ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Selama Ini Kita Menzalimi Bayi

Minggu, 06 Mei 2007

Tamu

Dr Utami Roesli, SpA, MBA, CIMI, IBCLC, Dokter Anak Aktivis ASI

Perempuan berkemeja merah menyala itu berjalan tergesa. Jas dokternya melambai mengimbangi langkahnya menuju ruang praktek di kamar nomor 25. Rabu pagi pekan silam itu, ruang tunggu Ruang Rawat Jalan Rumah Sakit Sint Carolus sudah dipenuhi pasien. Sesekali terdengar celoteh dan tangis para bocah yang pagi itu hendak berobat kepada sang dokter.

Pagi Utami Roesli, dokter spesialis anak yang sepuluh tahun belakangan giat mengkampanyekan pemberian air susu ibu eksklusif kepada bayi, dibuka dengan kesibukan luar biasa. Ia harus melayani pasien kecil dan orang tua mereka, menerima tamu–untuk kepentingan medis atau wawancara–dan tugas lain sebagai Ketua Sentra Laktasi Indonesia. Setelah itu, cucu sastrawan besar Marah Roesli ini bergerak layaknya putaran jarum jam.

Dalam sepekan, harinya dihabiskan di luar Jakarta. “Paling sering ke daerah untuk memberi penyuluhan tentang ASI.” Ia juga acap terbang ke mancanegara untuk bertemu dengan koleganya sesama penggerak ASI.

Setahun belakangan, kesibukannya kian bertambah dengan munculnya banyak temuan baru tentang pemberian ASI kepada bayi yang baru lahir. Dengan energi yang seolah tiada habis, ia terbang kian-kemari mengumpulkan bukti empiris, menghubungi para koleganya di berbagai negara, dan mengusung temuan-temuan itu ke tengah komunitas penggerak ASI. Setelah itu, dengan energi sama hebatnya, ia bergerilya mengenalkan temuan-temuan itu kepada masyarakat. “Macam-macam sambutannya.”

Salah satu temuan yang kini tengah giat dikampanyekan para dokter di Eropa dan Amerika adalah mengenalkan ASI kepada bayi di menit pertama kelahirannya. Inisiasi dini, begitu ahli menyebutnya. Temuan ini mementahkan teori puluhan tahun bahwa bayi tidak mampu dan tidak butuh menyusu pada menit-menit awal kelahirannya. Utami yakin, jika inisiasi dini didukung oleh semua tenaga kesehatan, kematian 21 ribu bayi sebelum usia 28 hari di Indonesia tak akan terjadi.

Setelah menyapa para pasiennya yang sudah menunggu, penulis buku laris tentang terapi pijat bayi ini menerima Budi Saiful Hadi, Nurdin Kalim, Angela Dewi, serta fotografer Yosep Arkian dari Tempo di ruang prakteknya yang dipenuhi poster tentang kampanye ASI. Diselingi dering telepon di mejanya dan dari dua telepon selulernya serta pertanyaan suster yang membantunya, kakak kandung mendiang musisi Harry Roesli ini berkisah panjang tentang inisiasi dini dan perjuangannya “melawan” pemberian susu formula kepada bayi di bawah usia 6 bulan. Nada suaranya bersemangat. Dengan ramah dan acap diselingi tawa, ia menjawab setiap pertanyaan. Berikut ini petikannya.

Bagaimana ceritanya temuan inisiasi dini ini?

Ceritanya, sekelompok scientist dari Inggris yang tergabung dalam Department for International Development melakukan penelitian terhadap 10.946 bayi sejak 2004. Pada 30 Maret 2006, mereka menemukan bahwa bayi normal yang langsung diletakkan di dada ibunya minimal 30 menit, pada usia 20 menit dia akan merangkak sendiri ke payudara ibunya. Pada usia 50 menit, dengan susah payah merangkak, dia akan menemukan puting susu ibunya dan menyusu.

Refleks saja seperti mamalia?

Betul! Kenapa kalau kita melihat hewan mamalia langsung menyusu ke ibunya ketika lahir tidak aneh, tapi kalau terjadi pada manusia merasa aneh? Karena ketidaktahuan kita tentang ASI, itu mengganggu proses kehidupan. Sebab, begitu lahir, langsung dipisahkan dengan ibunya. Selama ini kita kan sudah menzalimi bayi. Kalau seekor anak macan ketika lahir tidak mendapatkan sumber kehidupannya, dia akan mati.

Ini berlawanan dengan paradigma yang sudah kita kenal selama ini?

Ya. Biasanya, di keluarga kita, pada waktu lahir, tali pusar dipotong, kemudian dipisahkan dari ibunya untuk ditimbang, dicap, dibersihkan, baru kemudian dikembalikan kepada ibunya.

Seharusnya, begitu bayi lahir, ketika sudah kering langsung diletakkan di perut ibunya. Pada usia 20 menit, tak mudah memang bagi dia untuk merangkak, tapi ternyata secara refleks itu bisa.

Biarkan di dada ibu minimal setengah jam. Sampai dia minum sendiri. Kalau belum juga minum, biarkan dia mencari sendiri sampai satu jam. Nggak gampang, tapi dia berhasil akhirnya. Insting dan dibimbing oleh smell.

Bukankah pada umumnya bayi yang baru lahir tidak butuh menyusu dan pada jam-jam awal ASI memang belum keluar?

Keluar atau tidaknya air susu ibunya pada waktu itu bukan masalah. Tapi berikan kesempatan bagi dia untuk mulai menyusu sendiri.

Ini temuan yang benar-benar baru?

Tidak juga. Sebenarnya pada 1990 sudah ada penelitian tentang ini, tapi tidak terdengar gaungnya. Sampai ada ahli yang meneliti dan sudah dicoba di negara-negara Skandinavia. Lalu saya diberi kesempatan membuat model dengan bayi Indonesia. Kami menggunakan bayi di Bantul, Yogyakarta, yang dibantu kelahirannya oleh bidan yang sederhana. Dan ternyata telah kami buktikan itu.

Bagaimana penerimaan bidan di Sint Carolus?

Pada awalnya tidak begitu mudah, tapi kebetulan kami diberi kepercayaan oleh UNICEF untuk melatih 600 kader. Saya bahkan sudah melakukan kepada cucu saya yang pertama. Pada saat itu pula saya menyaksikan seorang ayah yang mengumandangkan azan di dada ibunya. Aduh, rasanya takjub….

(Utami kemudian menunjukkan potongan gambar video di laptop ASUS-nya. Di video itu, Raffa, sang cucu yang baru lahir, dalam keadaan telanjang merangkak dengan susah payah hingga menemukan puting sang ibu dan mulai menyusu).

Bayinya tidak kedinginan, ya?

Dada ibu yang melahirkan 1 derajat lebih panas daripada dada ibu-ibu yang tidak melahirkan. Kalau bayi kedinginan, dia akan otomatis naik 2 derajat Celsius. Tapi, kalau si bayi kepanasan, turun 1 derajat Celsius. Jadi jauh lebih bagus daripada tabung yang biasa digunakan untuk menyimpan bayi pada saat lahir.

Anda juga akan menerapkan inisiasi dini pada bayi Tiara?

Jika Tiara tidak keberatan, saya juga ingin melakukan hal yang sama. Nanti rencananya video Tiara ini akan dibawa ke daerah. Supaya orang-orang desa bisa melihat, oh… orang kota juga menyusui bayinya.

(Tiara Lestari, yang berprofesi sebagai model, adalah menantu kedua Utami Roesli. Ia tengah menanti kelahiran bayi pertamanya).

Apa sih manfaat utamanya jika inisiasi ini diterapkan?

Begini, bayi yang diberi kesempatan menyusui dini, akan lebih besar kemungkinan berhasil menyusu eksklusif hingga usia 6 bulan. Jumlahnya bisa mencapai 59 persen. Tapi masih sedikit orang yang berbicara. Baru ada gongnya pada 2006 itu.

Sudah dipublikasikan di sini?

Secara luas belum. Saya ini apalah, tidak mungkin menguasai seluruhnya. Tapi setidaknya di kalangan komunitas Sentra Laktasi Indonesia sudah dikenalkan soal itu sampai ke daerah tempat saya memberi pelatihan. Kami gencarkan pada pekan ASI Dunia, 1-7 Agustus nanti. Di Banda Aceh, saya sounding melalui agama, melalui Al-Quran. Sebab, lebih efektif, meski tetap saja kalah oleh promosi-promosi susu formula.

Sudah mengantisipasi penolakan dari kalangan medis dan orang tua mengingat ini mengubah paradigma?

Terus terang saja, ini bukan ide saya. The world has been done this. Cuma, saya yang pertama menerima informasi ini. Sangat disayangkan jika orang tidak banyak tahu soal ini. Indonesia sebenarnya tidak sendiri. Dari 190 negara di dunia, hanya 33 negara yang tahu inisisasi menyusui dini yang benar. Di dunia, dalam setahun 4 juta (bayi) yang meninggal. Andai kata semua tenaga kesehatan atau penolong bayi memberi kesempatan menyusui dini, 1 juta bayi di dunia ini terselamatkan.

Apakah ini juga berlaku bagi bayi yang tidak normal?

Berapa persen sih bayi yang lahir dengan berat rendah? Itu persentase kecil. Kenapa kita tidak mengkonsentrasikan diri pada jumlah yang besar saja? Pada bayi yang (lahir) caesar pun bisa dilakukan. Tapi memang teorinya 50 persen yang akan berhasil, hanya ibunya harus percaya diri. Dan sang ayah juga harus tahu.

Berarti harus ada posisi tawar yang kuat pada orang tua untuk meminta tenaga kesehatan melakukan inisiasi dini pada bayi?

Kalau si ibu sudah tersadarkan dan meminta itu, si bidan akan mencari tahu bagaimana sih inisiasi menyusui dini yang benar. Di Indonesia, disangkanya inisiasi dini menyusui seperti ini: setelah dibersihkan dan dibedong lalu diberikan kepada ibunya. Saya pun masih melakukannya sebelum satu tahun lalu.

Obat bius tidak terpengaruh?

Kenapa bicara itu, prematur, kenapa tidak bicara yang lebih besar? Dan dengan ini pun kita meng-encourage jangan ada obat-obatan.

Paradigma yang “biasa” itu kan sudah lama, berarti ada kesalahan dong selama ini?

Sebenarnya, masalahnya who owned sekarang, proses penyadaran para ahli kebidanan dan penolong kelahiran bayi, karena dokter anak pada saat kelahiran itu jarang dipanggil. Tapi kenapa nggak kita yang sadar duluan? Tapi alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu saya berbicara di Tangerang dengan para bidan. Mereka betul-betul terpukau karena ketidaktahuan, jadi tidak benar-benar karena kesengajaan kesalahan. Karena informasi yang belum sampai saja. Kita nggak pernah terpikir bahwa bayi berumur 20 menit bisa menyusu sendiri.

Ini perang terang-terangan terhadap susu formula? Kan sekarang masih terjadi rumah sakit memberi susu formula di hari-hari pertama kelahiran bayi karena ASI yang belum keluar dan bayi yang tidak bisa menyusu?

Tidak hanya di Indonesia, di Amerika saja kuat promosi susu formula. Karena mereka orang kaya, siapa tidak mau? Tapi itu karena mereka tidak tahu. Pernah seorang bidan sampai menangis mengetahui ini. Dia mengembalikan susu formula. Ini yang kita inginkan. Selain kesehatan, yang ingin kami kerjakan adalah knocking nurani.

Selama ini kesannya kan sudah memasyarakat, telanjur pakai susu formula?

Tidak ada telanjur, karena itu kita harus mencoba agar tidak telanjur. Di Skandinavia, Kanada, Finlandia, dan Swiss, tidak ada cuti ibu atau ayah melahirkan, tapi justru mereka cuti orang tua. Selama 12 bulan, 80 persen gajinya dipakai untuk itu. Syaratnya cuma dua, ibu harus empat bulan pertama, ayah dua bulannya, enam bulan kemudian tergantung. Kalau gaji ibu lebih besar, ibu bekerja, dan ayahnya yang di rumah.

Di Indonesia susah mewujudkan hal seperti itu….?

Saya tidak memikirkan itu, tapi kalau anak-anak kalian, cucu kalian tidak dilengkapi ASI, mau jadi apa? Mereka jauh lebih kaya, dukungan terhadap ilmu begitu besar, sekarang anak-anak itu akan memiliki EQ yang lebih besar daripada anak-anak kita. Spiritualitas yang lebih tinggi. Lalu daya saing anak Indonesia apa kalau tidak dikasih ASI? Dua puluh lima tahun lagi kita habis, sekarang saja sudah kalah oleh Malaysia. Sebab, orang Barat sekarang sudah mulai menyusui. Dukungan ayah itu begitu besar, meski hal itu baru mereka sadari November 2003, dengan mendirikan Global Initiative Father Support: satu kelompok para ayah. Padahal di kita (umat Islam) ada Al-Quran yang sudah menyatakan pentingnya hal itu (Al-Baqarah ayat 233). Ketika anak dilahirkan, harus ada musyawarah. Dengan demikian, kegagalan menyusui adalah kegagalan ayahnya. Begitu pula dengan keberhasilannya.

Efek secara medis lainnya?

Anak-anak yang menyusu kepada ibu itu tidak hanya lebih sehat, lebih pandai, tapi lebih saleh dan salehah. Karena ada RNA dan DNA (pembawa sifat) yang diberikan ibu. Maka sekarang ini, karena tahu urgensinya, orang yang mengadopsi anak mengejar supaya bisa menyusui juga.

Kembali ke susu formula, bagaimana dengan anak usia 1 tahun yang justru tidak mau dikasih susu formula?

Itu justru bukan masalah. Pernah melihat nggak anak macan yang sudah mencicipi segala macam kembali menyusu? Tidak. Anak sapi saja kalau sudah besar tidak mau menyusu kepada induknya. Kok malah (susunya) dipakai untuk anak manusia?

Bukankah minum susu seumur hidup selama ini digembar-gemborkan?

Manusia juga mempunyai taraf umur tertentu untuk mendapatkan susu. Masalahnya, kita terprogram dengan empat sehat lima sempurna. Susu sumber protein. Padahal anak di atas 3 tahun tidak perlu minum susu. Bukan tidak boleh. Karena bisa dari tahu, tempe, ikan, telur, dan keju. Mendingan dikasih tahu, juga lebih murah. Nggak ada pengaruhnya sama sekali. Bahkan pada mamalia di atas 3 tahun, enzim untuk menyerap protein dari susu sedikit. Kita telah dibrain-minded oleh pabrik susu, entah sejak kapan.

Selama ini sukarnya pemberian ASI kan karena ibu harus kembali bekerja?

Itu bukan masalah besar juga. Di Cina, seorang ibu insinyur begitu aktif sehingga harus sering ke luar kota. Tapi dia menyimpan di lemari es ASI perasannya. Sebab, ASI itu memenuhi keseimbangan supply and demand. Dikeluarkan 1.000 mililiter, ya, berproduksi lagi 1.000 ml.

Lalu kalau ASI berhenti sama sekali kenapa?

ASI sangat berpengaruh pada pikiran. Ketika si ibu merasa ASI-nya sedikit, yang keluar sedikit. Ataupun pada saat berhenti. Di situ peran ayah. Di saat pikiran ibu terganggu, ayah berperan.

Tapi permasalahan fasilitas agar bisa menyusu?

Itu sekarang yang jadi masalah, kantor-kantor harus menyiapkan. Harus didorong agar kantor-kantor mempunyai fasilitas itu.

Bagaimana dengan dukungan pemerintah?

Pemerintah itu hanya banyak omong, bahkan katanya ada yang bilang akan dibuat undang-undang. Tapi kok sekarang diam lagi. Tapi sudahlah, biarkan mereka melakukan apa yang bisa dilakukan.

Bagaimana dengan upaya Ibu sendiri?

Saya tahun ini alhamdulillah sudah diberi kesempatan luar biasa. Di UNICEF, Care. Bahkan bersyukur bisa mengajar kader-kader. Sampai begitu berkesan.

Capek nggak, Bu?

Kalau lillahita’ala, tidak ada kata capek. Saya kadang ketika bangun pagi bingung, saya ada di mana, ya? Tapi itulah, saya ini di depan Tuhan mungkin ibarat ikut MLM (multi level marketing). Kaki-kaki saya sudah banyak dan itu menambah poin buat saya.

Kalau dilihat-lihat, Anda ini seperti melawan arus, ya? Sama seperti adik Anda….

(Utami tertawa berderai) ya, kita semua melawan arus. Tapi, dari semua saudara saya, cuma Harry itulah yang jadi seniman, sisanya dokter seperti saya. Jadi nyentrik-nya sudah disedot dia semua.

Nama: Dr Utami Roesli, SpA, MBA, CIMI, IBCLC

Tempat dan tanggal lahir: Semarang, 17 September 1945

Pendidikan:

  • 1999 memperoleh Certificate Infant Massage Instructors (CMI) dari Kansas City, Missouri, USA
  • 1994 meraih gelar MBA dari University of The City of Manila
  • 1993 menjabat Kepala Bagian Anak Rumah Sakit Sint Carolus dan Ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI Rumah Sakit St Carolus
  • 1980 menamatkan pendidikan dokter spesialis anak di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
  • 1972 meraih gelar dokter umum
    Posisi dan Jabatan:
  • Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit St Carolus
  • Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia, lembaga swadaya masyarakat yang menggerakkan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan
  • Sekretaris Satuan Tugas ASI PP IDAI
  • Konsultan ASI besertifikat internasional (IBCLC)
  • Anggota ikatan alumni Universitas Padjadjaran, Ikatan Dokter Indonesia, WABA
  • Kandidat penghargaan IDI
    Nama Suami: Ir Rulyadi Hadinoto

    Nama Anak:

    1. Andi Sjarif
    2. Reza Sjarif

    Nama Cucu: Muhammad Raffa Yuswan Sjarif

    Sumber : Koran Tempo

  • May 6, 2007 - Posted by | Article

    2 Comments »

    1. Ijin ngopi tulisannya ya untuk tambahan referensi buku. Terima kasih.

      Comment by Ummu Syifa | April 2, 2009 | Reply

    2. Silakan Ibu…

      Comment by Administrator | April 2, 2009 | Reply


    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: