ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Donor ASI Hindari Susu Formula

Minggu, 13 Februari 2011 | 17:45 WIB

Besar Kecil Normal

TEMPO/ Dimas Aryo

TEMPO Interaktif, Jakarta -Tekad Eka Susilawati, 26 tahun, untuk memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan kepada putra sulungnya, Nambi Guru Digdaya, 3 bulan, nyaris pupus. Sebab, ketika masa cuti melahirkan habis dan ia harus kembali bekerja, pada 17 Januari lalu, ternyata pasokan ASI-nya merosot drastis. Celakanya, tabungan ASI di lemari es pun tandas sudah.
“Karena kepepet, kami akhirnya sempat memberi Nambi susu formula,” kata Eka, yang bekerja di sebuah lembaga riset yang berkantor di kawasan Sudirman, saat dihubungi Jumat lalu.

Pemberian susu formula, ia melanjutkan, hanya berlangsung dua hari. Sebab, kebetulan tetangga Eka di kawasan Pakubuwono, Jakarta Selatan, Yekthi Hesthi Murthi, tengah menyusui anak kedua dan sudah memutuskan berhenti bekerja. “Saya beruntung sekali, karena Mbak Hesthi mau berbagi ASI untuk Nambi,” ujar Eka. Sejak tiga pekan terakhir, ia bisa kembali menabung ASI yang diperah di sela kesibukannya bekerja.

Hesthi, 30 tahun, yang dihubungi terpisah, mengakui, sebelum jam tidur siang dan sore, ia biasa menyusui Nambi. Ada kalanya ia juga memerah ASI pada pagi hari untuk Nambi jika pasokan sedang berlebih. Kesediaan Hesthi untuk membagi ASI, selain karena bertetangga dan telah mengenal Eka cukup lama, untuk memberikan dukungan moral agar tetangganya melanjutkan perjuangannya memberikan ASI eksklusif.

“Bagaimanapun memberikan ASI eksklusif itu butuh perjuangan dan dorongan dari lingkungan. Jika tidak, godaan untuk menggunakan susu formula sangat besar,” kata ibunda Suciwani Nan Sedayu, 2,5 tahun, dan Bijak Damar Sedayu, 3 bulan, itu.

Soal repot-tidaknya menyusui dua bayi, Hesthi menilai relatif. Kalaupun dianggap merepotkan, kata Hesthi, secara psikologis ia berupaya meyakinkan hati bisa adil saat memberikan ASI kepada Damar sebagai anak kandungnya dan Nambi, yang menjadi anak sesusuan.

Begitupun soal kemungkinan terjadi problem fikih di kemudian hari, ia dan Eka mengaku menyiasatinya dengan silaturahmi. “Kami kan telah lama menjadi sahabat, jadi soal problem kemungkinan terjadi pernikahan anak sesusuan, kami percaya kelak bisa disiasati,” ujar Hesthi.

Mia Sutanto, pendiri Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), mengatakan donor ASI mulai terdengar di masyarakat Indonesia pada awal 2008 atau sejak pertengahan 2007. Meski begitu, sejauh ini belum ada bank ASI yang bisa memberikan donor ASI. “Majelis Ulama sih tahun lalu sudah merekomendasikan bahwa donor ASI dan bank ASI itu halal,” kata Mia, yang ditemui Jumat lalu.

Karena itu, peran AIMI sejauh ini, ia melanjutkan, hanya sebagai fasilitator atau “mak comblang” antara yang ingin menjadi donor dan mereka yang memerlukan karena berbagai alasan. Kepada calon donor, kata Mia, lembaga yang dipimpinnya mensyaratkan untuk menginformasikan sederet data, seperti agama yang dianut, riwayat diri, riwayat si bayi, keterangan kondisi kesehatan, bebas HIV dan penggunaan obat-obatan psikotropika dan narkotik, serta dukungan suami.

Informasi serupa harus diberikan para ibu yang membutuhkan ASI. “Selanjutnya biar dia yang berkomunikasi langsung dan menjalin silaturahmi kepada donor yang dianggap cocok. Jadi tidak ada komersialisasi ASI di sini,” kata Mia, tegas.

Ia menyarankan, kaum ibu yang membutuhkan ASI sebaiknya didampingi oleh penasihat laktasi. Sebab, donasi ASI ini pun, kata Mia, jangan sampai membuat si ibu yang menerima menjadi malas untuk menyusui bayinya sendiri. “Bagaimanapun donasi ASI ini merupakan solusi jangka pendek, bukan permanen,” ujarnya. l Sudrajat

TIP

l Donor ASI berada dalam keadaan sehat dan sedang menyusui bayi yang sehat dengan pola tumbuh kembang yang sesuai.
l Tidak sedang mengkonsumsi obat-obat secara rutin, kecuali pil KB (hanya hormon progestin), thyroxin, insulin, vitamin kehamilan, zat besi, dan kalsium.
l Tidak merokok, menggunakan narkoba, dan tidak secara rutin mengkonsumsi alkohol.
l Melakukan screening ada-tidaknya penyakit, seperti hepatitis, HIV/AIDS, atau tuberkulosis. Para ibu yang menderita penyakit tersebut dilarang menjadi donor ASI.
l Di negara maju, sebelum diberikan, ASI donor secara rutin dipasteurisasi sehingga relatif aman. l

Sumber : Tempo

February 13, 2011 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: