ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Pemberian ASI Masuk Amendemen Undang-Undang

Selasa, 28 Juni 2005

Nasional

Koalisi LSM Peduli Air Susu Ibu meminta pemerintah melalui Departemen Kesehatan untuk mengatur pemasaran susu formula di Indonesia.

JAKARTA — Koalisi LSM Peduli Air Susu Ibu meminta pemerintah melalui Departemen Kesehatan untuk mengatur pemasaran susu formula di Indonesia. “Pemasaran susu formula saat ini sudah tidak sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 237 tentang pemberian ASI eksklusif hingga usia 4-6 bulan,” ujar Enny Lucy Smith dari Yayasan KAKAK, Surakarta, seusai rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR RI, kemarin. Padahal, menurut Enny, kode etik Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, ASI eksklusif diberikan hingga anak umur 6 bulan tanpa makanan tambahan.

Koalisi LSM juga meminta Departemen Kesehatan meninjau kembali keputusan itu. “Kami meminta sanksi hukum diperjelas bagi produsen yang melanggar dan penegasan batas waktu pemberian ASI eksklusif,” kata Enny. Keputusan itu dinilai Enny tidak konsisten dengan kode etik WHO tentang pemberian ASI eksklusif tersebut. “Kami meminta batas waktu pemberian ASI eksklusif diseragamkan, yaitu hingga 6 bulan.”

Dengan ketidakkonsistenan ini, kata Enny, produsen meraup banyak keuntungan. Caranya dengan memproduksi susu formula untuk bayi mulai umur empat bulan. Ketua Sentra Laktasi Indonesia Utami Roesli menambahkan, dengan upaya ini produsen telah merampas hak anak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. “Yaitu, mendapatkan ASI,” katanya.

Komisi IX DPR RI mengaku siap mengusulkan pemberian ASI eksklusif ini dalam penyempurnaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. “Kami siap mengusulkan pemberian ASI dimasukkan dalam amendemen Undang-Undang Kesehatan,” kata Goenawan Slamet, ketua pimpinan sidang Komisi IX. Selain itu, Komisi IX sepakat agar pemasaran susu formula dipertegas dalam rancangan peraturan pemerintah tentang pemasaran susu formula yang tengah dirancang Departemen Kesehatan.

Menurut Dedi Fardiaz, Deputi Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Badan POM masih melakukan penelitian atas bahan-bahan tambahan yang diberikan dalam susu formula bayi. Bahan-bahan tambahan (biasa disebut polyunsaturated fatty acid (pufa)), kata Dedi, saat ini menjadi bahan isian yang kontroversial. “Terutama dalam produk susu formula, bahan-bahan ini sekarang sudah over-claim, diiklankan hingga bisa mencerdaskan anak. Jangan sampai konsumen terpengaruh,” kata Dedi. AMI AFRIATNI

Sumber : Koran Tempo

June 28, 2005 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: