ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Aluminium Terlalu Banyak di Susu Formula

Kamis, 02 September 2010 | 16:51 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Staffordshire – Kandungan aluminium di berbagai merek susu formula masih tinggi, terutama pada produk yang dirancang untuk bayi prematur dan produk susu kedelai yang dirancang untuk bayi dengan alergi susu sapi. Demikian temuan ilmuwan Universitas Keele di Staffordshire, Inggris, yang dipimpin oleh Dr Chris Exley, dan dipublikasikan di jurnal BMC Pediatrics.

Menurut peneliti, mengingat bayi rentan terhadap paparan aluminium,  ada kebutuhan mendesak untuk menurunkan kadar aluminium dalam susu formula serendah mungkin.

Kandungan unsur aluminium tidak penting dalam susu formula dan malah berkaitan dengan penyakit manusia. Selama beberapa dasawarsa susu formula terkontaminasi aluminium dalam jumlah cukup signifikan. Menurut peneliti, saat ini masih masih terlalu banyak aluminium dalam susu formula.

Para peneliti memilih 15 merek berbeda produk susu formula bayi, termasuk susu bubuk, dan susu cair siap pakai berbahan susu sapi, dan produk susu berbasis kedelai. Kategori formula termasuk yang untuk bayi prematur, bayi tahap pertama (0-6 bulan), dan tahap kedua (6 bulan ke atas). Semua produk disimpan sesuai dengan instruksi dari pabriknya.

Secara umum, kandungan aluminium susu formula yang dibuat dari susu bubuk jauh lebih tinggi daripada susu siap pakai.

Konsentrasi aluminium dalam susu formula hingga 40 kali lebih tinggi daripada yang ada dalam ASI. Ini jelas terlalu tinggi untuk konsumsi manusia, apalagi untuk bayi.

Sumber kontaminasi aluminium meliputi peralatan yang digunakan dalam pemrosesan dan penyimpanan produk secara massal. Selain itu banyak kemasan susu formula menggunakan bahan aluminium.

Tingginya kadar aluminium dalam susu formula memang belum terbukti menyebabkan efek samping pada bayi sehat. Namun penelitian sebelumnya telah menyoroti potensi keracunan aluminium pada bayi dengan gangguan seperti fungsi ginjal yang buruk dan penyakit gastrointestinal.

ScienceDaily/NgartoF

Sumber : Tempo

September 2, 2010 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: