ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Jurus Memangkas Alergi Susu Sapi

Rabu, 16 Juli 2008

Penundaan pemberian susu sapi justru meningkatkan risiko alergi.

Isi keranjang belanja Kiki, 30 tahun, tak seperti ibu lain yang memiliki anak balita. Bukannya oleh merek aneka susu anak yang kerap didengung-dengungkan di layar televisi, keranjangnya malah dipenuhi merek khusus susu kedelai. Demikian juga jenis susu kemasan yang dipilihnya, ia mencomot susu keledai dalam kemasan bantal. “Anakku, kan, alergi susu sapi, jadi aku pilih susu kedelai,” ujarnya ketika melihat ekspresi keheranan rekannya yang menemaninya belanja suatu sore.

Ketika anaknya divonis alergi susu sapi, dokter memang langsung menyarankan Kiki menunda pengenalan susu sapi atau makanan cair kepada si kecil. Saran seperti itu memang paling sering dilontarkan para ahli medis ketika menemui kasus alergi susu. Ternyata, masih sedikit bukti ilmiah yang mendukung nasihat tersebut. Temuan terbaru justru menyebutkan sebaliknya. Penundaan pemberian susu sapi bukannya menurunkan risiko alergi, malah meningkatkan peluangnya pada dua tahun pertama kehidupan anak. Hal ini diungkapkan Dr Bianca E.P. Snijders dari Universitas Maastricht dan rekannya setelah menganalisis dara dari 2.558 bayi.

Tim peneliti dari Belanda ini dalam penelitiannya juga meminta ibu memberi info soal kesehatan mereka di akhir masa kehamilan dan pada usia 3, 7, 12, dan 24 bulan setelah melahirkan. Informasi yang diminta termasuk jenis makanan yang dikonsumsi dan gejala alergi yang mereka alami. Selain itu, para bayi menjalani tes dan pemeriksaan gejala alergi pada dua tahun pertama.

Hasil tes tersebut memperlihatkan penundaan perkenalan anak dengan produk susu sapi di atas usia 9 bulan secara signifikan justru mampu meningkatkan risiko bayi menderita eksim, yakni kelainan kulit kronis yang ditandai dengan lapisan kering dan gatal di permukaan kulit. Penundaan masa pengenalan makanan lain pada bayi melebihi waktu tujuh bulan juga berkaitan dengan kenaikan peluang serangan eksim, dermatitis atopik, serta bersin-bersin. Hasil penelitian ini dipaparkan dalam jurnal Pediatrics edisi bulan ini.

“Manfaat penundaan pemberian makanan lain untuk mencegah alergi pada bayi masih dipertanyakan,” ucap Snijders seperti dikutip dari situs Medlineplus. Walau demikian, berdasarkan pengetahuan saat ini, Snijders menyatakan terlalu dini untuk mengubah panduan tentang pengenalan susu sapi pada bayi. Saat ini, ia menyebutkan, pemberian air susu ibu (ASI) tetap menjadi prioritas utama dan secara medis terbukti menguntungkan bagi kesehatan bayi.

Soal alergi susu sapi ini, dalam seminar The Hidden Faces of Cow’s Milk Allergy yang digelar di Surabaya beberapa waktu lalu, Carlos H. Lifschitz, MD, associate professor dari Baylor College of Medicine, Texas Children Hospital, mengungkapkan alergi susu sapi terjadi karena sistem kekebalan tubuh bayi bereaksi terhadap protein susu sapi. “Reaksi muncul dengan gejala tertentu, umumnya menyerang tiga organ tubuh, yaitu kulit, saluran cerna, dan saluran napas,” katanya.

Alergi susu sapi merupakan bentuk alergi makanan yang paling sering ditemukan pada anak usia kurang dari dua tahun. Para ahli memperkirakan 2-7 persen anak pada kelompok usia ini mengalami alergi susu sapi. Dari sejumlah penelitian diketahui, kebanyakan anak yang alergi terhadap susu sapi juga bereaksi sama terhadap susu kambing dan domba. Beberapa di antara mereka juga alergi terhadap protein dalam susu kedelai. Bayi yang mendapat ASI umumnya berisiko lebih rendah mengalami alergi susu ketimbang bayi yang meneguk susu formula. Namun, kalangan ilmuwan ini tidak terlalu paham mengapa beberapa anak mengalami alergi terhadap susu, sedangkan yang lain tidak. Dalam beberapa kasus dipercaya bahwa alergi berhubungan erat dengan faktor genetik. Uniknya, sering kali alergi susu ini akan hilang dengan sendirinya ketika bayi menginjak usia 3-5 tahun.

Yang perlu diingat, alergi susu sapi tidak sama dengan laktosa intoleren–kondisi tubuh tidak mampu mencerna gula lakstosa. Kondisi ini jarang terjadi pada bayi, tapi lebih sering pada anak-anak di atas dua tahun dan dewasa.

Gejala alergi susu, menurut Carlos, bisa bersifat akut atau jangka pendek (sebelum 45 menit), sedang (muncul antara 45 menit dan 20 jam), dan lebih dari 20 jam setelah mengkonsumsinya. “Tanda-tanda yang tampak bisa berupa muntah, gatal-gatal pada kulit, sakit perut, kembung, diare, konstipasi, napas berbunyi, dan bersin,” tuturnya.

Karena itu, menu makanan anak penderita alergi susu sapi perlu dipantau dan dipastikan tidak ada kandungan susu sapinya. “Terutama bila anak menderita reaksi anafilaksis atau serangan alergi mendadak yang membahayakan jiwa.” Carlos menyarankan pada bayi yang menderita alergi susu sapi cukup diberikan ASI. Jika pada kondisi tertentu ASI tidak bisa diberikan, ia menyarankan agar mengganti ASI dengan susu formula terhidrolisis sebagian (partially hidrolized) dan terhidrolisis penuh (extensively hydrolized) daripada menggunakan susu kedelai (soya). Dr Andrea von Berg dari Marien-Hospital Wesel, Von Berg, Jerman, pun telah membuktikan bahwa jenis susu formula tersebut cocok untuk anak di bawah enam tahun. YEKTHI HM | MARLINA | KIDSHEALTH.ORG

Sumber : http://www.korantempo.com/

July 16, 2008 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: