ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

ASI dan Sentuhan, Awali Ikatan Kasih Sayang Ibu Anak

By Republika Newsroom
Kamis, 08 Januari 2009 pukul 12:57:00

Sentuhan, Awali Ikatan Kasih Sayang Ibu AnakCORBIS.COMTERTAWA: Rangsangan positif yang dapat membuat bayi dan ibu tertawa bersama sangat baik untuk mengasah panca indera.

JAKARTA– Ikatan kasih sayang (bonding) antara bayi dengan orangtua terutama ibu dapat berkembang melalui hal-hal sederhana. Bahkan seketika setelah ibu melihat dan menggendong buah hatinya tersebut.

Istilah bonding bisa diartikan sebagai sebuah formasi kedekatan emosi dan psikologis dari orangtua dan bayi yang biasanya terjadi dalam hitungan menit, jam atau hari setelah bayi lahir.

Menurut Michael Mendizza, rekan-penulis buku Magical Parent-Magical Child, the Optimum Learning Relationship, pendiri sekaligus direktur pelaksana Touch the Future, organisasi nirlaba bidang anak dan pengembangan manusia, bonding  ialah hubungan yang tercermin-timbal balik.

Dia menuturkan, selama kehamilan, kelahiran dan sesudahnya, jika tidak terganggu oleh sesuatu, alam mempertautkan bioritmik, frekuensi jantung, keseimbangan hormon, pola tidur dan ribuan sistem dari kehidupan ibu dan bayinya ke dalam pola-pola yang terikat timbal balik.

“Bayi memberi rangsangan yang akurat bagi ibu untuk membuka dan mengembangkan kapasitas-kapasitas baru, dan ibu pun melakukan hal yang sama untuk bayi. Bahasa mereka adalah non-verbal, sensasi dan perasaan,” ujar Mendizza menggambarkan bonding yang dilansir dalam situs touchthefuture.org.

Ikatan tersebut memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman pancaindera, pertukaran zat-zat gizi dan pertukaran informasi yang diperlukan untuk perkembangan otak secara sehat dan normal.

Alam berharap bonding akan berkembang. Untuk alasan inilah, menurut Mendizza, alam “menempatkan” bayi di dekat tubuh dan payudara ibunya. Perhatikanlah betapa sederhananya prinsip alam dalam mengembangkan bonding yaitu dekatkan bayi ke tubuh dan payudara ibunya.

James W. Prescott, Ph.D, psikolog syaraf perkembangan dan psikolog lintas-budaya dari Insititute of Humanistic Science, Amerika Serikat, menyusun makalah bertajuk Ten Principles of Mother-Infant Bonding for Health, Happiness and Harmony.

Penelitian Dr. Prescott dan rekan-rekan, sejak 1960-1980 menemukan, kurangnya atau tak adanya kontak intim penuh kasih sayang antara para ibu dan bayinya selama periode paling peka dalam perkembangan otak dapat menyebabkan ketidaknormalan otak permanen yang terkait dengan pola-pola depresi, kekerasan, gangguan makan, agresi dan kekerasan pada anak dan orang dewasa.

Penelitian lainnya dilakukan oleh John Kennell and Marshall Klaus, dua orang dokter anak asal Amerika Serikat itu itu dilakukan mengenai bonding antara orangtua dan anak pada tahun 1970-an. Kennel dan Klaus meneliti para bayi yang berada di ruang intensif.

Keduanya menemukan, para bayi yang segera diambil dari ibunya setelah lahir karena kepentingan prosedur medis, maka bayi tersebut akan harus berada di ruang perawatan selama bebera minggu sebelum diperbolehkan pulang.

“Meskipun para bayi ini dapat berkembang dengan baik di rumah sakit, namun persentasi bayi yang bermasalah di rumah kemudian hari lebih tinggi. Bahkan, anak-anak ini cenderung menjadi korban dari pertengkaran atau kekerasan pada anak,” ujar Kennel dan Klaus.

Dari hasil penelitian tersebut, mereka juga menemukan, para ibu dari bayi-bayi tersebut seringkali tidak merasa nyaman dengan bayinya. Bahkan, ibu yang telah mengurus anak sebelumnya, memiliki kesulitan merawat bayi yang sebelumnya ditempatnya di ruang intensif.  Hal itu menandakan bahwa pemisahan ketika bayi lahir telah mengganggu hubungan dasar antara ibu dan bayi.

“Dengan eksperimen memberikan ekstra kontak antara ibu dan bayi prematur ataupun bayi yang lahir normal segera setelah lahir, membuktikan bahwa para ibu akan memiliki hubungan yang lebih dekat, menggendong bayi dengan nyaman, tersenyum dan berbicara lebih sering,” jelas Kennel.

Begitu lahir, si kecil sudah sangat peka dan sadar terhadap lingkungan. Ia siap belajar segala hal. Langkah pertama yang harus dilakukan bayi baru lahir adalah ikatan lahir batin dengan orang-orang yang paling dekat dengannya, yakni orangtuanya.

Orangtua dapat memanfaatkan semua indera, termasuk intuisi, untuk membaca isyarat-isyarat dari si kecil, sebagai bahasa universal untuk berkomunikasi dan menjalin ikatan batin dengannya.

Terjalinnya ikatan batin itu diawali lewat sentuhan dan tatapan mata. Kemampuan penglihatan bayi masih yang sangat terbatas. Jarak pandang terjauhnya tidak lebih dari 25 cm. Maklumlah dunianya masih sebatas payudara ibu saat ia disusui.

Ikatan batin antara Ibu dan si kecil melalui indera penglihatan terbentuk melalui tatapan mata. Tataplah mata si kecil sesering mungkin, terutama pada saat menyusuinya. Biarkan jari-jari mungil tangannya meraih serta menyentuh wajah sebagai upaya untuk lebih mengenal orangtua, sebagai orang yang paling dekat dengan dirinya.

Menurut Psikolog anak di Consumnes River College, California, Amerika Serikat, A. Christine Harris, PhD sentuhan sangat besar maknanya bagi bayi. Sentuhan berperan sebagai pelengkap ‘pelajaran pertama’ mengenal dunia barunya, yang dilakukan bayi pada hari-hari pertamanya.

Untuk membantu fungsi indera si kecil, sentuhlah kulitnya yang halus dan lembut sesering mungkin. Sensasi pada ujung-ujung saraf peraba Anda pada kulit si kecil memungkinkan orangtua untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain, sebagai proses terciptanya ikatan batin yang kuat.

Kemudian, melalui indera pendengaran yaitu telinga sebagai pintu informasi atau data ke dalam otak si kecil. Suara dan kata-kata lembut bernada positif, akan menjadi sebuah masukan data yang baik dalam benak si kecil.

Semakin banyak data baik yang masuk ke dalam otak si kecil lewat pendengarannya, akan semakin kaya pula perbendaharaan si kecil tentang kebaikan. Ucapkanlah kata-kata positif dengan nada lembut di telinganya, baik dengan menyebut namanya, maupun doa serta harapan terhadap si kecil.

Melalui indera penciuman, bayi mengenali kedua orang tuanya, terutama dengan ibunya melalui kegiatan menyusui. Christine Harris menyatakan, sudah terbukti ibu dan bayinya dapat saling mengenali melalui bau tubuh masing-masing. Bau yang dikenali oleh bayi, akan membuatnya tenang dan tidak rewel, serta merangsang bayi untuk minum air susu ibu (ASI) dengan lancar. (ri)

Sumber : Republika

January 8, 2009 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: