ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Ibu pun Perlu Belajar Menyusui

Rabu, 18 Mei 2011 | 05:25 WIB
Besar Kecil Normal

REUTERS/Christinne Muschi

TEMPO Interaktif, Pagi itu, seusai operasi caesar, seorang perawat meletakkan bayi di dada Ria Desy Saputra, 31 tahun, untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Tak sampai lima menit, saat dokter masih menjahit perut Desy, bayi perempuan yang diberi nama Audrey Zhafira Friderica Razi itu pun meraih puting ibunya dan mencecapnya.

Desy sempat khawatir tak bisa menyusui putrinya dengan sempurna. Saat pertama kali memberi ASI, Desy mengaku sempat salah menyusui hingga putingnya sempat terluka. “Sakit banget, sempat hampir menyerah, tetapi aku teruskan demi ASI eksklusif buat Fira,” ujar Desy kepada Tempo.
Beruntung, suami Desy, Zein Isa, sangat mendukungnya. Dia banyak mencari informasi di internet soal menyusui, juga mengunduh video di YouTube agar istrinya mudah mempraktekkannya. Desy pun tak kesulitan lagi menyusui putrinya.
Untuk memperbanyak dan memperlancar ASI, Desy menambah asupan sayur hijau dan buah, serta melakukan massage payudara. Perempuan yang bekerja di sebuah instansi BUMN ini pun sudah menyiapkan banyak botol untuk tempat persediaan ASI saat harus bekerja lagi.
Apa yang Desy alami ini juga dialami banyak perempuan lain yang ingin memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Mereka ingin bisa menyusui dengan nyaman, lancar, dan tanpa ada masalah. Tapi sayang, tak semua bisa berjalan dengan mulus. Beberapa masalah muncul saat menyusui buah hati tercinta.
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyebutkan sebagian besar masalah menyusui adalah pada posisi dan pelekatan yang tidak pas serta mendapat cairan prelaktal di rumah sakit. Lalu masalah itu merembet serta menyebabkan puting lecet, payudara membengkak, dan berat badan bayi tidak meningkat.
Masalah lain yang mungkin terjadi adalah jika si ibu mengalami stres sehingga produksi ASI tidak lancar atau si ibu harus menyusui bayi kembar. Ada pula masalah lain, misalnya karena bayi menderita hipoglikemia.
Risiko kegagalan inisiasi dini juga lebih besar jika tidak didukung dokter atau rumah sakit tempat melahirkan. Salah satunya jika rumah sakit tidak memberlakukan rawat gabung antara ibu dan anak di dalam satu kamar.
Masalah-masalah ini sering muncul dan membuat perempuan tidak percaya diri saat menyusui. Padahal perempuan menyusui membutuhkan dukungan semua pihak untuk keberhasilan menyusui anak-anaknya.
Salah satu dorongan kepada ibu menyusui yang bisa dilakukan adalah melalui kelompok perempuan yang saling berbagi. Seperti kelas kASIh Ibu yang didirikan oleh Rumah Sakit Ibu Anak Kemang Medical Care. Kelas ini akan menampung para ibu hamil, ibu menyusui, serta ibu yang berhasil menyusui dan memberikan ASI eksklusif.
“Kelas ini dibentuk sebagai langkah konkret poin ke-10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM),” ujar Chairani J. Kalla, Direktur Komersial RSIA Kemang Medical Care, saat pembukaan kelas di rumah sakit tersebut pekan lalu.
Kelas ini, kata Chairani, akan menjembatani para calon ibu untuk saling berbagi, mendapatkan informasi, dan proses belajar aktif tentang ASI. “Mereka bisa cerita pengalaman pertama menyusui atau mungkin berbagi tip menyusui eksklusif, cara menyusui tandem, atau menyusui dua bayi kembar bersamaan,” ujarnya.
Para calon ibu dan ibu yang menyusui yang berbagi cerita di kelas ini bakal mendapat fasilitas dari AIMI. Ketua umum organisasi ini, Mia Sutanto, memahami jika para ibu sering menemui masalah saat memberikan ASI. “Menyusui sering menjadi momok bagi para ibu, karena itu butuh banyak dukungan agar lebih percaya diri,” ujar Mia.
Mia mengatakan tempat seperti kelas kASIh Ibu ini menjadi tempat berbagi dari ibu, untuk ibu, dan oleh ibu. Dengan begitu, para ibu dan calon ibu akan merasa termotivasi dan saling menyemangati.
Organisasi ini mengkampanyekan keunggulan ASI untuk bayi ketimbang susu formula. ASI rupanya juga berpengaruh yang baik bagi bayi. Seperti dipublikasikan oleh Archives of Disease in Childhood pekan lalu, rupanya ASI juga mempengaruhi perilaku anak pada usia lima tahun-an.
Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang mendapat ASI memiliki lebih sedikit masalah perilaku dibanding mereka yang minum susu formula. “Hasil temuan kami menunjukkan, lebih lama menyusui, baik yang terus-menerus maupun eksklusif, memiliki lebih sedikit masalah perilaku dalam jangka panjang,” ujar Maria Quigley dari Unit Perinatal Epidemiologi Nasional di Universitas Oxford.
DIAN YULIASTUTI | CONSUMERHEALTHDAY | AIMI-ASI.ORG
Sumber : Tempo

May 18, 2011 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: