ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Ibu Sehat Anak Nikmat

Kamis, 12 Juni 2008

Gaya Hidup

Menyusui adalah proses spiritual yang membutuhkan konsentrasi, kenyamanan, dan ketenangan pikiran.

Kado terindah dari seorang ibu bagi buah hatinya adalah air susu ibu (ASI). Karunia dari Yang Mahakuasa itu khusus diberikan kepada kaum ibu yang baru melahirkan dan menjadi santapan paling bergizi bagi si mungil. Beberapa penelitian mengungkapkan anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif tiga bulan pertama atau lebih memiliki skor inteligensia lebih tinggi dibanding yang tidak mendapat ASI.

Kesimpulan ini diungkapkan tim peneliti yang dipimpin oleh Dr Michael S. Kramer dari Universitas McGill dan Rumah sakit Anak Montreal di Kanada terhadap 7.108 bayi di Belarus. Namun, tak semua ibu mendapat jalan mulus saat memberi ASI. Bagaimana bila ASI tak mancur atau jumlahnya minim? Belum lagi, pada wanita pekerja, ada kecemasan lain, seperti masa cuti yang sebentar lagi habis dan rasa tidak berdaya karena tidak bisa memberi ASI sepanjang hari.

Menurut terapis penyembuhan holistik Reza Gunawan, kehadiran pikiran-pikiran seperti itu justru membuat ASI menjadi tidak lancar. Ia menjelaskan, proses menyusui tidak sekadar memberi minum bayi melalui payudaranya, tapi lebih dari itu. Dalam pemberian ASI terkandung makna ikatan perasaan yang akan mempererat hubungan ibu-anak. Bisa dibilang menyusui adalah proses spiritual yang membutuhkan konsentrasi, kenyamanan, serta ketenangan hati dan pikiran.

“Teori medisnya, ASI untuk perkembangan kejiwaan dan pengasuhan dengan kasih sayang,” ujarnya dalam acara bertajuk “Sharing & Caring Menyusui Sukses tanpa Stres” yang digelar Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) di Dharmawangsa Square, Rabu lalu.

Praktisi penyembuhan holistik dari True Nature Holistic Healing ini mengatakan setiap orang adalah penyembuh terbaik bagi dirinya sendiri. Demikian pula kondisi ASI yang tidak lancar bisa jadi disebabkan oleh masalah yang berakar pada diri si ibu sendiri. “Sekitar 70 persen kasus pasien anak dan bayi ternyata sumber masalahnya ada pada orang tuanya, sehingga tak hanya si anak yang perlu disembuhkan, orang tuanya pun perlu penyembuhan diri sendiri,” ia mengungkapkan.

Reza menuturkan, agar produksi ASI senantiasa lancar, si ibu harus relaks, merasa bahagia, dan menjauhkan diri dari stres. Bagaimanapun, menyusui melibatkan pikiran. “Pabrik” ASI berhubungan erat dengan hormon oksitosin atau sering disebut sebagai hormon cinta. Produksi hormon oksitosin akan meningkat ketika seseorang berada dalam kondisi bahagia, seperti jatuh cinta dan mendapat hadiah, termasuk mendapat anugerah terindah berupa kelahiran sang buah hati.

Bila hormon oksitosin dalam tubuh sedang meningkat, produksi ASI pun bisa melonjak. Sebaliknya, jika si ibu dilanda stres, kadar oksitosin menurun sehingga produksi ASI ikut rendah. Semakin ibu panik, semakin macet pula produksi ASI. “Jadi, kuncinya adalah relaks dan tidak stres. Bagaimana cara si ibu mengelola kesehatan dan keselarasan jiwanya akan berpengaruh signifikan terhadap produksi ASI,” tuturnya.

Berdasarkan pengalaman Reza menangani pasien, ada beberapa kekhawatiran yang kerap menghinggapi seorang ibu, misalnya merasa ASI yang dikeluarkannya tidak cukup, merasa repot karena sebentar lagi harus kembali bekerja, menderita sakit saat masa menyusui, khawatir kehilangan kebebasan hidup, memiliki masalah relasi dalam keluarga dan pekerjaan, serta tidak mendapat dukungan dari keluarga untuk memberikan ASI. Selain itu, ada kecemasan karena trauma seputar kehamilan, menyusui, dan mengasuh anak yang belum tuntas.

Untuk itu, Reza menyarankan agar ibu tidak mengabaikan diri sendiri. Artinya, untuk mampu mengasuh anak dengan baik, si ibu harus memperhatikan dirinya. Si ibu harus sehat tubuh, sehat pikiran, dan sehat jiwa. “Ibu harus merawat dan membahagiakan dirinya. Ini bukan tindakan egois, melainkan membangkitkan perasaan bahagia dalam diri ibu, ini dapat meningkatkan hormon oksitosinnya,” ujarnya.

Manusia adalah makhluk bioelektromagnetik. Setiap detik jantung berdetak, ada pancaran gelombang elektromagnetik yang mempengaruhi orang lain di sekitar. Pikiran positif yang jauh dari stres akan memancarkan aura positif bagi lingkungan sekitarnya. “Hal yang sama terjadi dari ibu ke bayinya saat menyusui,” Reza mengungkapkan.

Karena itu, saran utama Reza bagi ibu hamil, melahirkan dan menyusui untuk belajar menyelaraskan diri sehingga merasa relaks, serta mampu menata dan melepaskan emosi. Caranya bisa dengan yoga, beribadah, dan berdiam diri dalam kamar alias meditasi, mendengar kata hati atau melakukan kegiatan yang dapat menyalurkan stres, seperti menulis buku harian. Walhasil, segala unek-unek bisa tumpah tanpa mengganggu kenikmatan si kecil. MARLINA

Sumber : Koran Tempo

June 12, 2008 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: