ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Mendesak, UU Pro-ASI

Air susu ibu (ASI) adalah makanan sempurna bagi bayi. Diperlukan undang-undang (UU) yang dapat melindungi ASI dari gempuran pemasaran susu formula yang kian agresif.

KEJADIAN enam bulan lalu masih membekas di benak Suci. Saat itu, ia dirundung duka mendalam akibat kehilangan salah satu putri kembarnya, Sherina yang baru berusia tiga bulan.
Diare menjadi penyebabnya.

Kejadiannya berlangsung beberapa hari seusai banjir melanda wilayah tempat tinggalnya, di salah satu permukiman padat penduduk Cilincing, Jakarta Utara.

Beberapa hari sesudah meninggalnya Sherina, kembarannya, Intan, juga mengalami buang-buang air besar encer. Karena tidak ingin kejadian sama terulang, Suci segera membawa bayinya ke rumah sakit (RS). Intan pun selamat.

Saat di RS tersebut, selain memperoleh pertolongan medis, Suci mendapat anjuran dari perawat untuk mengganti merek susu formula yang ia gunakan.
Selama masa perawatan, Intan mendapat susu merek baru. Menurut ibu muda itu, sebelumnya ia memang terbiasa memberi ASI dikombinasikan dengan salah satu merek susu formula kepada bayinya.

“Saya menggunakan susu botol pertama kali atas anjuran dukun bayi yang membantu kelahiran anak saya.
Waktu memeriksakan Intan di RS, petugas di sana menganjurkan saya berganti merek. Akhirnya sampai sekarang saya memakai merek itu.
Sejak beberapa bulan lalu, ASI saya sudah tidak keluar,” terang Suci yang hadir pada lokakarya mengenai ASI, di Bogor, akhir pekan lalu.

Penuturan Suci menjadi salah satu bahan diskusi dalam lokakarya yang diadakan Unicef, Mercycorps dan Usaid dalam rangka menyambut Pekan ASI Sedunia (1-7 Agustus) itu.
Beberapa pertanyaan mengemuka di forum.

Antara lain, mengapa sejak dilahirkan anak-anak Suci diberi susu bubuk padahal ia mampu menyusui?
Bukankah pemakaian susu formula membuat pengeluaran belanjanya meningkat?
Mengapa tenaga medis di RS menganjurkan Suci berganti merek susu dan tidak menekankan pentingnya ASI untuk memulihkan Intan dari diare? Bukankah di tengah bencana banjir yang menimpa lingkungan tempat tinggal Suci, air bersih sulit didapat, lantas bagaimana ia dapat membuat susu botol dengan higienis?
Setelah menganalisis kejadian yang menimpa Suci, Nutrition Specialis Unicef Anna Winoto menuturkan Suci adalah salah satu korban pelanggaran kode etik pemasaran susu formula.
WHO menetapkan kode itu sejak 1981.

“Banyak produsen susu memanfaatkan dokter, bidan, bahkan dukun bayi untuk memasarkan produk mereka.
Seperti yang menimpa Suci, di RS ia dianjurkan berganti merek susu, bukannya dibimbing untuk mengoptimalkan pemberian ASI,” kata Anna.

Menurut Anna, selain pemanfaatan tenaga medis, banyak lagi jenis pelanggaran kode etik pemasaran susu pengganti ASI yang terjadi di Indonesia.

Seperti, munculnya iklan dan promosi susu formula di berbagai media, pemberian sampel susu gratis, paket susu untuk ibu melahirkan, penampilan logo dan merek susu pada selimut, timbangan, papan nama dan boks bayi di RS, juga pemasaran langsung oleh sales promotion girl (SPG) yang banyak dilakukan di mal-mal besar.

Anna melanjutkan, berbagai pelanggaran tersebut membuktikan betapa pemasaran produk susu pengganti ASI telah begitu agresif. Hal itu harus dicegah mengingat pemakaian susu formula berpotensi membahayakan bayi, menggeser pola pemberian ASI yang pada akhirnya dapat berujung pada kasus kurang gizi.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan tren pemberian ASI eksklusif enam bulan pada bayi mengalami penurunan.
Padahal, ASI adalah makanan terbaik bagi bayi. “Kandungan gizi ASI berubah dari hari ke hari menyesuaikan kebutuhan bayi. ASI mengandung enzim serta zat kekebalan tubuh. Tidak ada satu pun produk susu yang dapat menyamai keunggulan ASI,” kata Ketua Perhimpunan Pernatalogi Indonesia (Perinasia) dr Asti Praborini SpA.

Payung hukum Mengapa pemasaran susu formula di Indonesia kian hari kian gencar?
Salah satu penyebabnya adalah ketiadaan aturan `bergigi’ yang mampu membatasi peredaran dan pemasaran produk pengganti ASI.

Ketua Sub Direktorat Pengawasan Gizi Departemen Kesehatan Kresnawan mengungkapkan, terkait dengan pemasaran produk susu, sejauh ini peraturan yang ada hanyalah setingkat keputusan menteri kesehatan (kepmenkes). Yakni, Kepmenkes No 237/Menkes/SK/IV/1997.

“Peraturan itu tidak cukup kuat untuk menindak secara hukum pelanggaran kode etik pemasaran susu yang dilakukan produsen,” ujar Kresnawan.

Kresnawan menuturkan, sempat ada keinginan untuk meningkatkan kepmenkes tersebut menjadi peraturan pemerintah (PP). Namun, setelah ditelusuri, ternyata tidak ada undangundang (UU) yang bisa menjadi cantolan pembentukan PP tersebut.

Dalam proses pembahasan selanjutnya, tambah Kresnawan, muncul ide agar dibuat saja keputusan presiden (keppres) tentang pemasaran susu.
Harapannya, agar peraturan kuat yang bisa mengatur pemasaran produk pengganti ASI bisa segera terbentuk.
Namun, lanjut Kresnawan, setelah sempat dibahas dalam sebuah rapat kabinet, rencana pembentukan itu kandas di tengah jalan.

Kini harapan ada pada UU No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan yang tengah diamendemen. Amandemen UU kesehatan tersebut, pada Bab XI Pasal 88 dinyatakan, `Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu secara eksklusif selama enam bulan kecuali jika mendapat kedaruratan medis’.

Jika amendemen berhasil, UU tersebut bisa menjadi cantolan bagi lahirnya peraturan-peraturan turunan yang mendukung pemberian ASI eksklusif bagi bayi dan membatasi pemasaran produk pengganti ASI.

Tentu saja komitmen kuat dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk keberhasilan amendemen tersebut. Terlebih, menurut Ketua Lembaga Advokasi Rakyat Menuju Sehat (Laramse) Elang P Oasis, nilai bisnis susu formula cukup besar.

“Nilainya diperkirakan mencapai US$15 miliar per tahun, sebuah nilai yang bisa menciptakan lobi kuat dari pihak produsen untuk menghadang proses amendemen. Hal itu perlu kita waspadai,” ujar Elang mewanti-wanti.

Sumber : MI

August 5, 2009 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: