ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

ASI Esklusif Perkecil Penularan HIV dari Ibu ke Bayi

Protein kompleks pada susu formula mengakibatkan kerusakan pada sistem pencernaan bayi.

Ais susu ibu (ASI) masih jadi makanan terbaik bagi bayi. Bahkan bayi dari ibu yang mengidap HIV/AIDS sekalipun. Risiko penularan HIV/AIDS dari ibu yang positif terinfeksi kepada bayinya bisa diperkecil dengan pemberian air susu saja selama enam bulan pertama usia bayi. Barangkali ini temuan yang tidak biasa. Bila selama ini bayi dicap terinfeksi HIV AIDS akibat tertular dari ibunya, maka penelitian memberikan bukti yang berbeda.

Penelitian dilakukan di Afrika Selatan. Bayi yang diberi ASI saja atau ASI esklusif selama enam bulan lebih kecil peluangnya tertular HIV/AIDS dari ibunya dibanding bayi yang diberi susu formula atau makanan padat lainnya. Menurut para peneliti tersebut, air susu ibu memang berpotensi menularkan HIV/AIDS dari ibu ke bayinya dalam skala rendah. Tapi di sisi lain, air susu ibu dapat melindungi bayi terhadap penyakit fatal yang berakibat kematian pada bayi seperti diarrhoea dan pneumonia. Dua penyakit tersebut banyak mengakibatkan kematian pada pasien dengan HIV/AIDS.

”ASI ekslusif merupakan opsi terbaik untuk sebagian besar perempuan di negara berkembang,” kata Profesor Hoosenn Coovadia, peneliti, dalam ekspose yang digelar akhir pekan silam. Para peneliti itu menegaskan bahwa ASI ekslusif merupakan kunci penentu dalam memperkecil tingkat kematian pada bayi dari keluarga yang terinveksi HIV/AIDS.

Menurut dia, kondisi di negara maju berbeda. Kecanggihan teknologi, kesadaran masyarakat yang tinggi, serta dukungan dan keberhasilan kampanye HIV/AIDS telah mengakibatkan penularan HIV/AIDS dari ibu kepada bayinya turun dari 25 persen menjadi 2 persen saja. Dukungan itu antara lain dalam bentuk penggunaan terapi antiretroviral, pemeliharaan kesehatan yang baik serta pemberian makanan dengan formula ekslusif bagi bayi yang dilahirkan dari ibu HIV/AIDS.

Sayangnya, menurut dia, pelayanan seperti itu tak diperoleh pasien dengan HIV/AIDS di negara berkembang dan miskin. Di negara tersebut, World Health Organization (WHO)–organisasi kesehatan sedunia– memberi panduan agar perempuan dengan HIV positif yang dapat membeli susu formula dan memiliki fasilitas pendukung seperti alat untuk mensterilkan botol susu dan alat memasak untuk menyediakan air panas, harus memberi susu formula bagi bayinya.

Hoosenn yang berasal dari Africa Centre for Health and Population Studies (Kajian populasi dan kesehatan) Universitas KwaZulu-Natal menyatakan rujukan WHO itu tak berlaku bagi sebagian besar perempuan di negara berkembang dan negara miskin. Sebab, sebagian besar tak mampu membeli susu formula untuk anaknya.

Untuk alasan tersebut, ia mencoba meneliti. Ternyata ASI ekslusif melindungi bayi dari penyakit lain. Dari situlah menurut dia opsi terbaik bagi ibu dengan HIV/AIDS positif harus memberi ASI ekslusif kepada bayinya. ”ASI ekslusif juga berdampak pada ibunya dengan berkurangnya potensi penyakti lain seperti abses pada payudara, mastitis,” kata Hoosenn sebagaimana dikutip BBCNews.com Kedua penyakit itu dapat meningkatkan virus HIV/AIDS pada air susu ibu.

Jalan Keluar
Penelitian ini dibiayai Welcome Trust, sebuah lembaga dari Inggris. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa ada sekitar empat persen bayi yang tertular HIV/AIDS dari ibu yang memberinya ASI ekslusif. Bayi itu diberi ASI ekslusif hingga enam bulan usianya.

Sementara persentase bayi yang diberi susu formula atau susu binatang sebagai tambahan dari ASI, tertular HIV/AIDS dari ibunya meningkat dua kali lipat dibanding yang memperoleh ASI saja. Sementara, angka bayi yang diberi makanan padat sebagai tambahan ASI untuk terinfeksi HIV/AIDS meningkat 11 kali lipat dibanding bayi dengan ASI saja. ”Peningkatannya cukup besar,” kata Hoosenn lagi.

Hooosenn memperkirakan lebih tingginya risiko itu akibat protein kompleks yang terdapat pada makanan padat. Kondisi itu berdampak pada lebih besarnya kerusakan lambung yang memungkinkan virus masuk melalui dinding usus dan pencernaan. Profesor Hoosenn Coovadia menjelaskan,”Kami tahu bahwa ASI merupakan pengantar dari penularan virus HIV/AID dari ibu kepada bayinya. Tapi tetap saja ASI ekslusif merupakan faktor penting dalam mengurangi kematian karena meningkatkan daya tahan tubuh bayi.”

Alasannya, di berbagai negara Afrika di mana kemiskinan masih endemis, makanan pengganti seperti susu formula atau susu binatang masih cukup mahal dan tak dapat dijadikan pengganti komplet. ”Yang harus dijaga adalah bagaimana membuat ASI itu tetap aman.”

Wendy Holmes, dari Centre for International Health di Melbourne dan juga Feliciity Savage di London mengatakan penelitian ini merupakan pendobrak dari anggapan lama. ”Penelitian ini menggugurkan anggapan lama bahwa ASI dapat menularkan HIV/AIDS dari ibu ke bayi.” Holmes dan Savage menegaskan bahwa hasil penelitian terbaru ini menekankan pentingnya memberi ASI ekslusif kepada bayi karena dapat mencebah infeksi pada anak yang juga mengakibatkan kematian. tid

sumber: http://republika.co.id/

April 2, 2007 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: