ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

ASI Darurat

Senin, 31 Januari 2005

Gaya Hidup

Produksi ASI menurun karena si ibu stres sebenarnya bisa dipulihkan dengan alat bantu menyusui. Modalnya cukup dengan gelas dan selang. Dijamin ibu dan anak menjadi rileks.

Perempuan, khususnya kaum ibu memang tak seperti lazimnya pabrik susu. Meski punya kemampuan mengeluarkan air susu ibu (ASI), jumlah produksinya tak menentu. Banyak faktor yang berpengaruh. Tak hanya perlu asupan yang bergizi, tapi juga soal psikologis. Mengalami ketegangan atau trauma, salah satu yang membuat ASI yang keluar tersendat-sendat bahkan bisa berhenti mengalir.

Kondisi seperti itulah yang kini harus dihadapi para ibu di daerah yang dilanda bencana tsunami, baik di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Data terakhir per 18 Januari 2005, berdasarkan Sentra Laktasi Indonesia yang diketuai dokter Utami Roesli, sekitar 594.688 orang dalam pengungsian. Jumlah terbesar adalah anak-anak dan perempuan. Yang mengenaskan, jumlah bayi tak sedikit. Bahkan yang baru lahir pun terus menyusul.

Dalam World Health Assembly Resolution ke-47 pada 1997, badan dunia ini menegaskan bahwa dalam penanggulangan bencana petugas kesehatan harus melindungi, mempromosikan, dan mendukung ibu supaya tetap menyusui.

Justru dalam kondisi sulit air bersih dan bahan bakar, memberi ASI merupakan satu-satunya solusi teraman dan optimal untuk pemberian makan kepada bayi. Bagaimanapun penggunaan air tidak bersih akan meningkatkan risiko diare dan penyakit lain yang bisa menyebabkan kematian si bayi.

“Saat ini memang NAD mendapat banyak sumbangan makanan untuk bayi. Namun, selayaknya ada informasi memadai tentang cara dan pengetahuan sederhana soal pemberian makanan bayi. Sebab, cara pemberian yang salah akan menyebabkan diare dan gangguan kesehatan lainnya. Dengan kondisi begini bisa menyebabkan kehilangan ratusan bayi dan anak-anak lagi,” papar dokter Utami.

Utami menambahkan, idealnya pemberian makanan optimal kepada bayi, khususnya berusia kurang dari enam bulan, dilakukan dengan cara menyusui ekskusif atau pemberian air susu ibu. Dengan cara seperti itu, dijamin bayi tumbuh lebih sehat, cerdas, berbudi pekerti, dan menjadi sumber daya manusia tangguh. Namun, ia menjelaskan dalam keadaan darurat, menyusui tetap penting. Sebab, bila digantikan dengan susu formula malah tidak aman bagi si bayi. Selain karena sulitnya mendapatkan air bersih dan bahan bakar untuk memasak air, susu formula pada keadaan darurat akan menaikkan kemungkinan terserang penyakit diare, malnutrisi, dan mengakibatkan kematian bayi.

Masalahnya dengan kondisi NAD ini, pascabencana dan kondisi pengungsian yang memprihatinkan, penduduk mengalami stres dan trauma, termasuk kaum ibu. Kondisi kejiwaan itu akan berpengaruh pada produksi ASI, biasanya berkurang dan kering. “Stres dan ketakutan akan mengurangi produksi ASI untuk sementara. Sebab, menyusui mengeluarkan hormon-hormon yang menenangkan si ibu,” kata kakak kandung almarhum pemusik Harry Roesli.

Namun, ia punya cara agar ibu-anak bisa rileks dalam soal susu dan menyusui ini. Dalam keadaan darurat, kata dia, bayi bisa diberi susu formula tapi disertai alat bantu menyusui yang diharapkan bisa meningkatkan produksi ASI. Ia menyebutkan susu formula tersebut bisa dikemas dalam bentuk ASI simulasi. Maksudnya, pemberian susu formula tidak dalam botol susu dengan dot, tapi dengan gelas dan susu dialirkan melalui selang kecil yang dililitkan ke payudara si ibu. Pada bagian ujung dibuat seperti puting payudara hingga si bayi merasa seperti menyusu ASI. Tentunya pemberian susu formula dengan cara ini sebaiknya dilakukan dan diawasi petugas kesehatan dari dinas kesehatan setempat.

Ia mengatakan bahwa cara ini cukup aman dalam membantu ibu yang trauma dan tidak dapat menyusui untuk bisa kembali memberikan susu bagi bayinya. Ibu dan bayi juga sama-sama rileks. Menurut Utami, alat bantu menyusui itu juga memberikan rangsangan hingga berangsur-angsur ASI bisa keluar. Bagi si bayi tentunya lebih nyaman karena bisa menikmati seperti ASI yang biasa dia isap. “Ketika si ibu mengamati jalannya ASI tersebut, akan merangsang kembali ASI untuk keluar. Meski sempat tak keluar. Saya bersyukur cara ini sudah diterapkan dan berhasil. Bahkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) berencana akan menyumbangkan alat simulasi ASI sebanyak 200 buah untuk dibawa ke sana.”

Sementara itu, dokter Hardiono Pusponegoro dari IDAI mengatakan bahwa dalam situasi darurat menyusui bagi bayi berusia 6-12 bulan memang lebih penting. Pemberian susu formula hanya boleh dilakukan pada keadaan sangat terbatas. Dengan catatan, bila menilai status ibu dan relaktasi tidak memungkinkan atau bisa pula diberikan kepada anak yang tidak dapat menyusu atau piatu.

Ia mengingatkan, sebaiknya selalu diusahakan pemberian susu formula di bawah pengawasan ketat dari tenaga kesehatan terlatih. Susu formula yang bisa diberikan harus memenuhi standar Codex Alimentarius. Ia tidak menyarankan pemberian susu kental manis dan cair kepada bayi berusia 6-12 bulan. Selain itu, sebaiknya pemberian susu formula tidak menggunakan botol dengan dot, tapi memakai gelas atau cangkir yang mudah dibersihkan dengan air dan sabun. “Kami mendukung ide yang dilakukan dokter Utami. Sebab hal itu bisa membantu para ibu atau perempuan menyusui yang dilanda trauma dan stres. Mereka bisa kembali memulihkan pautan kasih sayang dengan si kecil hingga memicu kembali kemampuan memproduksi kembali ASI-nya yang kering,” kata dokter Hardiono. hadriani p

Sumber : Koran Tempo

January 31, 2005 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: