ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Relaktasi? Tidak Mustahil Lho

Anak-anak yang tidak cocok dengan pemberian susu formula bisa mendapatkan ASI kembali. Produksi ASI dari seorang ibu dapat diaktifkan kembali.

Tidak ada asupan gizi terbaik bagi bayi hingga berusia dua tahun selain air susu ibu (ASI). Bila kandungan gizi susu formula tetap, gizi ASI menyesuaikan kebutuhan bayi. Terkadang, sebagian ibu kesulitan untuk menyusui. Berbagai gangguan menjadi kendala, mulai tekanan dari lingkungan, minimnya pengetahuan orangtua tentang ASI, hingga berbagai mitos tidak benar seputar menyusui.

Hal tersebut menjadi penyebab kegagalan ibu menyusui dengan baik. Produksi ASI berkurang dan bayi malas menyusu sehingga ASI mengering. Berbagai informasi mengenai ASI akhir-akhir ini semakin banyak ditularkan untuk menyadarkan orangtua betapa pentingnya “cairan hidup” anugerah dari Tuhan tersebut.

Pemberian ASI eksklusif kepada bayi selama enam bulan yang diteruskan hingga anak berusia dua tahun ditambah makanan pendamping yang tepat, akan meningkatkan kualitas kesehatan bayi hingga tumbuh dewasa nanti. Pertanyaan yang kemudian timbul ialah apakah bisa seorang ibu yang telah lama berhenti menyusui, kemudian ingin kembali menyusui anaknya.

Jawabannya, hal itu bisa dilakukan. Jadi, jika ibu tersebut memutuskan kembali menyusui anaknya setelah berhenti menyusui sama sekali beberapa lama, ini disebut dengan relaktasi atau kembali menyusui.

Menurut dr Utami Roesli SpA MBA IBCLC dari Sentra Laktasi Indonesia, relaktasi adalah proses menyusui kembali yang dilakukan setelah beberapa hari, beberapa minggu, bahkan beberapa tahun setelah berhenti menyusui. Beberapa alasan perlu dilakukannya relaktasi, antara lain sebagai bagian dari pengobatan rehidrasi pada bayi mencret dan kurang gizi setelah penyapihan, ingin menyusui kembali setelah disapih atau memulai menyusui yang tertunda karena bayi prematur, ibu atau bayi sakit keras.

Selain itu, relaktasi juga biasanya dilakukan karena bayi tidak cocok dengan berbagai susu formula atau ibu berubah pikiran ingin menyusui, dari pemakaian susu formula. Bisa juga karena kondisi harga susu formula yang terus meroket.

“Kasus ekstrem relaktasi dikerjakan seorang nenek yang menyusui cucunya. Selain itu, juga dikenal adoptive breastfeeding, yaitu usaha untuk menyusui anak adopsi. Tentunya dengan motivasi yang kuat, maka bisa mengeluarkan ASI,” ujar dr Utami dalam media gathering, “ASI adalah Solusi: Respons Lembaga Peduli ASI terhadap Kenaikan Susu” di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dia mencontohkan, seorang bidan yang bertemu dirinya mengatakan bahwa dia berhasil menyusui empat anak adopsinya. “Jadi, seorang ibu yang baru saja berhenti menyusui tiga atau enam bulan, hampir pasti bisa menyusui kembali. Sementara itu, nenek yang sudah menopause saja bisa menyusui lagi atau ibu yang tidak pernah hamil dan melahirkan juga bisa menyusui. Hanya, memang ada tahap-tahap yang harus dilakukan dan dibantu oleh konselor laktasi,” papar wanita yang gencar melakukan penyuluhan pemberian ASI ini.

Saat ini, di dunia laktasi, relaktasi sangat mungkin dilakukan oleh setiap ibu. Meski perlu diketahui bahwa selama masa istirahat dari kegiatan menyusui, produksi ASI mungkin menjadi jauh berkurang bahkan terhenti. Nah, saat sang ibu hendak menyusui kembali, seluruh organ produksi ASI butuh waktu untuk mempersiapkan diri agar dapat bekerja kembali dan siap memproduksi ASI.

“Seorang ibu dari Bantul yang tidak pernah menyusui hingga anak berusia empat bulan, lalu menyusui, maka diperlukan waktu sekira 1,5 bulan. Dengan cara yang benar dan tepat, ini bisa dilakukan untuk pemenuhan gizi anak di bawah usia dua tahun,” tegas dr Utami.

ASI Kembali Lancar

Ada teknik-teknik khusus untuk kembali membuat si organ produksi ASI bekerja kembali. Namun, intinya ada dua hal, yaitu dilakukan stimulasi pada payudara dan organ-organ produksi ASI dengan cara dipompa atau diperas.

Kedua, mengajarkan kembali sang anak bagaimana cara menyusu di payudara sang ibu. Di sini biasanya dibutuhkan alat tambahan, seperti lactationaid. Mengenai pentingnya pemberian ASI, menurut Ir Kresnawan MSc dari Departemen Kesehatan, sesuai rekomendasi mengenai optimal feeding dari World Health Organization (WHO) ada empat unsur, yaitu inisiasi menyusui setelah bayi lahir, ASI eksklusif sampai usia enam bulan, mulai usia enam bulan diberi makanan pendamping ASI yang berkualitas, dan menyusui hingga usia anak dua tahun.

“Di WHO tidak pernah disebut-sebut sampai usia dua tahun itu susu. Kalau di luar negeri, yang dinamakan implementary food yaitu makanan pendamping. Tidak pernah menyebut susu,” ujar Kresnawan, yang juga sebagai ahli gizi. Kresnawan menambahkan, kandungan nutrisi dari susu, seperti protein dan kalsium, sebenarnya dapat diperoleh dari bahan makanan lain yang dikonsumsi sehari-hari.

“Misalnya, untuk protein dapat diperoleh dari tempe, tahu, dan kacang-kacangan. Memang ini termasuk protein nabati, tapi kalau dikombinasikan dengan makanan yang lainnya juga bisa memenuhi kebutuhan. Kalau kita mengacu ke gizi seimbang, tidak perlu takut kekurangan gizi, meskipun tanpa susu. Walaupun, susu dapat dijadikan pilihan,” tuturnya. (ririn sjafriani/sindo/mbs)

sumber: okezone

July 20, 2007 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: