ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Puasa tak Pengaruhi Kualitas ASI

Puasa hanya mengubah jadwal, bukan mengubah masukan kalori, protein, dan vitamin yang kita konsumsi.

Seperti umat Islam lainnya, Wulan menyongsong hadirnya bulan Ramadhan dengan rasa gembira. Tapi untuk Ramadhan kali ini, ia mengaku sedikit cemas. Ada apa gerangan?

Rupanya, Wulan ingin berpuasa namun tetap bisa menyusui bayinya yang kini berusia 11 bulan. ”Aku takut ASI (Air Susu Ibu)-ku menjadi kering saat berpuasa. Padahal, aku kan ingin menyusui anakku sampai dua tahun,” tutur ibu dua anak yang tinggal di Cileungsi, Bogor ini. Walau agak cemas, Wulan akhirnya berpuasa juga. Sesuai anjuran dokter langganannya, ia selalu mengonsumsi makanan bergizi saat sahur dan buka, tak lupa minum susu, dan selalu memerhatikan asupan cairan. ”Alhamdulillah, ASI-ku tetap lancar,” ucap Wulan.

Secara medis, puasa memang tidak berpengaruh pada kualitas ASI. Artinya, silakan saja jika ibu menyusui hendak berpuasa. ”Puasa itu hanya sekadar mengubah jadwal, bukan mengubah masukan kalori, protein, dan vitamin yang kita konsumsi,” kata dr Ova Emilia MMed SpOG PhD, spesialis obstetri dan ginekologi dari SMF (Staf Medik Fungsional) Rumah Sakit Dr Sardjito/Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. ”Apabila pada hari biasa ada makan pagi, siang, dan malam, maka pada saat puasa jadwalnya diubah,” sambung Ova.

Hal penting yang perlu dilakukan ibu menyusui saat puasa adalah memilih makanan yang tepat untuk dikonsumsi. Sekadar contoh, pada saat sahur, sebaiknya tidak terlalu banyak makan buah dan sayuran. Memang, buah-buahan dan sayuran membuat cepat kenyang. ”Namun, makanan ini gampang ‘dipecah’ (mudah diurai oleh tubuh untuk diserap dan difungsikan) sehingga membuat badan cepat lemas.”

Jangan pula sahur dengan makanan yang terlalu banyak mengandung karbohidrat. Menurut Ova, makanan yang kaya karbohidrat cepat menjadi energi, namun cepat hilang juga sehingga sensasi lapar lebih cepat muncul. Jadi sebaiknya, konsumsilah makanan sumber karbohidrat secukupnya, dan tingkatkan konsumsi makanan berprotein tinggi seperti telur dan daging. Untuk daging, pilih yang tidak banyak mengandung lemak.

Jika ingin menikmati sayur dan buah-buahan dalam jumlah banyak, sebaiknya tidak di waktu sahur, melainkan di waktu buka. ”Jika setelah buka merasa kenyang karena mengonsumsi sayur dan buah tersebut, maka minum susunya setelah shalat Tarawih.” Selain sumber protein, susu merupakan sumber kalsium yang sangat dibutuhkan ibu menyusui. Meski puasa, menurut Ova, asupan kalsium ibu menyusui harus tetap tinggi, bahkan lebih tinggi dari ibu hamil. Kalau ibu hamil butuh asupan kalsium sekitar 1.000 miligram per hari, maka ibu menyusui perlu sampai 1.200 miligram. Selain susu, kalsium banyak terkandung pada ikan laut dalam.

Tak pengaruhi produksi ASI
Dengan ‘siasat’ gizi seperti di atas, ibu menyusui tak perlu khawatir ASI-nya akan berkurang selama puasa. ”Itu kan hanya kekhawatiran saja, dan bila ibu khawatir memang akan memengaruhi produksi ASI,” kata Ova. Mengutip hasil satu penelitian, Ova menegaskan, kualitas ASI dari ibu yang berpuasa dengan pola makan yang baik, tidak akan mengalami penurunan.

Dan jika selama di bulan Ramadhan, produksi ASI menjadi lebih banyak pada malam hari, ibu disarankan untuk memerah ASI-nya lalu ditampung di dalam botol, kemudian disimpan di almari pendingin (kulkas). ASI yang disimpan dengan cara seperti ini bisa tahan selama 24 jam. Nah, ketika hendak diminumkan kepada si kecil pada siang hari, ASI dalam botol tersebut direndam terlebih dulu di dalam air panas supaya tidak terlalu dingin.

Lalu, bagaimana cara yang baik untuk memerah ASI? Ova menyarankan untuk memakai tangan saja, bukan pompa. Mengapa? Memerah ASI menggunakan pompa berpotensi melukai puting payudara. ”Kalau memerah ASI dengan tangan, rangsangan ada pada seluruh payudara. Jika memakai pompa, rangsangan hanya pada daerah puting dan daerah gelap pada payudara, sehingga kemungkinan luka pada puting menjadi lebih besar.” nri

sumber : http://www.republika.co.id/

September 25, 2007 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: