ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Jarang Menyusui, Mengurangi Produksi ASI

Sunday, 14 June 2009

HAMIL dan melahirkan adalah anugerah terbesar bagi seorang wanita. Selanjutnya, predikat sebagai seorang ibu menjadi lengkap ketika dia berhasil menyusui buah hatinya.

Menyusui merupakan suatu aktivitas psikososial yang bisa mendatangkan kebahagiaan tersendiri,terutama bagi ibu yang baru memiliki anak pertama. Menyusui memang menjadi kodrat seorang ibu. Bahkan, jika memungkinkan, idealnya bayi lekas disusui segera setelah dilahirkan.

”Begitu terdengar lengking tangis bayi mengawali kehadirannya di muka bumi,tali pusat digunting, bayi pun ditaruh di atas perut ibu agar dapat merasakan kedekatan emosional.Si kecil pun segera mencari puting susu ibu dan mulai menetek,” kata spesialis anak dari Yayasan Orangtua Peduli, Dr Purnamawati S Pujiarto SpA (K) MMPed.

Dia menambahkan, gagalnya seorang ibu memberi ASI eksklusif sebagian besar sebenarnya disebabkan hal yang bisa dicegah. ”Yang kurang hanya dukungan, baik dari keluarga terdekat maupun petugas kesehatannya itu sendiri,” sebutnya.

Saat menyusui, seorang ibu memerlukan ketenangan pikiran dan sebaiknya jauh dari perasaan tertekan (stres) karena akan berpengaruh terhadap produktivitas ASI dan kenyamanan bayi saat menyusu.”Kuantitas ASI juga tergantung dari isapan bayi yang dapat merangsang hormon prolaktin untuk memproduksi ASI berikutnya,” kata spesialis anak dari Sentra Laktasi, Dr Nanis Sacharina Marzuki SpA.

Mungkin itulah sebabnya ketika ibu mulai jarang menyusui produksi ASI-nya juga kian berkurang. Bahkan,menurut pengakuan beberapa ibu, ada yang ASI-nya tidak keluar sama sekali (kering).

Secara teknis,faktor penyebab berkurangnya produksi ASI, antara lain karena setelah lahir bayi tidak langsung disusui dan ASI tidak diperah.Padahal jika payudara tetap penuh, maka akan terbentuk PIF (Prolacting Inhibiting Factor), yaitu zat yang menghentikan pembentukan ASI. Sedangkan secara psikologis, berkurangnya ASI bisa disebabkan rasa khawatir, stres, rasa nyeri, dan rasa ragu yang dirasakan si ibu.

”Terkadang ibu merasa tidak percaya diri karena ASI-nya kurang. Ditambah lagi pendapat dan saran yang salah dari orang lain menyebabkan ibu cepat berubah pikiran dan jadi stres. Akibatnya bisa menekan refleks sehingga ASI tidak terproduksi dengan baik,”tutur Nanis.

Perlekatan yang tidak tepat antara mulut dan puting susu ibu juga bisa menyebabkan nyeri dan puting menjadi lecet sehingga ASI tidak keluar dengan lancar. Adapun perlekatan yang baik adalah dagu bayi menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dengan bibir bawah terputar ke bawah dan sebagian besar areola (puting susu) ibu masuk ke mulut bayi. ”Untuk meningkatkan jumlah ASI, cobalah berpikir dengan penuh kasih sayang pada bayi,”saran Nanis.(inda)

Sumber : SINDO

June 15, 2009 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: