ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Pelatihan Manajemen Laktasi

PELATIHAN MANAJEMEN LAKTASI
RSAB HARAPAN KITA, 12-13 MEI 2007 Pada tanggal 12-13 Mei 2007 lalu, Perhimpunan Perinatologi Indonesia (Perinasia) kembali sukses menyelenggarakan pelatihan manajemen laktasi di Rumah Sakit Harapan Kita – Jakarta. Pelatihan yang berlangsung total 20 jam selama 2 hari ini, diikuti oleh 16 peserta dari berbagai kalangan, baik medis (4 perawat, 4 bidan, 4 dokter umum dan 2 dokter spesialis anak) maupun non-medis (2 orang ibu rumahtangga) dengan dipandu Ibu Hesti Kristina Tobing, SKM. Para pengajar pun adalah mereka yang sudah sangat kompeten dalam bidang laktasi, di antaranya Prof. Dr. Rulina Suradi, Sp.A(K), IBCLC, Dr. Wirastari Marnoto, Sp.A, Dr. Sri Duryati, MSc. PhD dan Dra. Isje Sulistio. Pelatihan ini sebenarnya sudah diadakan
sebanyak 52 kali sejak tahun 2002 dan meliputi seluruh daerah Indonesia, dari Aceh sampai Papua, dengan total peserta terdiri dari 1200 bidan, 620 perawat, 530 dokter umum, 108 dokter spesialis anak dan 53 dokter spesialis obstetri-ginekologi.

Latar-belakang diadakannya pelatihan tersebut karena adanya keprihatinan para anggota Perinasia akan situasi pemberian ASI eksklusif di Indonesia. Berdasarkan data SDKI 1998 hanya 52% ibu yang memberikan ASI eksklusif, padahal dalam kesepakatan Innocenti 1990 ditargetkan pada tahun 2000, 80% ibu akan memberikan ASI eksklusif. Selanjutnya dalam SDKI 2002, angka pemberian ASI eksklusif hanya meningkat sedikit menjadi 55,1%, ini pun menurun menjadi 40% dalam waktu 6 bulan. Kemudian dalam survey Human Development Index salah-satu lembaga terkemuka dunia, disebutkan Indonesia menduduki urutan ke-109 dari 191 negara, atau no.9 dari 10 negara ASEAN. Sungguh suatu hal yang memprihatinkan bila negara sekaya dan seindah Indonesia harus terpuruk sumber daya manusianya. Melihat hal ini, sejalan dengan misi Perinasia untuk meningkatkan kualitas hidup ibu dan bayi melalui pencegahan penyakit, kecacatan dan kematian akibat proses reproduksi, maka salah-satu jalan yang paling efektif adalah dengan menggalakkan program laktasi.

Seperti diketahui manfaat ASI eksklusif tidak saja bagi bayi (mengurangi morbiditas berbagai penyakit, mencegah maloklusi dan karies dentis, peningkatan sistem imun, optimalisasi perkembangan kognitif dan motorik) dan ibu (mencegah perdarahan post-partum, mengurangi risiko kanker ovarium dan payudara, juga sebagai metode KB sementara yang efektif), tetapi juga bagi negara, secara tidak langsung melalui peningkatan SDM dan secara langsung melalui penghematan devisa. Hingga kini seluruh produk susu yang ada di Indonesia sebenarnya merupakan produk impor (beberapa hanya pengalengannya saja yang dilakukan di Indonesia), dengan demikian bila 80% bayi lahir (dari total kelahiran ± 4.500.000 bayi/ tahun, dengan asumsi kebutuhan 44 kaleng susu selama 6 bulan @ Rp. 40.000,-/kaleng) mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan maka dapat dihemat devisa negara hingga US$ 704 juta. Sungguh luar biasa, bukan?

Pelatihan manajemen laktasi ini terbagi dalam 2 hari. Dalam pelatihan hari pertama, peserta masih lebih banyak dibimbing secara teori mengenai dasardasar anatomi dan fisiologi laktasi, manfaat ASI dan juga mengenai masalah-masalah yang mungkin timbul dan cara-cara mengatasinya. Sedangkan pada hari kedua, dengan menggunakan berbagai alat peraga, peserta mulai diajak untuk simulasi konseling dan belajar teknik memerah ASI yang benar serta mempraktekkan cara-cara tatalaksana masalah laktasi seperti puting lecet, payudara bengkak, bayi bingung puting dan masalah pada ibu bekerja.

Bila dilihat dari antusiasme peserta pada setiap sesi pelatihan, seharusnya program ASI eksklusif di Indonesia mampu dilaksanakan dengan baik. Akan tetapi mungkin di tengah gencarnya promosi susu formula, banyak keyakinan ibu-ibu yang akhirnya goyah akan keunggulan dan manfaat ASI. Terbukti dari salah-seorang peserta non-medis yang menyesali diri karena dahulu saat anak pertamanya lahir, ia tidak memberikan ASI dan memilih menggunakan susu formula dengan pertimbangan harga yang semakin mahal berarti gizinya semakin baik. Dari pengalaman Prof. Rulina pada suatu talkshow, seorang ibu juga menanyakan kekhawatirannya: apakah anaknya kelak akan bisa pintar mengingat selama ini dia hanya memberikan ASI dan bukan susu formula yang mengandung AA dan DHA yang penting untuk perkembangan otak tersebut? Bila kesimpang-siuran informasi semacam ini terus berlanjut dapat diperkirakan akan sangat banyak ibu-ibu yang beralih ke susu formula.

Namun hal ini juga bukan satu-satunya faktor penghambat. Faktor penghambat utama pemberian ASI seringkali justru berasal dari kalangan medis sendiri. Misalnya rumah-sakit yang belum menerapkan sistem rawat gabung, ataupun rumahsakit yang masih memberikan susu formula (bahkan dengan dot) pada bayi-bayi baru lahir. Berdasarkan pengalaman Ibu Hesti, beliau menuturkan saat anak pertamanya lahir oleh salah-seorang dokter kebidanan terkemuka, ia tidak diijinkan memberikan ASI on demand pada bayinya, melainkan harus terjadwal setiap 3 jam sekali. Kemudian saat anaknya berusia 2 bulan, ia sudah disarankan untuk memberikan makanan tambahan. Hasilnya? Sang anak sering jatuh-sakit akibat daya tahan tubuh yang rendah. Untunglah saat anak keduanya lahir, Ibu Hesti sudah berketetapan hati untuk memberikan ASI eksklusif dan benar saja, anaknya ini pun tumbuh jauh lebih sehat dan lebih aktif dibandingkan anaknya yang pertama.

Dengan demikian, memang merupakan hal yang penting agar pertama-tama diadakan penyeragaman ‘program’ bagi kalangan medis sendiri sehingga mereka kelak mampu mengedukasi dan memotivasi pasien dengan tepat. Di samping itu, langkah selanjutnya juga perlu diadakan penyebarluasan informasi laktasi ini ke masyarakat awam, misalnya melalui pelatihan manajemen laktasi, yang sayangnya hingga kini mayoritas peserta hanya dari kalangan medis. Mungkin untuk ke depannya, akan lebih baik bila kegiatan tersebut dipromosikan ketengah-tengah masyarakat secara terbuka, misalnya melalui iklan di media cetak maupun elektronik. Biar bagaimanapun, selamat untuk Perinasia yang sudah sukses terus menyelenggarakan berbagai programnya demi mewujudkan ibu dan bayi sehat menuju masyarakat sehat-produktif.

Dr. Dewi Surya Kusuma
FKUI, Jakarta

Sumber : IDAI

July 19, 2007 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: