ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Cegah Dini Masalah Gizi Anak dengan ASI Eksklusif

Kamis, 26 Mei 2011 , 08:37:00
Oleh : Didik Hariyadi, S.Gz, M.Si

Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat bahwa di negara-negara berkembang masalah kekurangan gizi mikro merupakan masalah kesehatan yang serius. Kekurangan gizi mikro terutama kekurangan vitamin dan mineral esensial (penting) seperti vitamin A, besi, dan seng (zinc) termasuk masih tingginya penyakit infeksi. Global Alliance for Improved Nutrition pada tahun 2007 juga mempublikasikan dampak yang ditimbulkan dari masalah kekurangan gizi mikro, dimana terjadi kematian anak sebanyak 1 juta sebelum mereka umur 5 tahun dan besarnya kasus kecacatan lahir pada bayi yang seharusnya bisa dicegah.

Indonesia yang merupakan salah satu Negara berkembang juga tidak luput dari masalah gizi tersebut. Diantara 3 anak terdapat 2 anak dengan masalah kekurangan gizi besi yang akan berdampak pada anemia pada anak. Beberapa masalah gizi anak yang ada sampai saat ini meliputi masalah kekurangan dan kelebihan gizi, kekurangan gizi besi, kekurangan iodium, dan kekurangan gizi mikro terutama seng. Berbagai upaya dan penanggulangan masalah gizi anak telah dan sedang dilakukan. Diantaranya dengan melakukan peningkatan pemberdayaan masyarakat dan pemberian makanan tambahan serta fortifikasi makanan yang baru-baru ini sedang di sosialisasikan di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan dalam 5 tahun terakhir upaya penanggulangan masalah gizi sangat gencar di Indonesia. Semua komponen masyarakat tertuju pada upaya ini, sehingga tidak sedikit energy yang harus dikeluarkan baik finansial maupun infrastruktur.
Pendekatan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu upaya yang banyak dilakukan, terutama dengan adanya proyek NICE (Nutrition Improvement through Community Empowerment). Proyek ini diharapkan mampu menangani masalah gizi di Indonesia, khususnya perannya terhadap penurunan prevalensi anak dengan gizi buruk dan gizi kurang. Salah satu terobosan yang dilakukan dalam proyek ini adalah dengan memberikan anak taburia, yaitu serbuk fortifikasi zat gizi mikro yang mengandung 12 vitamin dan 4 mineral yang ditaburkan dalam makanan anak. Beberapa pendekatan upaya yang telah dilakukan cenderung sebuah penanganan terhadap masalah gizi yang telah terjadi (problem oriented). Disadari atau tidak sudah dapat dipastikan penanganan masalah gizi dengan pendekatan ini akan berdampak pada tingginya biaya yang harus dikeluarkan. Satu anak dengan gizi buruk membutuhkan dana yang tidak sedikit, sejak dari perawatan, pengobatan, pemulihan sampai pada pembelajaran tentang bagaimana masalah gizi buruk tidak lagi diderita. Meskipun harus diakui penyelesaian masalah dengan konsep problem oriented sudah cukup popular di kalangan pemegang kebijakan.
Solusi masalah gizi dengan cost rendah dan sesungguhnya dapat dilaksanakan adalah bagaimana masalah gizi tersebut tidak muncul pada kelompok anak umur 1 – 5 tahun. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan yang optimal sejak dini menjadi keharusan, jika harapannya tidak memunculkan masalah gizi buruk yang akan datang. Pendekatan sederhana dan seharusnya bias dilakukan hampir di semua lini kebijakan adalah pendekatan dini pencegahan anak gizi buruk.
Pertama, pendekatan alamiah. Secara alamiah setiap manusia mempunyai insting saat pertama kali lahir ke dunia untuk mempertahankan hidupnya dengan mencari makanan. Seperti halnya makhluk mamalia, maka manusia pun saat pertama kali melahirkan secara alamiah akan mencari susu ibunya. Atas dasar inilah maka penanganan yang paling awal saat ibu melahirkan bayinya adalah dengan asuhan persalinan normal denggan menerapkan apa yang disebut dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). IMD adalah bayi diberi kesempatan mulai (inisiasi) menyusu sendiri segera setelah lahir (dini) dengan meletakkan bayi menempel di dada atau perut ibu, bayi dibiarkan merayap mencari puting dan menyusu sampai puas. Proses ini berlangsung minimal 60 menit pertama sejak bayi lahir. Pendekatan dini penanganan gizi buruk dengan menerapkan IMD merupakan satu pendekatan bahwa bayi dengan IMD secara alamiah akan menentukan keberhasilan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sampai bayi umur 6 bulan atau dikenal dengan ASI eksklusif.
Kedua, pendekatan fisiologis dan psikologis. Tidak ada satu makanan di dunia ini yang sesuai dan cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi kecuali ASI. Secara fisiologis dan psikologis bayi tidak membutuhkan makanan apapun kecuali ASI sampai ia umur 6 bulan. Disamping memenuhi akan kebutuhannya, kasih sayang dan kedekatan antara ibu dan bayi akan didapatkan dengan pemberian ASI yang tidak mungkin didapatkan dari metode menyusui cara apapun. Dengan pendekatan ini pertumbuhan dan perkembangan bayi akan terjamin, mengingat bahwa pertumbuhan dan perkembangan bayi sangat dipengaruhi olek factor fisiologis dan psikologis. Dua faktor ini hanya akan didapatkan dengan pendekatan ini yang pada akhirnya kesehatan optimal akan di dapat pada masa anak-anak.
Ketiga, pendekatan pembelajaran pola makan. Saat bayi umur 6 bulan keatas pendekatan pembelajaran pola makan mutlak diberikan. Adalah sebuah “kekerasan” jika saat umur 6 bulan bayi dipaksakan diberi makanan layaknya makanan dewasa. Fisiologis bayi tidak memungkinkan untuk diberikan makanan itu. Sehingga pembelajaran akan pola makan yang baik dan benar perlu diperhatikan. Pemberian jus buah dengan disaring merupakan salah satu langkah awal yang baik dalam pembelajaran pola makan pada bayi umur 6 bulan. Seterusnya secara bertahap dan dengan penggantian jenis makanan yang bijaksana akan membawa bayi ke masa anak-anak sampai umur 2 tahun dan seterusnya menjadi anak dengan kesehatan yang optimal.
Keempat, pendekatan gizi seimbang. Konsep gizi seimbang merupakan hal yang penting dalam masa awal anak-anak. Setidaknya pertimbangan kualitas dan kuantitas makanan mutlak dipertimbangkan. Dengan melihat kebutuhan yang sesuai dengan umur dan masa pertumbuhan dan perkembangannya, konsep gizi seimbang adalah konsep yang paling tepat dan benar dalam pengaturan makanan sejak dini. Kesesuaian akan kebutuhan karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral serta kebutuhan cairannya akan membawa anak sehat secara optimal dan akan terhindar dari kejadian gizi buruk di masa yang akan datang.
Kegagalan 4 pendekatan akan membawa risiko anak gizi buruk. Dampak secara makro tidak hanya pada pertumbuhan dan perkembangan si anak, tetapi dalam jangka waktu lama dan skala kejadian yang luas akan merapuhkan sendi-sendi ekonomi bangsa yang pada akhirnya membawa pada meluasnya kemiskinan dan kemunduran suatu negara. **

*  Penulis, Dosen di Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak

Sumber : Pontianakpost.com

May 26, 2011 - Posted by | Article

1 Comment »

  1. Bentuk penanganan seperti apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah gizi yang menimpa negara kita? Apakah program tersebut sudah berhasil di realisasikan?

    Comment by Rina Lesiana | August 1, 2012 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: