ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Menangkal Rayuan Susu Formula

  • 06 September 2010

    Menangkal Rayuan Susu Formula

    DESI Sudaryanti dan Eva Riskiya sibuk membagikan masing-masing sebungkus susu formula kepada ibu-ibu yang memeriksakan bayinya di Posyandu Mawar Melati, Kelurahan Kejambon, Tegal, Jawa Tengah, akhir Agustus lalu. Dua perempuan berusia 23 tahun ini dengan ramah menjelaskan kandungan susu formula yang mereka klaim bermanfaat untuk kesehatan anak usia di bawah lima tahun. “Ini sangat baik buat pertumbuhan lho, Bu, karena mengandung kolostrum, zat yang baik bagi kecerdasan otak anak,” ujar mereka meyakinkan para ibu muda yang tampak senang menerima sebungkus susu formula gratis.

    Stok yang dibagikan tak banyak, cuma belasan kotak. Menurut kedua anggota staf pemasaran itu, memang perusahaan tak mempermasalahkan apakah si ibu kemudian akan tertarik membeli susu merek tersebut atau tidak. Target mereka hanya memperkenalkan produk baru salah satu produsen susu nasional.

    Desi dan Eva bukan tenaga penjualan “ilegal”. Menurut Desi, perusahaan yang dia wakili sudah memiliki kesepakatan dengan kepala puskesmas yang membawahkan pos itu. “Toh, ibu-ibu beserta anaknya diuntungkan dengan program ini,” ujar Desi. Setiap hari Desi dan Eva berkeliling dari satu pos ke pos lainnya.

    Menurut Kepala Bidang Layanan Kesehatan Farmasi Dinas Kesehatan Kota Tegal, Karta, upaya memperkenalkan produk itu dianggap wajar karena susu formula yang ditawarkan untuk kebutuhan bayi di atas satu tahun. “Bukan untuk bayi nol hingga enam bulan yang disarankan untuk minum air susu ibu,” katanya kepada koresponden Tempo, Edi Faisol.

    l l lMintarsih, seorang bidan di Bale Endah, Kabupaten Bandung, menjadikan ruang prakteknya bak toko susu formula. Berbagai merek susu terpajang di lemari etalase. Ruang pamer itu hasil pemberian sebuah produsen susu. “Tapi saya bebas, tak terikat, bermacam-macam produk susu saya taruh di sana,” katanya.

    Begitupun yang terjadi di ruang praktek bidan Lili Suweli, 54 tahun. Bidan yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun itu mengaku tak mendapat keuntungan langsung dari penjualan susu kaleng. Sesekali hanya mendapat contoh susu. “Paling produsen jadi sponsor kalau Ikatan Bidan Indonesia berulang tahun,” ujarnya.

    Kini, setelah mengetahui adanya peraturan Menteri Kesehatan yang melarang penjualan susu formula oleh tenaga kesehatan, Lili dan Mintarsih agak takut. Mereka tak lagi memajang deretan susu formula untuk bayi di ruang praktek.

    Namun Lili mengaku pendekatan para penjual susu masih terjadi-bidan itu menyebutnya kunjungan. “Ya, wajar saja. Lagi pula sekarang hanya memberikan brosur,” katanya. Selain itu, Lili mengaku tak enak hati kepada ibu-ibu yang datang. “Katanya ASI penting, tapi kok masih ada yang menawarkan susu formula,” ujar para ibu yang komplain kepadanya.

    Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Yudinia Amelia mengakui masih terjadi praktek iming-iming produsen susu formula bayi kepada bidan dan rumah sakit. Misalnya, untuk satu kelahiran anak yang diberi susu formula, bidan atau rumah bersalin mendapat bonus Rp 10 ribu. Ada juga yang memakai bonus bertingkat, semakin banyak menggunakan susu formula tertentu, bonus semakin banyak. Bahkan ada yang menggratiskan umrah. “Praktek seperti itu masih ada, meskipun kalau bidan ditanya tidak mengaku,” katanya.

    Menurut Yudinia, agresivitas promosi susu formula untuk bayi itulah yang menjadi salah satu faktor penyebab gagalnya kampanye Inisiasi Menyusu Dini. Di Yogyakarta, sejak kampanye tersebut digulirkan dua tahun lalu, hanya tercapai 30 persen ibu melahirkan yang mengikuti program itu. Padahal targetnya 80 persen. “Iklan susu formula untuk bayi dan balita, terutama di televisi, harus segera ditiadakan. Itu menyesatkan,” ujarnya. Para ibu tergiur rayuan iklan. Padahal produsen mencantumkan komposisi produk susu yang belum teruji secara klinis.

    Memang tak semua rumah sakit tergoda rayuan. Di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Bakti Ibu di Umbulharjo, Yogyakarta, misalnya, sejak ada program Inisiasi Menyusu Dini, banner atau iklan susu formula dicopot. “Memang ada tawaran dari produsen susu yang akan memberikan bonus jika bisa memasarkan susu, tapi kami tidak tertarik,” kata Manajer Bakti Ibu, Bambang Bimo.

    Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta mengaku juga tidak lagi memberikan susu formula kepada bayi, kecuali atas anjuran dokter. Dokter menganjurkan karena terpaksa, seperti air susu ibu tidak keluar atau kondisi ibu yang tidak memungkinkan untuk menyusui.

    Namun seorang dokter spesialis anak di salah satu rumah sakit di Yogyakarta yang tidak mau disebut namanya menyatakan praktek kerja sama rumah bersalin atau bidan dengan produsen susu masih ada. “Produsen susu itu juga menjadi salah satu sumber pemasukan bidan. Kalau ditanya, pasti jawabannya tidak,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Umum Universitas Gadjah Mada itu.

    Menurut corporate affairs & legal director salah satu produsen susu formula, PT Sari Husada, Yeni Fatmawati, pihaknya sudah tidak memasang spanduk, banner, dan iklan di rumah sakit dan rumah bersalin atau bidan. Karena hal itu dilarang pemerintah. “Kami sudah punya gerai khusus untuk memasarkan produk,” katanya ketika berada di Yogyakarta.

    l l lSejarah keberadaan susu formula bermula pada 1867. Saat itu Henri Nestle berniat menolong bayi agar lebih sehat. Namun tak disangka-sangka pemasarannya menjadi tidak terkendali. Seorang dokter asal Singapura, Cecille, 72 tahun kemudian, menemukan bahaya susu formula pada bayi, bahkan sampai berakibat kematian. Lalu berbagai tuntutan pada produsen susu formula terjadi di Swiss dan negara-negara lain. Mereka dituding sebagai penyebab banyak kematian bayi.

    Karena banyaknya tuntutan hukum itulah, lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada kesehatan bayi dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) duduk bersama untuk meneliti dan membicarakan jalan keluarnya. Pada 1981, WHO berhasil membuat kode internasional yang membatasi pemasaran susu formula, bukan pembuatannya. Dalam Pasal 5.5 Kode WHO menyatakan: personel pemasaran dalam kapasitas bisnisnya hendaknya tidak melakukan kontak langsung atau tidak langsung dalam bentuk apa pun dengan perempuan hamil atau dengan ibu dari bayi atau anak (balita). Kode WHO itu diadopsi dengan Keputusan Menteri Kesehatan Tahun 1997 mengenai pemasaran pengganti air susu ibu.

    Dua belas tahun kemudian Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 memperkuat hak setiap anak untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif selama enam bulan. Sanksinya, jika ada pihak yang mengganggu, bisa dipidanakan penjara 1 tahun atau denda Rp 100 juta. “Jika itu dilakukan oleh korporasi seperti tempat kerja ibu, rumah sakit, produsen susu, si pelaku bisa terancam pidana tiga tahun penjara,” kata Ketua Sentra Laktasi Indonesia, dokter Utami Roesli.

    Kini tengah dibahas rancangan peraturan pemerintah yang mendukung penggunaan ASI eksklusif. Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, dalam puncak acara Pekan ASI Sedunia pada awal Agustus lalu, memastikan bahwa pada awal Oktober rancangan itu disahkan. Dalam rancangan itu disebutkan pelayanan kesehatan tidak boleh menyediakan susu formula dan dot, serta tidak boleh memberikan makanan dan minuman selain ASI.

    Peluang itu ditanggapi sejumlah organisasi yang peduli pada ibu menyusui. Salah satunya Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, yang berjuang memantau jika ada pihak yang merayu ibu menyusui menggunakan susu formula. “Karena produsen susu sudah membidik sejak ibu masih mengandung, menggunakan susu selama kehamilan, dengan harapan nantinya juga terjadi pada bayi yang dilahirkan,” ujar ketua asosiasi, Mia Sutanto.

    Ibu dua anak ini berharap masyarakat melaporkan jika ada pelayan kesehatan membujuk, menyuruh, atau mengiming-imingi agar ibu memberikan susu formula selain air susunya. “Kami akan berjuang di level kebijakan agar tak hanya dijadikan tempat sampah untuk mengobati bayi korban susu formula,” ujar seorang pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia cabang Jakarta, Asti Praborini.

    Ahmad Taufik, Muhammad Syaifullah (Yogyakarta), Anwar Siswadi (Bandung)

Sumber : TEMPO

September 6, 2010 - Posted by | Article

17 Comments »

  1. semoga nanti anak keduaku bisa sukses ASI ekslusifnya..aamiien. tetap semangat ya ibu2..

    Comment by Fadira | September 6, 2010 | Reply

  2. saya melahirkan anak pertama saya di bidan di kota bandung setahun yang lalu, pelayanannya sangat baik dan bidannya pun sangat perhatian. tapi yang jadi pertanyaan saya, tanpa diskusi anak saya langsung diberi susu formula sementara asi saya belum keluar. saya tidak tahu apakah sampai saat ini bidan tersebut masih melakukannya. sangat disayangkan karena poster yang dipasang disitu adalah mengenai asi eksklusif selama 6 bulan. tapi pada kenyataannya sebagai pelayan kesehatan mereka malah memberikan sufor dan dot. selalu ada perasaan menyesal, seandainya saya lebih tegas dan lebih banyak mencari informasi mengenai asi ekslusif. sejak usia anak saya 40 hari saya berhenti menyusukan sufor dan terus memberi asi sampai sekarang. go go fighting breastfeeding mom!

    Comment by Elisabeth Heni | September 16, 2010 | Reply

    • Hai mbak Elisabeth Heni,salam kenal
      Maaf, setelah baca comment mbak, jadi keinget pas anak pertama saya lahir di Thomson Hospital Singapore, si nurse nya ada nanya ketika saya sedang didilam ruang operasi, dia nanya apakah nanti si bayi akan di bantu dengan susu formula cair selama menyusui? maksudnya, ketika dalam kondisi setelah melahirkan ASI saya belum keluar, maka pihak RS akan memberikan susu bantuan itu tadi ke si bayi….tetapi klo ASI kita banyak, maka susu formula tsb tidak perlu lagi….

      Comment by Nonik Budhiana | October 24, 2010 | Reply

  3. makanya memang asi lebih baik drpd sufor apapun.

    Comment by Maya Faiz | June 13, 2011 | Reply

  4. Asi is the best, say yes to asi……anakku juga asi sampai 2 tahun….aku ndak mau anakku jadi anak sapi.

    Comment by rennie | June 13, 2011 | Reply

  5. anakku asix selama 6 bulan, trus asi sampe 2 thn. Pas baru lahir, msh di RS semapt dikasih sufor juga sih ama susternya soalnya aku belu tahu..amit-amit deh sama sufor…bahaya.

    Comment by yuanita | June 13, 2011 | Reply

  6. ASI memang yg terbaik bagi anak..meskipun saya sakit saya tetap memberikan asi ke anak saya.

    Comment by yuna | June 13, 2011 | Reply

  7. setealah lepas asi skrg gmn ya ??? khan masih pengen susu juga…

    Comment by cynthia | June 13, 2011 | Reply

  8. yang penting asi eksklusif dulu paling ga 2 tahun ya… kl anaknya masih pengen susu lagi kasih susu UHT saja, ndak usah pusing-pusing mikirin susu, kandungan susu yang diambil hanya kalsium, yg lain adalah bahan fortifikasi yang tentu lebih baik diambil dari sumbernya langsung, kl anak sudah makan sesaui piramida makanan tentu tidak usah pusing-pusing lagi mikirin susu aplagi susu formula.

    Comment by irene | June 13, 2011 | Reply

  9. ibu-ibu asi yang terbaik yah……usahakan sampai usia 2tahun….

    Comment by NO SUFOR | June 13, 2011 | Reply

  10. betul..
    paling penting itu asi eksklusif dulu deh..
    setelah itu baru kasih susu uht yg plain yah.

    Comment by graciasgrace | June 13, 2011 | Reply

  11. selain asi itu lbh bgs buat bayi kita, dgn asi itu kita mempunyai ikatan yang lebih erat dan kuat dgn bayi kita bun..aku dulu juga asi sama ke dua anakku, cuma sayangnya yg pertama ga bisa sampe 2 thn krn aku udh mengandung lagi, tp untungnya yg ke2 bisa diterusin sampe ia usai 2 thn bun..

    Comment by miranthy | June 13, 2011 | Reply

  12. susu paling bagus memang ASI ga ada lawannya dehh… makanya kl bs kita sebagai ibu kasih anak kita asi eksklusif selama minimal 6 bln.. kl bisa malah sampe 2 thn..setelah itu d lanjut uht tp yg lian yah…

    Comment by ochajefri | June 13, 2011 | Reply

  13. waduhhh aku setelah lepas asi selama setahun anakku aku kasih uht yg plain bun… tp so far sehat2 aja tuhh dan petumbuhannya juga baik fisik maupun mental.

    Comment by ceuwida | June 13, 2011 | Reply

  14. kalo menurut ku setelah asi eksklusif kita beralih ke UHT setelah usia 1th.

    Comment by jenny | June 13, 2011 | Reply

  15. kalau bicara asi, wahh udah pasti is the best deh.. jgn stop utk memberikan anak kita asi smp usia 2thn.

    Comment by lisa charisa | June 13, 2011 | Reply

  16. nah kalau begitu jgn ragu2 langsung pilih ASI saja yah.

    Comment by baby indria putri | June 13, 2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: