ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Ibu Terinfeksi HIV Dapat Memberi ASI

Bramirus Mikail | Asep Candra | Kamis, 12 Mei 2011 | 17:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Bagi ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS tidak perlu was-was dalam memberikan ASI secara eksklusif kepada sang buah hati. Pasalnya,  risiko penularan dapat ditekan melalui program Prevention Mother to Child Transmition (PMTCT).

Deputi Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Bidang Program Dr. Fonny J Silfanus, M.Kes, menyatakan, melalui program PMTCT penularan  HIV dari ibu kepada bayinya dapat dicegah sejak awal masa kehamilan.

Program PMTCT sebenarnya dapat dimulai sejak pasangan berencana mempunyai anak. Mereka yang terinfeksi harus berkonsultasi dengan dokter ahli. Kemudian ibu dengan HIV /AIDS akan mendapatkan terapi ARV profilaksis atau obat anti retroviral.

“Kalau dulu mulai (kehamilan) tujuh bulan baru dikasih, tapi sekarang enggak. Mulai 14 minggu sudah mulai dikasih. Tapi, kalau si ibu datang sudah lewat 14 minggu tetap dikasih,” terangnya.

Menurut Fonny, dengan menggunakan obat anti retroviral,  virus secara otomatis akan berkurang dalam tubuh pengidap. Semakin lama, diharapkan jumlahnya semakin menurun bahkan sampai tidak terdeteksi.

“Tapi virus tetap ada. Cuma kemungkinan dia menularkan kepada bayinya sudah kecil sekali, karena sudah minum anti retroviral,” tambahnya.

Untuk meminimalisir penularan saat proses persalinan, ibu pengidap HIV biasanya dianjurkan untuk melakukan dengan cara caesar. Pasalnya, HIV banyak tersimpan di  limfosit pada dinding rahim sehingga jika melahirkan dengan cara normal, bayi dikhawatirkan terpapar lebih lama dengan darah yang mengandung HIV.

Boleh berikan ASI Setelah melahirkan, ibu pengidap HIV positif yang minum obat anti retroviral boleh memberikan ASI kepada bayinya. Tetapi ada satu syarat yang harus dipenuhi yaitu memberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan dan tidak boleh mencampur ASI dengan makanan lain.

“Karena kalau dicampur susu formula, nanti airnya tidak bersih (higienis), bisa infeksi usus. Kalau ASI, ya sudah ASI saja,” tegasnya.

Menurut Fonny, sebenarnya ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah HIV/AIDS, seperti pemberian edukasi kepada calon ibu, termasuk para remaja.

Fonny  mengimbau para ibu yang terkena HIV positif tetapu belum punya anak untuk melakukan konseling dan dianjurkan tidak hamil. “Karena kemungkinan bisa terjadi penularan. Tapi itu tetap hak asasi. Jadi ibu hamil HIV positif tetap boleh hamil,” terangnya.

Sumber : Kompas

 

May 12, 2011 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: