ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Susu Tercemar, Kembali ke ASI

Jumat, 10 Oktober 2008 | 01:11 WIB

Oleh Posman Sibuea

Heboh susu formula yang terkontaminasi bakteri enterobacter sakazaki hasil penelitian IPB belum tuntas dijelaskan, disusul skandal besar dari China.

Saluran televisi CCTV melaporkan, inspeksi di seluruh China menemukan melamin dalam produk yang dihasilkan perusahaan susu terbesar di China. Sementara itu, pihak berwenang di Hongkong mengatakan telah menemukan melamin dalam susu formula, es krim, dan yoghurt.

Akibatnya, lebih dari 54.000 bayi dan anak-anak sakit serta beberapa mati setelah minum susu formula terkontaminasi melamin. Melamin, zat kimia yang biasa digunakan untuk membuat plastik, lem, dan pembersih, diyakini ditambahkan untuk mengelabui kadar protein susu sehingga tampak lebih tinggi.

Waspada

Masyarakat patut waspada atas produk olahan susu asal China yang beredar di Indonesia. Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (FDA) AS mengingatkan untuk tidak membeli susu formula buatan China yang terkontaminasi melamin. Wakil Uni Eropa meminta Pemerintah China menjelaskan kasus pencemaran susu itu.

Penambahan melamin pada produk susu amat berbahaya bagi kesehatan bayi dan anak-anak. Meski kajian ilmiah tentang bahaya melamin bagi manusia masih terbatas, dalam hewan percobaan menunjukkan zat kimia itu bisa menimbulkan pembentukan batu ginjal dan kerusakan sistem reproduksi.

Penggunaan melamin pada susu bisa menimbulkan efek awal serangan akut saluran pencernaan, di antaranya muntah dan mencret. Disusul gangguan fungsi dan kerusakan organ tubuh lain, seperti fungsi otak, hati, ginjal, mata, hingga telinga. Bahkan, melamin dapat merusak sistem kekebalan tubuh sehingga bayi dan anak-anak mudah terserang flu dan mengalami infeksi karena virus dan bakteri, yang akhirnya bisa menyebabkan kematian.

Melamin merupakan polimerisasi antara monomer formaldehid dan monomer fenol. Bila kedua senyawa bergabung, sifat racun formaldehid terlebur menjadi satu senyawa, melamin. Dalam senyawa melamin, formaldehid dapat muncul kembali karena depolimerisasi yang dipicu perlakuan panas atau efek fisik lain. Akibat proses ini, formaldehid terlepas menjadi monomer bersifat racun dan karsinogenik. Formaldehid yang masuk tubuh dapat mengganggu fungsi sel dan menyebabkan kanker.

Mengawasi keamanan

Untuk mengantisipasi perdagangan produk susu impor dari China yang mudah dijumpai di pasar, Badan POM patut melakukan uji laboratorium dan mengawasi keamanan produk pangan, khususnya susu, secara berkala. Anak-anak Indonesia wajib mendapat perlindungan dari kemungkinan mengonsumsi produk impor yang membahayakan kesehatan. Pemerintah harus menghindari sekadar tukang catat dalam proses registrasi produk impor karena percaya laporan kandungan produk yang diberikan produsen.

Hal yang tak kalah penting adalah mengawasi sumber lain melamin. Saat diperkenalkan pertama kali sekitar 1970, perlengkapan makan dari bahan melamin memikat konsumen. Murah dan praktis penggunaannya. Tak heran jika produk melamin murah itu mudah dijumpai. Penjaja bakso, warung makan, sampai usaha jasa boga mulai mengganti perangkat makan dari beling dan gelas dengan melamin guna mengurangi risiko rugi karena pecah. Produsen makanan siap saji, seperti biskuit bubur bayi, menyertakan perlengkapan makan dari melamin murah itu dalam kemasan sebagai hadiah guna memikat calon pembeli.

Namun, hasil uji produk menunjukkan, tak semua melamin memenuhi food grade. Di antaranya ada yang mengandung zat beracun dan bisa berpindah ke makanan akibat proses pemanasan, misalnya dipakai untuk menyimpan sayur panas. Hal ini bisa membahayakan kesehatan konsumen yang mempunyai bayi. Alih-alih aman dengan menyucihamakan wadah makanan bayi dengan direbus justru berbahaya. Kandungan formaldehid dari mug yang direbus selama 30 menit amat tinggi, yakni mencapai 8,82 mg/l. WHO merekomendasi, paparan maksimum 1-2 mg/l.

Belajar dari kasus pencemaran susu, baik oleh bakteri enterobacter sakazaki maupun melamin, penting dipahami, susu formula bayi bukan produk steril 100 persen sehingga dalam penggunaan dan penyimpanannya perlu perhatian khusus. Selain itu, kecenderungan kaum ibu tidak meneteki bayinya hingga enam bulan pertama harus menjadi perhatian pemerintah.

Mendapatkan ASI merupakan salah satu hak asasi bayi. ASI adalah makanan ideal bayi yang tidak tergantikan oleh susu formula sebab memenuhi semua kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang, baik kebutuhan fisis-biomedis, kasih sayang, maupun stimulasi. Gerakan kembali ke ASI patut direvitalisasi agar kualitas SDM bangsa ini kian meningkat pada masa datang.

Posman Sibuea Ketua Lembaga Penelitian Unika St Thomas Medan; Direktur Center for National Food Security Research (Tenfoser) Medan, Sumatera Utara

Sumber : Kompas

October 10, 2008 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: