ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Demi Setetes ASI

Rabu, 09 Maret 2005

Gaya Hidup

Justru itu yang menjadi tantangan bagi Utami. Dokter anak ini terus mengkampanyekan pentingnya pemberian ASI bagi bayi. Kenapa dia begitu ngotot? Utami tahu betul bahwa sehebat apa pun susu formula, tak akan bisa mengalahkan manfaat ASI. Selain mengandung antibodi, ASI kaya akan karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan zat lain yang amat diperlukan tubuh. “ASI bermanfaat besar, tapi tak pernah diperhatikan bahkan jarang diterapkan langsung oleh kaum ibu dan wanita,” ujar Utami.

Perjuangan Utami demi setetes ASI bagi buah hati keluarga bukan baru sehari-dua. Kerja kerasnya telah dilakukan sejak 15 tahun lalu. Awalnya, saat ia menekuni profesi menjadi dokter anak, Utami mengikuti kursus teknik pemijatan bayi. Entah mengapa, minatnya langsung muncul untuk mempelajari segala hal tentang air susu ibu. Dengan semangat yang gigih, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ini meniti satu demi satu daerah di Indonesia berkampanye tentang pentingnya ASI. Bersama kawan-kawannya ia kemudian mendirikan Sentra Laktasi Indonesia pada Agustus 2003.

Yayasan nirlaba ini memberi konseling gratis kepada para ibu menyusui. Tempat ini menyediakan berbagai informasi lengkap tentang ASI, melayani rumah sakit yang ingin menjadi rumah sakit sayang bayi, melobi perusahaan agar menyediakan kesempatan bagi yang ingin menyusui di tempat kerja, dan mengembangkan penelitian seputar ASI.

Di Sentra Laktasi Indonesia, Utami giat mengembangkan pengetahuan tentang wanita menyusui pengidap HIV/AIDS. Lembaga ini menerapkan pelatihan yang memakai modul sesuai dengan ketentuan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dengan pola 40 jam. Pelatihan ini meliputi instruksi dan pengantar terperinci tentang penatalaksanaan ASI seperti yang dilakukan di negara-negara lain.

Yang unik, tempat pelatihan ini menerapkan sistem multilevel marketing. Teknik ini tak dinyana menarik banyak orang untuk menjadi konselor atau pembimbing pelatihan tentang ASI. Kini sudah ada delapan angkatan untuk para instruktur. Peminat setiap angkatan mencapai 30 orang yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat, mulai pegawai dinas kesehatan, mahasiswa hingga masyarakat awam yang punya perhatian khusus pada masalah ASI. “Mereka kami latih dengan memberikan ilmu komprehensif tentang ASI selama seminggu. Jam belajarnya setiap hari dari pagi hingga malam,” ujar pengarang beberapa buku tentang ASI ini.

Kegigihan Utami menularkan ilmu tentang ASI bukan tanpa kendala. Terkadang ia harus berbenturan dengan rekan seprofesinya yang pro kepada pemberian susu formula. Namun, ia tetap kukuh dengan pendapatnya tentang manfaat ASI bagi masa depan anak. Ia mengaku melakukan semua ini dengan niat baik dan benturan itu tak akan menghentikannya memberi penjelasan yang benar tentang ASI. “Saya tidak akan berhenti karena bidang ASI selalu terkuak banyak pengetahuan baru yang harus saya pelajari,” tutur Utami dengan suara berbisik.

Sikap Utami itu mungkin mengalir dari darah sang kakek, Marah Roesli. Sastrawan besar itu mengalirkan darah perlawanan terhadap cucunya yang lain, almarhum Harry Roesli, yang tak lain adalah adik kandung Utami. Dia ingat betul, saat kecil ia masih sempat duduk di atas pangkuan sang kakek. Utami kecil lalu mendengarkan dongeng-dongeng yang meluncur dari pengarang Siti Nurbaya itu. “Mungkin karena pengaruh pikiran kakek, kami sering dianggap melawan arus,” ujar ibu dua putra ini.

Darah seni kakeknya tentu tak menghilang dari kehidupan Utami. Dia bahkan menganggap pemberian ASI merupakan satu seni yang mesti dipelajari oleh para ibu menyusui. Memberi ASI memang tak memerlukan teknologi yang canggih. Yang diperlukan hanya seni kesabaran dan sedikit pengetahuan tentang menyusui yang benar. Dan tentu saja dukungan dari para suami. Masalah ASI memang bukan melulu masalah istri. Suami juga memberi peran yang penting. Peningkatan peran suami berupa perhatian pada istri sangat dibutuhkan untuk memproduksi ASI yang baik.

Perhatian Utami sebenarnya bukan hanya pada ibu menyusui di daerah perkotaan. Dia sedih jika menyaksikan para ibu di pedesaan atau dari kalangan tak mampu tak memberi air susu ibu pada sang bayi. “Di pedesaan masalahnya muncul lantaran kurangnya pengetahuan detail soal ASI,” ujarnya.

Utami yang kini menjadi Kepala Bagian Anak Rumah Sakit St Carolus Jakarta terus melangkah. Mungkin di usianya yang sudah setengah abad ini langkah Utami masih terlihat gagah bagi sebagian orang. Demi setetes ASI bagi buah hati, Utami ikhlas membagi pengetahuannya bagi siapa pun di mana pun. hadriani p

Biodata Utami Roesli

Nama : Utami Roesli, 50 tahun
Putra: 2 orang

Karier :

  • Kepala Bagian Anak Rumah Sakit St Carolus, Jakarta
  • Ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI
  • Pendiri dan Ketua Sentra Laktasi Indonesia

Pendidikan Formal

  • 1972 lulus Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
  • 1980 lulus Spesialis Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
  • 1994 meraih gelar MBA dari Universitas The City of Manila, Filipina
  • 1999 memperoleh sertifikat instruktur pijat bayi (CIMI) dari Kansas City, Missouri, Amerika Serikat
  • 2001 memperoleh sertifikat breastfeeding (keilmuan menyusui atau ASI) dari IBCLC

Pelatihan, workshop, dan seminar :

  • 1987, lulus pelatihan neonatologi dari Rumah Sakit Saint Radbound, Nijmegen, Holland
  • 1990, lulus kursus breastfeeding di Perth, Australia
  • 1996, 1997, dan 1998 mengikuti breastfeeding workshop on lactation management di Orlando, Amerika Serikat, Singapura, Bangkok, dan Australia
  • 1999, seminar dan konferensi kesempurnaan dan normalisasi breastfeeding di Pennsylvania Midstate Lactation, Pittsburgh, Amerika Serikat
  • 2000, Konferensi perkumpulan laktasi dunia di Melbourne, Australia
  • 2000, pertemuan internasional masyarakat kedokteran tentang breastfeeding natural dan nutrisi alami bagi bayi Tucson, Arizona, Amerika Serikat
  • 2000-2003, aktif sebagai penggagas dan pengajar pada pelatihan dan pengantar bagi para konselor yang menggunakan modul pelatihan 40 jam sesuai dengan ketentuan WHO
  • 2003, mengikuti konferensi menyusui bayi dan HIV di tingkat regional Asia Pasifik, New Delhi, India
  • 2003, konferensi Asia Pasifik Breastfeeding Nasional BPHI di New Delhi, India
  • Mei 2004, pelatihan kursus konseling HIV dan menyusui bayi yang diselenggarakan WHO di New Delhi, India

Buku:

  • Pengantar tentang ASI
  • Seluk-beluk Lengkap ASI
  • ASI Eksklusif

Sumber : Koran Tempo

March 9, 2005 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: