ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Yang Eksklusif dari Ibu Kerja

Rabu, 18 Juni 2008

Gaya Hidup

Yang penting ibu mengetahui manajemen laktasi dan percaya diri.

Mendung di wajah Anita sulit dihapus. Padahal dua setengah bulan lalu ia baru dianugerahi anak lewat persalinan normal. “Cutiku kan sudah mau habis. Apa bisa aku kasih air susu ibu eksklusif selama 6 bulan?” ujar dia kepada sahabatnya. Maklum, niat memberikan ASI selama setengah tahun sudah bulat di hatinya. Namun, ia terbentur pada posisinya sebagai ibu pekerja, yang hanya punya waktu tiga bulan cuti melahirkan.

Anita atau ibu pekerja lain yang baru melahirkan sebenarnya tidak perlu gundah. Tak perlu ada keraguan memberikan yang terbaik untuk si buah hati, sehingga tak perlu buru-buru memberikan susu formula di samping ASI seperti pengalaman Indri. Perempuan berusia 40 tahun ini memperkenalkan susu formula sejak kedua anaknya berusia 2 bulan. “Biar nanti, kalau pas waktunya aku masuk kerja, anakku tidak perlu adaptasi lagi karena ASI nggak ada,” ujar ibu pekerja yang kedua anaknya kini masing-masing telah duduk di taman kanak-kanak dan sekolah dasar itu.

Konsultan laktasi internasional, dr Dien Sanyoto Besar, SpA, menyatakan memberikan ASI eksklusif masih bisa dilakukan ketika ibu bekerja. “Yang penting ibu itu tahu manajemen laktasi dan percaya diri,” ujarnya dalam acara sharing & caring yang digelar Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) di Dharmawangsa Square, Senin pekan lalu.

Agar bisa tetap memberikan ASI kendati tidak langsung, ibu bisa memerah ASI dan menyimpannya. ASI perah dimasukkan ke botol, lalu disimpan dalam lemari pendingin yang ada di kantor. Untuk menjaga kebersihan wadah penyimpanan maupun alat pompa ASI, sebaiknya ibu mempunyai alat sterilisasi. “ASI perah biasanya untuk keesokan harinya,” kata Dien.

Dien menambahkan, untuk menjaga kualitas dan kuantitas produksi ASI, ibu haruslah mengkonsumsi makanan bergizi, terutama sayuran, minum cairan, cukup istirahat, sering menyusui atau memerah ASI, serta memijat payudara. Karena itu, ibu penting mengetahui cara memerah, menyimpan, dan menyajikan ASI perah untuk bayinya. ASI sebaiknya diperah setiap tiga jam karena produksi susu akan makin melimpah jika lebih sering dikeluarkan.

ASI pada dasarnya dapat dikeluarkan melalui tiga cara, yakni menggunakan tangan, alat manual, atau memakai alat pompa elektrik. Cara apa pun yang dipilih, faktor kebersihan harus tetap diperhatikan. Sebelum memerah ASI, cucilah tangan dengan sabun dan air hingga bersih dan sediakan wadah tertutup yang bersih dan steril untuk menampung ASI. Kemudian perah sedikit ASI, lalu oleskan pada puting dan areola karena air susu ibu mengandung zat antibakteri. Memerah ASI dibutuhkan keterampilan dan latihan. Untuk itu, jangan mudah putus asa bila ASI Anda tidak tidak sebanyak yang diinginkan. Dianjurkan, sebelum cuti berakhir, ibu sudah mulai berlatih memerah ASI.

Konsuler ASI dari AIMI, Nia, menambahkan, pada saat menyimpan ASI, sebaiknya wadah ASI perah diberi label waktu pengambilan. Pemberian ASI perah bisa dilakukan dengan sendok atau cangkir. “Pemberian ASI perah sebaiknya tidak menggunakan botol, untuk menghindari bingung puting,” ia menyarankan. Marlina Marianna Siahaan | aimi-asi.org

Tip Menyimpan ASI

1. Sebelum dimasukkan ke freezer, ASI perah (ASIP) ditaruh lebih dulu di lemari es bagian bawah. Sebaiknya simpan dalam volume 60-120 ml per botol untuk mengurangi sisa yang terbuang.

2. Bila memungkinkan, gunakan ASIP yang belum beku karena kandungan nutrisi dan zat-zat antiinfeksinya lebih tinggi.

3. Boleh saja menggabungkan ASIP hasil beberapa kali pompa dalam satu wadah, tapi dengan sejumlah syarat, di antaranya ASIP segar dapat digabungkan sewadah dengan ASIP lain yang berada dalam suhu ruangan. Namun, bila ingin digabungkan dengan ASIP yang disimpan di dalam lemari es, harus didinginkan dulu.

Menghangatkan ASIP

1. Berikan ASIP dengan hari dan tanggal paling lama lebih dulu.

2. Cium aromanya. Bila baunya asam dan rasanya basi, jangan digunakan lagi.

3. Cairkan ASIP beku selama 12 jam dalam lemari es sebelum diberikan kepada bayi.

4. Hangatkan ASIP dingin dengan cara meletakkan botolnya di dalam mangkuk berisi air hangat atau pegang botol ASIP di bawah aliran air hangat.

5. Jangan panaskan ASIP di atas kompor.

6. Jangan pula dipanaskan dalam microwave.

7. Karena ASI tidak bersifat homogen, bila disimpan, cenderung terjadi proses pemisahan. Lemak akan naik ke atas dan membentuk lapisan krim. Kocok secara perlahan-lahan sebelum diberikan.

8. Jangan lupa periksa suhu ASIP yang sudah dihangatkan sebelum diberikan kepada bayi. Bila perlu, cicipi ASIP terlebih dulu sebelum diberikan. aimi-aimi-asi.org

Sumber : Koran Tempo

June 18, 2008 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: