ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Pekan Air Susu Ibu Sedunia 2004

Sabtu, 31 Juli 2004

Gaya Hidup

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pada 1 hingga 7 Agustus 2004 mendatang diperingati sebagai pekan Air Susu Ibu (ASI) sedunia.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pada 1 hingga 7 Agustus 2004 mendatang diperingati sebagai pekan Air Susu Ibu (ASI) sedunia. Kelompok Kerja Visi Anak Bangsa bersama dr. Oetami Rusli, spesialis anak dan lembaga swadaya masyarakat Yayasan Kakak, Solo, mengingatkan adanya peringatan ini dengan mengadakan pertemuan untuk memasyarakatkan pentingnya ASI eksklusif bagi kesehatan ibu dan pertumbuhan anak Indonesia, Jumat lalu.

Dilanjutkan pada 2 Agustus nanti, Oetami yang dikenal juga sebagai Ketua Sentra Laktasi Indonesia (Selasi) yang diresmikan tahun lalu di RS Medika Griya oleh Menteri Kesehatan Achmad Suyudi, akan mengumpulkan para ibu muda dari kalangan selebritas yang mengkampanyekan pemberian ASI eksklusif kepada anaknya di Hotel Acacia. Tidak hanya itu pada peringatan kali ini, peran para laki-laki atau ayah si anak juga ditampilkan sebagai pendukung keberhasilan penerapan pemberian ASI.

Para selebritas ini di antaranya adalah Nia Paramitha dan Gusti Randa, Dewi Gita dan Armand Maulana, Sophie Navita dan Pongky “Jikustik”, Shahnaz Haque dan Gilang Ramadhan, Mona Ratulio dan Indra Brasco, Lusy Rahmawati dan Jose Purnomo, Yulia Rachman dan Luvie serta Sandrina Malakiano, satu-satunya ibu yang tidak didampingi pasangan karena belum lama ini memutuskan berpisah dengan Rico Ceper.

Kenapa harus dari kalangan selebritas? Mungkin ini bagian dari pembentukan komitmen untuk pemberian ASI eksklusif yang sampai saat ini masih jauh dari yang diharapkan. Untuk itu mungkin perlu didukung oleh para selebritas sebagai penggerak animo masyarakat untuk menggalakkan pemberian ASI. Selain itu, kebetulan para selebritas ini sebagian anaknya menjadi pasien Oetami. Jadi bukan berarti kehadiran selebritas di sini menonjolkan eksklusivitas tersendiri yang memberikan citra bahwa hanya di kalangan ini yang sadar mengenai pentingnya nutrisi ini bagi bayi.

Kampanye pemberian ASI selama 6 bulan ini, menurut Oetami, harus ditonjolkan mengingat advokasi ASI yang gencar dilakukan masih kalah pamor dengan kampanye kalangan industri dalam mempromosikan susu formula di media massa. Bahkan untuk kalangan penderita HIV positif yang berisiko menularkan virus kepada bayinya pun tetap dianjurkan untuk memberi ASI, kendati dipersingkat hanya pada 6 bulan pertama dan memperhatikan faktor kebersihan payudara untuk menghindari luka lecet agar tidak mempercepat penularan, serta menjaga kesehatan mulut bayi dari penyakit seperti sariawan. Jadi tidak ada alasan bagi ibu, sekalipun ibu pekerja, untuk tidak memberi ASI eksklusif kepada bayinya. evieta fadjar

Sumber : Koran Tempo

July 31, 2004 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: