 Desember 2009 | 03:44 WIB
Jakarta, Kompas – Kesadaran kaum ibu, baik di perkotaan maupun pedesaan, untuk memberikan ASI eksklusif kepada anaknya pada usia 0-6 bulan belum meluas. Promosi susu formula melalui iklan di berbagai media massa dan pemberian makanan pendamping ASI yang terlalu dini menjadi dua hambatan utama pemberian ASI eksklusif.
Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Mia Sutanto mengemukakan hal itu dalam diskusi AIMI, Senin (21/12) di Jakarta. ”Susu formula dan makanan pendamping ASI berisiko tinggi bagi bayi karena sistem pencernaan mereka masih lemah dan rentan bakteri,” ujarnya.
Susu formula berisiko terhadap kesehatan karena tidak ada jaminan 100 persen bebas bakteri sejak proses pemerasan hingga dikonsumsi. ”Tetapi, kalau ASI, kan langsung dari ibu ke anaknya,” kata Mia.
Wakil Ketua AIMI Nia Umar menambahkan, kaum ibu kerap memberikan makanan tambahan, seperti bubur lembut, karena merasa persediaan ASI-nya tidak mencukupi. Bisa jadi persediaan ASI-nya sebenarnya masih banyak, tetapi karena perawatan kurang tepat, ASI jadi berkurang.
Mia mengakui, kondisi untuk menyusui di Indonesia belum ideal. Selain kurang optimalnya dukungan pemerintah, ketersediaan fasilitas ruangan untuk menyusui (nursery room) di tempat umum atau perkantoran juga masih minim. ”Payung hukumnya sudah ada, tetapi pelaksanaannya belum,” kata Mia.
Jika dukungan pemerintah kuat, kampanye sosialisasi ASI akan lebih mudah, terutama ke posyandu melalui konselor laktasi (proses menyusui mulai dari produksi ASI hingga proses bayi mengisap dan menelan ASI). Lagi pula untuk mencegah gizi buruk dan kematian ibu melahirkan dan bayi, ASI eksklusif ialah cara termudah, termurah, dan terbaik.
Beranggotakan 4.800 orang, AIMI berharap bisa mendorong pemerintah berpihak kepada ASI eksklusif dan menekan konsumsi susu formula. ”Susu formula masih sampai pedesaan, apalagi ketika terjadi bencana. Sayangnya banyak posyandu justru mendukung pemberian susu formula. Masyarakat harus tahu risiko susu formula dan bukan hanya kelebihannya,” kata Nia. (LUK)
Sumber : Kompas
-
Archives
- December 2009 (5)
- November 2009 (1)
- September 2009 (6)
- August 2009 (10)
- July 2009 (5)
- June 2009 (3)
- May 2009 (5)
- April 2009 (7)
- March 2009 (8)
- February 2009 (2)
- January 2009 (7)
- December 2008 (4)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
