ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

ASI dan Ibu Bekerja

Yunita R. Rovroy

06-05-2009

baby feetJika diberi informasi dan bimbingan lebih baik, maka ibu akan memberi bayinya lebih sering dan lebih lama Air Susu Ibu atau ASI. Demikian hasil penelitian majalah kedokteran Belanda, Nederlands Tijdschrift voor Geneeskunde.

Setelah melahirkan, 78 persen perempuan Belanda memberi bayi mereka ASI. Dibandingkan dengan negara-negara lain, persentase ini relatif rendah.

75 dari 78 persen itu kemudian berhenti memberikan ASI sebelum bayi berusia empat bulan.

Padahal pemberian air susu ibu membawa dampak bagus bagi anak maupun ibu. Si anak lebih baik dilindungi dari infeksi, penyakit alergi, obesitas dan diabetes.

ASI juga bisa mempererat hubungan antara ibu dan anak.

Tapi kalau demikian, mengapa kebanyakan ibu berhenti pemberian ASI sebelum atau setelah anaknya berusia empat bulan?

Alasan utama adalah kecemasan terhadap pertumbuhan bayi dan masalah yang dialami semasa pemberian ASI, misalnya payudara terasa sakit.

Kurniawaty, ibu seorang anak berusia 11 bulan, memberi anaknya ASI selama kurang lebih tiga bulan. Dan pemberian ASI itu dimulai sejak bayinya lahir. Mengapa ia kemudian memutuskan berhenti?

“Anak saya menyusu hanya sebentar saja. Saya takut asupan ASI tidak cukup. Lalu saya memutuskan untuk memberi anak saya susu formula saja.”

Supply and demand
Tapi menurut Mia Sutanto dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia AIMI, si ibu sebenarnya tidak perlu khawatir ASInya tidak cukup.

“ASI itu produksinya berdasarkan prinsip supply and demand. Itu satu. Jadi semakin sering disusui, semakin sering ASI dikeluarkan dari payudara, semakin sering payudara dikosongkan, produksi ASI justru akan semakin banyak.”

Tapi, demikian Mia, kelancaran air susu ibu juga sangat ditentukan oleh kondisi mental sang ibu.

“Seandainya ibunya sudah merasa khawatir, ragu, cemas, takut bahwa ASInya sedikit dan tidak bisa mencukupi kebutuhan bayinya, otomatis ASI pasti akan sedikit.”

Tapi sebaliknya, seandainya si ibu merasa percaya diri, tenang, nyaman dan bahagia menyusui bayinya dan percaya diri bahwa ASInya pasti cukup untuk bayinya, otomatis pasti cukup, kata Mia Sutanto.

Selain kekhawatiran ASI tidak cukup, bagi Kurniawaty kendala utama lain adalah kembali bekerja di luar rumah. Baginya tidak mungkin melanjutkan pemberian ASI karena sulit memerah ASI di tempat kerja.

“Saya bekerja di toko penjual pakaian. Di sana waktu beristirahat berbeda-beda jamnya. Kalau lagi butuh orang, karena pelanggannya banyak misalnya, saya diminta membantu teman sekerja saya. Saya misalnya harus mengambil sepatu atau pakaian. Jadi hampir tak mungkin menikmati waktu istirahat setengah jam penuh.”

Lain halnya dengan Sunarsih. Ia tetap melanjutkan pemberian ASI setelah kembali bekerja. Alasannya: tempat kerjanya tidak jauh dari rumah.

“Saya sebagai pekerja swasta, jadi waktu menyusui itu saya bisa memerah ASI dulu dan susunya bisa disimpan di kulkas. Kalau sudah waktunya untuk menyusui, saya kembali lagi ke rumah.”

ASI yang disimpan di kulkas bisa bertahan sampai dengan lima hari. Tapi kalau disimpan di dalam freezer itu bisa tahan lebih lama lagi, kata Mia Sutanto.

“Seandainya disimpan di dalam freezer yang satu pintu dengan kulkas, itu bisa tahan dua sampai tiga minggu. Kalau disimpan di freezer yang pintunya dua, jadi terpisah dari kulkas, bisa tahan empat sampai lima bulan. Tapi seandainya disimpan dalam freezer khusus untuk daging dan sebagainya, itu bisa tahan enam bulan sampai satu tahun.”

Pentingnya ASI
Organisasi Kesehatan Dunia WHO memang menganjurkan bayi hanya diberikan ASI saja sampai berusia enam bulan. Kemudian setelah enam bulan bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI atau solid.

Pemberian ASI kemudian diteruskan sampai si bayi berusia dua tahun atau lebih.

Lalu apa pentingnya pemberian ASI eksklusif?

“Dunia kedokteran menemukan, setelah dilakukan beberapa research, bahwa memang kondisi optimal pencernaan bayi untuk bisa menerima makanan atau asupan lain selain ASI adalah setelah dia berusia enam bulan.”

Dengan kata lain, bayi pada saat usia 0 sampai enam bulan hanya bisa mencerna dan menyerap ASI.

Jadi, demikian Mia, memang yang paling optimal adalah bayi 0 sampai 6 bulan hanya diberikan ASI.

“Yang kedua, selama pemberian ASI 0 sampai 6 bulan, seluruh kebutuhan nutrisi, gizi dan kalori sudah bisa memenuhi sebesar 100% dari ASI. Jadi sebenarnya tidak perlu ditambahkan dengan yang lain-lain. Hanya cukup memberikan ASI saja.”

audioPenelitian juga menunjukkan bayi yang diberikan ASI eksklusif akan mendapatkan perlindungan yang optimal di kemudian hari terhadap berbagai gangguan penyakit, antara lain alergi, infeksi saluran pernafasan dan infeksi saluran pencernaan.

Sumber :

http://www.ranesi.nl/

May 7, 2009 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: