ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

ASI Eksklusif Ditinggalkan

Selasa, 01 Juli 2008 00:01 WIB
JAKARTA (MI): Kasus gizi buruk pada anak Indonesia lebih disebabkan pada rendahnya pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif. Faktanya pemberian ASI eksklusif pada bayi di Indonesia selama enam bulan terus menurun dibandingkan pemberian susu formula.
Menurut data yang dikeluarkan Badan PBB untuk anak (UNICEF) yang dikeluarkan dalam lima tahun sekali, disebutkan bayi di Indonesia yang menikmati ASI eksklusif selama 6 bulan hanya 7,2% pada 2007. Sedangkan bayi yang menggunakan susu formula mencapai 27,9%.
Kecenderungan jumlah bayi yang mendapatkan ASI ekslusif di Indonesia terus menurun. Sebelumnya pada 1997 bayi dengan ASI eksklusif sebanyak 7,9% dan pada 2002 menurun menjadi 7,2%.
Sedangkan pemberian susu botol pada bayi terus meningkat. Pada 1997, bayi yang diberi susu formula sebesar 21,1%, kemudian pada 2002 turun menjadi 16,7%, kemudian meningkat lagi pada 2007 sebesar 27,9%.
Menurut Anne H Vincent, Kepala Seksi Nutrisi dan Kesehatan UNICEF dalam kunjungannya di kantor Media Indonesia kemarin, kondisi tersebut sangat memprihatinkan.
”Pemberian ASI eksklusif merupakan yang terbaik, bukan pemberian susu formula. Ada kalanya ibunya takut anaknya nanti bodoh, apabila tidak diberi susu formula. Semua ini karena ketidaktahuan masyarakat,” kata Vincent.
Ia mencontohkan di Yogyakarta, terdapat tujuh kecamatan yang paling parah akibat gempa. Pada saat itu perusahaan susu formula menyumbangkan susu formula untuk balita. Yang terjadi diare pada balita meningkat 6 kali dibandingkan balita yang tidak minum susu formula.
Tidak sedikit rumah sakit atau puskesmas jadi ajang promosi susu formula. Ibu-ibu yang melahirkan anak, langsung disodori susu formula, bukan diberikan ASI pada satu jam pertama saat bayi lahir.
Sedangkan payung hukum untuk melindungi bayi-bayi dari cekokan susu formula masih lemah. Pemerintah belum memberikan sanksi tegas pada perusahaan susu formula yang memberikan produknya pada bayi saat pertama kali dilahirkan.

Cegah kematian

Dalam kesempatan yang sama pakar gizi UNICEF Anna Winoto menjelaskan, dari hasil penelitian ASI eksklusif di 42 negara seperti dimuat oleh The Lancet edisi 2003, disebutkan bahwa pemberian ASI eksklusif bisa menyelamatkan 1,3 juta balita.
”Ternyata untuk menyelamatkan bayi dari kematian, bukan pemberian vitamin A, pemberian kelambu supaya mencegah malaria, atau intervensi lainnya, melainkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan,” jelas Anna.
Bila dirujuk pada kasus di Indonesia, ASI eksklusif bisa menyelamatkan 30 ribu bayi. Penelitian lain yang dilakukan WHO dan UNICEF pada 2006 di 6 negara yakni Brasil, Ghana, India, Oman, Norwegia, dan Amerika Serikat bisa disimpulkan pemberian ASI pada satu jam pertama saat bayi dilahirkan akan mengurangi kematian bayi sebesar 22%. ”Apabila itu diterapkan di Indonesia, sebanyak 21 ribu bayi bisa selamat.”
Dan dari hasil penelitian itu, bayi-bayi di enam negara yang diberi ASI eksklusif memiliki tingkat pertumbuhan yang sama. ”Dengan kata lain, anak-anak Indonesia bisa tumbuh sejajar dengan anak-anak di negara lain, karena pada dasarnya telah memiliki gizi yang cukup lewat pemberian ASI eksklusif.” (Nda/H-1)

Sumber : Media Indonesia – Edisi Cetak Pagi – Humaniora

July 1, 2008 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: