ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

RS Dilarang Jual Susu Formula

Jumat, 11 Juli 2008 00:01 WIB
Kesehatan Bayi Terganggu dan Rawan Diare
JAKARTA (MI): Departemen Kesehatan siap berikan teguran keras bagi
rumah sakit yang bekerja sama dengan perusahaan susu formula sekaligus
mendistribusikannya bagi bayi untuk tujuan komersial.

”Kalau ada rumah sakit yang membagikan produk susu formula pada
balita, segera laporkan ke saya. Mereka akan kami beri teguran
keras,” tegas Dirjen Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Farid
W Husain kepada Media Indonesia di Jakarta, kemarin.
Menurut Farid, jangankan untuk membagi-bagikan produk susu formula,
sekadar memasang iklan produk susu formula di kawasan rumah sakit
tidak diperkenankan. Perihal sanksi, ia mengaku Depkes belum memiliki
landasan hukum yang kuat untuk memberikan sanksi pada pihak rumah
sakit yang kedapatan bekerja sama dengan produsen susu formula untuk
tujuan komersial.
”Semua itu termasuk sanksi akan dimasukkan ke Rancangan Undang-Undang
Rumah Sakit yang hingga kini masih dalam tahap pembahasan.”
Menurut data yang dikeluarkan badan PBB untuk anak (UNICEF) yang
dikeluarkan setiap lima tahun sekali, bayi di Indonesia yang menikmati
ASI eksklusif selama enam bulan hanya 7,2% pada 2007. di sisi lain,
bayi yang menggunakan susu formula mencapai 27,9%.
Kecenderungan jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif di Indonesia
terus menurun. Sebelumnya pada 1997 bayi dengan ASI eksklusif sebanyak
7,9% dan pada 2002 menurun menjadi 7,2%.
Di lain pihak, pemberian susu botol pada bayi terus meningkat. Pada
1997, bayi yang diberi susu formula sebesar 21,1% kemudian pada 2002
turun menjadi 16,7% kemudian meningkat lagi pada 2007 sebesar 27,9%.
Menurut Anne H Vincent, Kepala Seksi Nutrisi dan Kesehatan UNICEF,
tingginya pemberian susu formula di Indonesia disebabkan ketidaktahuan
masyarakat. ”Sumber dari kekurangan gizi pada anak Indonesia
disebabkan sejak lahir, mereka tidak diberi ASI eksklusif.”

Rawan diare
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Yayasan Kusuma Bangsa Adi Sasongko
menolak pembagian produk susu formula di rumah sakit. ”Pembagian susu
formula pada balita hanya demi tujuan komersial. Tidak ada hubungannya
dengan urusan medis. Ini harus dilarang keras,” tegasnya.
Ia mengakui pemberian susu formula pada bayi berdampak sangat negatif
bagi pertumbuhan bayi, baik fisik maupun psikis. ”Bila sejak lahir
bayi sudah diberi susu formula, ada kecenderungan anak menjadi
kecanduan terhadap produk susu formula. Bayi pun tidak bersemangat
minum air susu ibu (ASI),” tegasnya.
Dampak lain yang tidak kalah mengkhawatirkan ialah pencernaan bayi
terganggu karena susu formula tidak mudah diserap usus bayi dan produk
ASI ibu pun menurun. Padahal, ASI memang diciptakan untuk bayi.
Kandungan ASI telah disesuaikan dengan kondisi tubuh bayi. ”Apalagi
kolostrum pada ASI punya manfaat untuk menjadi imun bagi tubuh
bayi.”
Sementara itu, dari segi ekonomi, ASI diberikan secara gratis,
sedangkan susu formula yang terbuat dari susu sapi itu lebih mahal.
Ia mengkritik gencarnya iklan di masyarakat tentang susu formula
membuat masyarakat lebih memilih produk tersebut. ”Ini keputusan yang
salah. Pemberian susu formula rawan terinfeksi oleh virus dan kuman.
Sebab, pembuatan susu formula harus dengan air panas dan botol harus
steril. Bila terinfeksi kuman, bayi mudah diare.” (Tlc/H-3)

sumber : Media Indonesia

July 11, 2008 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: