ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Pejuang ASI

11 Februari 1984

LOKAKARYA seputar air susu ibu (ASI) dan pola makanan bayi itu berjalan mulus sekali. Para pembicara tangguh dan tangkas, demikian pula pimpinan sidang. Hasil penelitian yang kaya itu mengalir amat lancar berkat bantuan overhead projector, dan tidak perlu disangsikan keprofesionalan mereka ini. Selingan-selingan yang kocak membuat suasana tetap segar, walau peserta terus-menerus dijejali tabel. Mengagumkan. Juga mengagumkan, begitu banyak persoalan yang ternyata bisa diutak-utik perihal pola konsumsi bayi – sejak dia muncul ke dumia sampai usia 24 bulan. Berapa jamkah, sesudah lahir, si bayi mulai meminum ASI? Berapa lama? Kapan mulai diberi makanan lunak, kapan makanan keras? Bagaimana variasinya, menurut status pekerjaan dan status ekonomi? Bagaimana perbedaan antara bayi-bayi yang ibunya bekerja di sekitar rumah dan yang ibunya bekerja jauh dari rumah? Yang bekerja kurang dari 40 jam dan yang Iebih dari 40 jam? Bagaimana hubungan antara menyusui dan mencret? Bagaimana pemasaran dan promosi pengganti air susu ibu, yang dinamakan PASI? Bagaimana rumah sakit, klinik, dokter, dan bidan dimanfaatkan untuk secara halus mempromosikan PASI yang komersial? Lamanya menyusui dihubungkan dengan berbagai hal. Bayi-bayi yang dilahirkan di rumah, dibantu dukun, rata-rata Iebih lama menyusu dari mereka yang juga dilahirkan di rumah tapi dibantu bidan. Bayi-bayi yang dilahirkan di rumah Iebih lama menyusu, dari yang dilahirkan di rumah sakit. Yang dilahirkan dengan bantuan bidan di rumah sakit Iebih lama pula menyusu dibanding yang kelahirannya ditolong dokter. Sentuhan-sentuhan modernisasi tampaknya mempersingkat masa menyusui, hal yang juga berhubungan dengan status sosial orangtua. Karena itu, logis sekali, lamanya menyusui berkorelasi negatif dengan pendidikan orangtua. Lebih tinggi pendidlkan orangtua, Iebih pendek masa menyusui. Menjelang lokakarya usai, waktu istirahat, beberapa pemrasaran menunjukkan rasa kurang puas. Kita ini repot dan teriak-teriak soal ASI dan PASI dan lain-lain, tapi apa dampak jerih payah ini? Siapa, sih, yang menghiraukan? Anjing menggonggong kafilah lalu. Kaok-kaok soal ASI macam kurang kerjaan saja. Coba, kata mereka, malah ada tokoh masyarakat yang bilang: anak saya semua minum susu botol, semua sehat dan masuk perguruan tinggi. Untunglah dalam perkabean tokoh-tokoh masyarakat kita tidak sinis begitu. Mereka tidak bilang: kami punya keluarga besar, toh bahagia dan sejahtera. Pejuang ASI memang dalam keadaan sulit. Mereka bisa bilang: air susu unta cocok untuk anak unta, air susu Iembu sangat baik untuk anak Iembu, air susu ibu paling jitu untuk anak manusia. Tuhan tidak bodoh. Nah, galakkan pemakaian ASI! Tapi orang tidak acuh. Kalau seruan itu dengan gencar digemakan ke pelosok, orang pelosok jadi heran. Mereka otomatis melakukannya sejak nenek moyang! Jadi tidak perlu diajari. Kalau itu diteriakkan di tengah-tengah hiruk-pikuk kota, orang tidak peduli. Sama seperti berteriak bahwa makan pepaya dengan teratur sangat baik untuk kesehatan dan pencernaan. Setuju, selesai. Salah satu kelemahannya menyangkut soal citra. Mendengar soal ASI, asosiasi orang adalah ibu pelosok, ibu kampung, ibu tidak terpelajar, yang dalam banyak hal perlu dipulas dan ditatar. Dengan gamblang ini tercermin dalam foto-foto yang menyangkut ASI. Lain halnya kalau wanita tenar bisa ditampilkan untuk promosi – umpamanya bintang-bintang tenar Kaquael Welch atau Sophia Loren mau aktif berkampanye, dan beredar foto-foto mereka menyusui orok. Lalu bintang film kita juga memberi contoh yang sama. Mereka bilang: feeding on demand, menyusui sesuai dengan permintaan anak. Laiu dalam KMS (Kartu Menuju Sehat) terpampang gambar artis manis tersohor menyusui bayinya yang mungil. Ini baru berita. Penjelasan keuntungan ekonomi dari ASI pada tingkat makro? Sebetulnya meyakinkan. Ada ahli yang membuat perhiraan begini. Seorang anak memerlukan 90 liter susu setahun. Kalau ditaksir harganya Rp. 800 per liter, berarti diperlukan Rp. 72.000 setahun. Kita mempunyai Iebih dari lima juta anak berumur di bawah 12 bulan dan lebih dari empat juta yang berumur 12-23 bulan. Kalau mayoritas mereka minum susu botol, pengeluaran untuk itu mencapai ratusan milyar rupiah. Dan tentunya sebagian besar diimpor. Tapi apakah orang peduli kepada angka-angka itu? Kalau Anda menghitung-hitung, berapa negara menghemat devisa jika orang Indonesia berhenti mengkonsumsi alkohol impor – anggur merah anggur putih, wiski, liqueur, dan lain-lain – lalu menyodorkan angka itu kepada masyarakat, apakah itu akan mempengaruhi peri laku manusia Indonesia? Juga ada masalah yang menyangkut variabel demografi. Yakni persoalan penurunan mortalitas dan fertilitas. Kalau pejuang ASI bilang, ASI menyehatkan bayi dan penting sekali untuk mempengaruhi tingkat kematian, orang juga bisa menjawab sinis: lihat itu anak-anak dari golongan menengah-atas, yang tidak beriama-lama minum ASI tingkat kematian mereka Iebih rendah dari anak-anak miskin yang lama minum ASI. Sama pula halnya dengan anak kota yang Iebih singkat minum ASI dibanding anak desa: tingkat kematian anak kota Iebih rendah. Kalau mereka bilang, menyusui mempengaruhi fertilitas melalui penundaan ovulasi, orang yang berbakat sinis bisa menyahut: Iewat KB, keluarga kami sudah terlindung: tidak perlu penundaan ovulasi Iewat KB, kami menuuju keluarga kecil. Orang juga bisa bilang, bangsa terbelakang, yang lama menyusui, mempunyai tingkat fertilitas yang justru Iebih tinggi dari bangsa-bangsa yang sudah maju yang banyak memakai susu botol. Sebelum bubar, pejuang-pejuang ASI itu memutuskan untuk menempuh sebuah strategi baru. Tinggalkan sikap defensif selama ini, yang membikin orang terkantuk-kantuk. Berikan keterangan yang sederhana dan menarik, yang menggugah pikiran orang, karena masalah ASI juga menyangkut pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Tempuh pendekatan baru yang lihai dan agresif, dalam berkonfrontasi dengan PASI. Tentu ada berbagai hal yang belum jelas dan perlu dimatangkan. Mari kita tunggu tanggal mainnya.

Sumber : Tempo

February 11, 1984 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: