ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Menyelamatkan Bayi Lewat ASI

Kamis, 30 November 2006

Nasional

Karena ruang persalinan dan perawatan bayi terpisah, suster pun memberikan susu formula kepada bayi yang baru lahir.

“Selamatkan Bayi!”. Seruan itu disampaikan Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli ASI di sejumlah media cetak, termasuk harian ini, Selasa pekan lalu. Lewat surat terbuka yang ditandatangani Agus Pambagio, Dr Utami Roesli, dan Emmy L. Smith, Koalisi mendesak pemerintah segera menuntaskan Rencana Peraturan Pemerintah tentang Pemasaran Susu Formula.

“Kami bermaksud melindungi ibu dan bayi dalam pemberian air susu ibu eksklusif enam bulan tanpa ada ‘gangguan’ dan ‘godaan’ dari kalangan industri susu formula, rumah sakit/rumah bersalin, dan para tenaga profesional kesehatan lainnya,” Agus memaparkan saat ditemui Tempo, Senin lalu.

Di sebagian rumah sakit/rumah bersalin, ruang persalinan dan perawatan bayi masih terpisah. Karena itu, pada malam hari, para suster cenderung memberikan susu formula kepada bayi-bayi yang baru lahir. Dalihnya, tak ingin mengganggu istirahat si ibu. Tempo pernah punya pengalaman tentang hal ini.

Saat melahirkan putra pertama pada Oktober tahun lalu di sebuah klinik di kawasan Warung Buncit, suster memang langsung memberikan bayi kepada kami untuk disusui. Namun, pada malam hari, otomatis bayi kami diberi susu formula. Yang membuat merinding justru cerita seorang sahabat saat melongok putra kami di ruang perawatan bayi. Dari balik tirai, dia mengaku melihat seorang suster hanya menopang botol susu yang disorongkan ke mulut bayi dengan bantal. “Gila, kalau sampai tersedak, gimana?” ujarnya.

Jangankan menopang botol seperti itu, memberikan susu formula kepada bayi sesungguhnya sudah merupakan kejahatan tersendiri. Kode Badan Kesehatan Dunia (WHO Code) menyatakan bayi harus diberi ASI secara eksklusif selama enam bulan. Konvensi Hak-hak Anak dari Dewan Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa Pasal 24 ayat 2e juga menjamin pentingnya pemberian ASI.

Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermina, Jatinegara, meski ruangan terpisah, kata seorang suster, hal itu tidak menyulitkan pemberian ASI kepada bayi. “Kan, ada jam menyusui.” Di rumah sakit itu, waktu menyusui dilakukan selama tiga jam sekali mulai pukul 07.00 WIB. “Kalau bayinya rewel, nanti suster yang akan menenangkannya.” Entah dengan cara apa!

Menurut Ketua Sentra Laktasi Dokter, Dr Utami Roesli, Survei Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 1997 dan 2002 menunjukkan pemberian ASI kepada bayi satu jam setelah kelahiran menurun dari 8 persen menjadi 3,7 persen. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan menurun dari 42,2 persen menjadi 39,5 persen, sedangkan penggunaan susu formula meningkat tiga kali lipat dari 10,8 persen menjadi 32,5 persen.

Padahal, kata dia, ASI adalah cairan hidup atau mengandung enzim penyerapan. Selain mengandung protein, karbohidrat, dan lemak, ASI memiliki enzim penyerap zat-zat ini. Jika ASI tidak diberikan, seluruh zat atau nutrisi yang masuk ke tubuh bayi hanya dapat diserap sekuat daya serap yang ada di tubuh bayi itu sendiri. “Sebagian besar nutrisi itu tidak terserap dan akan menggumpal di dalam usus,” katanya. Akibatnya, risiko anak terkena diare menjadi lebih besar. Rini Kustiani

Sumber : Koran Tempo

November 30, 2006 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: