ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Susui Si Buyung Segera Setelah Lahir

Seorang bayi mungil baru saja lahir. Setelah tali pusar dipotong, si bayi segera didekatkan ke dada ibunya, tanpa pembatas selembar kain pun. Sang ayah lalu mendekat, mengumandangkan azan ke telinga si kecil. Dokter Utami Roesli SpA MBA IBCLC, terharu menyaksikan peristiwa setahun lalu itu. Ia merasakan peristiwa tersebut sebagai pengalaman yang paling indah dalam hidupnya.

”Selama 35 tahun jadi dokter, ini pertama kali saya melihat seorang ayah mengazankan anaknya di dada ibunya. Indah sekali,” kata Utami, mengisahkan saat-saat kelahiran cucu pertamanya. Dan tak hanya indah. Inisiasi menyusu dini seperti yang dilihat Utami itu juga sangat penting. ”Selama ini, orang tidak menyadari bahwa ibu dan bayi sudah dapat berinteraksi pada menit-menit pertama setelah si buah hati lahir,” kata dokter spesialis anak dari Rumah Sakit St Carolus ini ketika berbicara dalam seminar Inisiasi Menyusu Dini di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Utami, interaksi antara ibu dan jabang bayi yang baru lahir akan terjadi bila bayi segera diletakkan di perut atau dada ibu dengan kulit ibu melekat di kulit bayi. Tahukah Anda, meski baru saja dilahirkan, si jabang bayi dapat merangkak ke arah payudara dan menyusu sendiri. Sungguh menakjubkan. Bahkan, yang juga tidak banyak disadari, suhu kulit ibu akan menyesuaikan dengan suhu yang dibutuhkan bayi.

Mengutip penelitian Dr Lennart Righard (pakar sekaligus peneliti dari Department of Pedriatics, University of Land, Malmo General Hospital Swedia), Utami mengatakan, pada dasarnya bayi sudah bisa menyusu sendiri segera setelah lahir. Sebaliknya, pemisahan ibu dan bayi dalam jangka waktu tertentu setelah kelahiran bisa berakibat bayi tidak dapat menyusu.

Mengambil sampel 72 ibu dan bayi baru lahir, Lennart membagi mereka ke dalam dua kelompok, masing-masing kelompok bayi lahir normal, dan kelompok bayi yang lahir dengan bantuan obat-obatan atau tindakan. Bayi lahir normal pun dibagi dua. Sebagian diletakkan di perut ibu setelah lahir dan tidak dipisahkan selama setidaknya satu jam, sebagian lainnya dipisahkan dari ibu untuk ditimbang dan dimandikan. Hasilnya, dalam 20 menit, bayi yang diletakkan di perut ibunya mulai merangkak ke arah payudara dan menyusu dalam 50 menit. Sebaliknya, bayi lahir normal yang dipisahkan, 50 persen tidak dapat menyusu sendiri.

Bayi lahir dengan obat-obatan atau tindakan lebih parah lagi. Meski tak dipisahkan dari sang ibu setelah lahir, tak semua dari mereka (bayi-bayi yang lahir dengan bantuan obat atau tindakan) dapat menyusu. Apalagi yang dipisahkan dari ibunya, 100 persen tidak dapat menyusu. ‘Karena itu, menunda permulaan menyusu lebih dari satu jam akan menyebabkan kesukaran menyusui,” kata Utami.

Tingkatkan risiko kematian bayi
Tak hanya menyebabkan kesulitan menyusu, menunda permulaan menyusu juga meningkatkan risiko kematian bayi. Penelitian Edmond K dan para koleganya dari Department for International Development, Inggris, menunjukkan hal itu.

Menggelar riset di Ghana terhadap 10.947 bayi lahir dan disusui, Edmond menemukan, bayi yang mulai menyusu dalam satu jam pertama, sebanyak 22 persen dapat diselamatkan dari kematian. Sementara bayi yang mulai menyusu pada hari pertama, sebanyak 16 persen dapat diselamatkan dari kematian. Makin lama permulaan menyusu ditunda, makin meningkat pula risiko kematian si bayi.

Utami mengakui, semula ia pun tidak menyadari pentingnya inisiasi menyusu dini. Sebagaimana dipahami banyak orang, maka setelah dilahirkan, bayi lebih dulu dibersihkan lalu diselimuti. ”Jujur, saya juga begitu dulu,” ucapnya. ”Yang benar, begitu lahir, tali pusar dipotong lalu lekatkan bayi ke dada ibu. Jangan dibedong. Kalau dia dingin, suhu tubuh ibu akan naik,” ujar pakar ASI (Air Susu Ibu) dari Sentra Laktasi Indonesia ini.

Menurut Utami, kontak kulit dengan kulit menjadi penting karena dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat. Kehangatan saat menyusu menurunkan risiko kematian karena hipothermia. Ibu dan bayi pun merasa lebih tenang, pernapasan dan detak jantung bayi menjadi lebih stabil, bayi pun tidak sering menangis sehingga mengurangi pemakaian energi.

Selain itu, saat merangkak mencari payudara, bayi menjilat-jilat kulit ibu. Saat itu, bayi menelan bakteri baik yang ada di kulit ibu. Bakteri baik ini membuat koloni di usus dan kulit bayi untuk menekan bakteri jahat. Lebih penting lagi, bayi akan mendapatkan ASI kolostrum, cairan ’emas’ yang kaya akan antibodi dan zat penting lain yang baik untuk pertumbuhan usus dan daya tahan terhadap infeksi.

Tidak hanya itu. Menurut Utami, sentuhan, emutan, dan jilatan bayi pada puting ibu akan merangsang keluarnya oksitosin yang penting untuk beberapa hal, antara lain: menyebabkan rahim berkontraksi untuk membantu pengeluaran plasenta dan mengurangi perdarahan ibu, merangsang hormon-hormon lain yang membuat ibu menjadi tenang, rileks, dan mencintai bayi. Oksitosin juga bermanfaat untuk meningkatkan ambang nyeri dan merangsang aliran ASI dari payudara.

Dari semua itu, ada hal lain yang dapat dirasakan amat berarti dalam kehidupan rumah tangga. Seperti dituturkan Utami, ibu dan ayah akan merasa sangat bahagia melihat bayinya untuk pertama kali dalam keadaan seperti itu. Ayah dapat mengumandangkan azan untuk anaknya yang berada di dada sang ibu. ”Ini mungkin menjadi langkah awal dari keluarga sakinah.” bur

Sumber  : Republika

December 16, 2007 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: