ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

“Semua kebutuhan nutrisi Si Kecil terdapat dalam ASI, termasuk AA, DHA, sphynogomyelin dan sialic acid”

Kamis, 17 Juli 2008

Tiga Rangsangan untuk Si Kecil

Ketiga kebutuhan anak ini sebaiknya sudah diberikan sejak kehamilan 6 bulan.

“Siapa yang ingin anaknya tumbuh menjadi anak cerdas?” teriakan Dr Soedjatmiko, SpA (K), Msi, menggema di Plaza Semanggi, Sabtu lalu, dalam sebuah acara diskusi. Pastilah semua orang tua menginginkan anak mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas. Namun, tak semua orang paham cara agar bayi dan anak balita tumbuh kembang optimal, sehat, cerdas, kreatif, dan berperilaku baik.

Untuk meraih harapan itu, Soedjatmiko menyodorkan tiga modal yang harus digenggam para orang tua. “Supaya bayi dan balita tumbuh kembang optimal, jawabannya hanya ada tiga hal, yaitu kebutuhan fisik-biologis, kasih sayang, dan stimulasi sejak di dalam kandungan,” ujar dokter spesialis anak dan konsultan tumbuh kembang Pediatri Sosial pada Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, ini.

Ia menjelaskan, yang disebut kebutuhan fisik-biologis berupa nutrisi, seperti air susu ibu (ASI), makanan pendamping ASI, imunisasi, kebersihan badan, serta lingkungan tempat tinggal, bergerak, dan bermain. “Kebutuhan fisik-biologis terutama berpengaruh pada pertumbuhan fisik, seperti otak, alat pengindraan, dan alat gerak untuk mengeksplorasi lingkungan,” ujarnya.

Untuk kebutuhan kasih sayang buat bayi dan balita, Soedjatmiko menyebutkan terutama berupa rasa dilindungi, aman dan nyaman, diperhatikan dan dihargai, keinginan atau pendapatnya didengar, serta tidak mengutamakan hukuman dengan kemarahan, tapi lebih banyak memberikan contoh-contoh dengan penuh kasih sayang dan kegembiraan. “Kebutuhan kasih sayang besar pengaruhnya pada kemandirian dan kecerdasan emosi anak,” ucapnya.

Lantas kebutuhan stimulasi meliputi berbagai permainan yang merangsang semua indra (pendengaran, penglihatan, sentuhan, penciuman, dan mengecap), merangsang gerakan kasar dan halus, berkomunikasi, emosi-sosial, kemandirian, serta berpikir dan berkreasi. “Kebutuhan stimulasi bermain sejak dini akan besar pengaruhnya pada berbagai kecerdasan anak atau multiple intelligent,” ujar Soedjatmiko.

Menurut dia, ketiga kebutuhan pokok itu harus diberikan secara bersamaan sejak anak berada dalam kandungan karena akan berpengaruh. Bila kebutuhan fisik-biologis tidak tercukupi, gizinya akan kurang dan sering sakit, yang membuat perkembangan otak tidak optimal. Bila kebutuhan emosi dan kasih sayang tidak tercukupi, kecerdasan emosi rendah. Dan jika stimulasi bermain kurang bervariasi, perkembangan kecerdasan kurang bervariasi.

Soedjatmiko menyatakan cara melakukan stimulasi sebaiknya harus disesuaikan dengan umur dan tahapan umur kembang anak. Rangsangan dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita, misalnya, ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton televisi, berada di dalam kendaraan, menjelang tidur, atau dilakukan melalui kelompok bermain atau sejenisnya.

Dia menambahkan, ketiga rangsangan itu sebaiknya sudah diberikan sejak kehamilan enam bulan. Pasalnya, pertumbuhan percabangan sel-sel otak paling cepat sejak kehamilan 6 bulan sampai anak berumur 2 tahun. Inilah yang disebut masa keemasan.

Soedjatmiko menjelaskan, sel otak janin sudah tumbuh dan berkembang sejak bulan pertama di dalam kandungan kemudian membelah dengan cepat mencapai 100 miliar sel sambil berkembang sesuai dengan tempat dan fungsi masing-masing.

Nah, sejak kehamilan 6 bulan, sel itu membentuk banyak sinaps (hubungan antarsel otak) dengan berbagai rangkaian fungsional yang kompleks. “Jadi kualitas sirkuit otak bergantung pada kualitas rangsangan dan nutrisi yang didapat sejak di dalam kandungan sampai umur 2 tahun,” dia menjelaskan. Proses perkembangan otak ini berlangsung sangat cepat dan kompleks sampai umur 2 tahun setelah itu melambat pada usia sekolah dan remaja.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Dr Ir Ali Khomsan, MS, pakar nutrisi dari Institut Pertanian Bogor, menambahkan, asupan nutrisi yang kurang berdampak pada bobot badan atau tinggi badan dan perkembangan bayi. “Apabila bayi mengalami anemia atau kekurangan zat besi, dapat membatasi potensi intelektual, suplai oksigen ke otak menjadi terbatas sehingga berdampak pada penurunan tingkat inteligensi (IQ) sebesar 40-80 juta poin,” ucapnya.

Menurut Soedjatmiko, karena tumbuh kembang otak sejak kehamilan 6 bulan sampai umur 2 tahun sangat cepat dan penting, bayi membutuhkan banyak protein, karbohidrat, dan lemak. Pasalnya, sampai berumur 1 tahun, 60 persen energi makanan bayi digunakan untuk pertumbuhan otak. Selain itu, bayi dan balita membutuhkan vitamin B1, B6, asam folat, yodium, zat besi, kalsium, zinc, AA, DHA, sphynogomyelin, sialic acid, dan asam-asam amino, seperti tyrosine dan tryptophan. “Semua kebutuhan nutrisi tadi terdapat dalam ASI, termasuk AA, DHA, sphynogomyelin dan sialic acid,” katanya. marlina marianna siahaan

Sumber : http://www.korantempo.com/

July 17, 2008 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: