ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Mitos dan Fakta ASI


BEBERAPA data menunjukkan tren pemberian air susu ibu (ASI) mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya adalah mitos seputar ASI yang menyesatkan. Untuk meluruskan mitos tersebut, Ketua Sentra Laktasi Indonesia (Selasi) dr Utami Roesly SpA memberi penjelasan berikut.
Mitos: Teknologi berhasil membuat susu formula mirip ASI.
Fakta: Kandungan gizi ASI berubah dari waktu ke waktu. Bahkan kandungan ASI di pagi hari berbeda dengan siang atau malam hari. Hal itu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan bayi. Tidak ada satu jenis susu formula yang menyamai sifat ini.
ASI juga mengandung berbagai enzim dan zat kekebalan tubuh, sedangkan susu formula tidak.
Mitos: Bayi menjadi cerdas dengan konsumsi susu formula yang mengandung AA dan DHA.
Fakta: AA dan DHA memang diperlukan untuk perkembangan otak bayi. Kedua zat itu banyak terkandung dalam ASI.
Namun, AA dan DHA pada ASI berbeda dengan yang ada di susu formula. AA dan DHA pada ASI jauh lebih mudah diserap usus bayi.
Mitos: Bayi yang baru lahir menangis karena lapar, karenanya perlu diberi susu formula sembari menunggu kondisi ibunya pulih seusai melahirkan.
Fakta: Dalam kondisi stabil, pada 48 jam pertama kehidupannya bayi tidak memerlukan asupan makanan. Bayi menangis bukan karena lapar, tapi karena memerlukan kontak dengan ibunya.
Biarkan bayi yang baru lahir berada di dada ibunya selama minimal 1 jam untuk proses inisiasi menyusu dini.
Mitos: Ibu yang terlanjur berhenti menyusui tidak dapat mengeluarkan ASI lagi.
Fakta: Teknik-teknik relaktasi membantu ibu yang berhenti menyusui untuk mengeluarkan ASI dan menyusui kembali.
Mitos: Menyusui mengubah bentuk payudara jadi jelek.
Fakta: Perubahan bentuk payudara tidak disebabkan karena proses menyusui, tapi karena proses kehamilan.
Mitos: Payudara kecil dan puting datar tidak dapat mengeluarkan ASI yang cukup untuk bayi.
Fakta: Bentuk dan ukuran payudara serta puting tidak memengaruhi produksi ASI. Lagi pula, bayi menyusu bukan dengan menghisap puting melainkan memompa payudara. Karenanya, teknik menyusui yang benar jauh lebih penting jika dibandingkan dengan bentuk dan ukuran payudara. (Nik/S-3)

Sumber : MI

August 5, 2009 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: