ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Akhir Agustus, Produsen Susu ’Haram’ Beri Diskon

Sabtu, 06/08/2011 | 12:56 WIB

Jakarta- Pemerintah akan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Air Susu Ibu (ASI) akhir Agustus ini. Salah satu aturannya, melarang pemasaran dan promosi susu formula– di bawah 1 tahun– melalui potongan harga, pemberian contoh produk dan hadiah, iklan di media cetak dan elektronik, serta penyebaran brosur dan pamflet. Sayangnya, sanksi tegas atas pelanggaran ini tidak termuat di RPP.

Bahkan, PP ASI seakan malah memperingan hukuman bagi produsen ‘nakal’, karena sanksi yang diberikan lebih ringan daripada yang tercantum di Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

“Sanksi ini lemah karena masih membuka peluang bagi pelanggaran hak anak. Kami menuntut negara untuk memberi sanksi pidana yang tegas. Jangan kalah oleh industri,” kata Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Sudaryatmo, Sabtu (6/8).

Untuk diketahui, dalam RPP tentang Pemberian ASI Eksklusif bagian kelima tentang pengenaan sanksi penyelenggaraan pemberian ASI eksklusif disebutkan : Tenaga kesehatan, penyelenggara fasilitas kesehatan, dan produsen susu formula yang melanggar hak anak akan mendapat sanksi administratif berupa teguran lisan, teguran tertulis, penghentian kegiatan sementara dan/atau pencabutan izin.

Bandingkan dengan UU No 36/ 2009 tentang Kesehatan Pasal 200 menyatakan, setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian ASI eksklusif akan dipidana penjara paling lama satu tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

RPP ini masih membuka peluang bagi produsen susu formula untuk membiayai penelitian kesehatan sebagaimana disebutkan dalam pasal 21. “Penelitian akan menjadi bias karena didanai oleh industri,” katanya.

Sebelumnya, Minarto, Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan mengatakan PP ini diharapkan bisa meningkatkan konsumsi ASI eksklusif bagi bayi. Pasalnya, saat ini seringkali produsen dibantu pihak lain dinilai sengaja menghalang-halangi pemberian ASI. Mislanya dnegan cara penjualan terselubung dengan menggandeng rumah sakit atau tenaga medis setempat.

Minarto berharap PP ASI selesai ditandatangani lima kementerian bulan ini. Yakni,  Kementerian Kesehatan, Kementerian Keuangan, Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, dan Kementerian Dalam Negeri. Pada 7 Juli lalu, PP ASI telah didaftarkan ke Sekretaris Negara. Hingga sekarang, tercatat Kemenkes dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan sudah menandatanganinya. Pengawasan impelementasi PP ini akan dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan.

 

Maraknya pemberian susu formula itu membuat pemberian ASI ekslusif bagi bayi berkurang. Menurut dr. Utami Roesli, Direktur Indonesian Breastfeeding Center, selama 2002 sampai 2007, jumlah bayi yang memperoleh ASI hingga umur dua bulan berkurang dari 64% menjadi 48,3%.

Dikatakan Utami,  penjualan susu formula memang sangat menguntungkan. Pada 2008, nilai bisnisnya mencapai 11,5 triliun dollar (Rp 100.050 triliun). Pertumbuhan penjualan diprediksi naik 37% menjadi 42,7 triliun dollar (Rp 371.490 triliun) pada 2013 nanti. Padahal dalam Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 128 disebutkan bahwa setiap bayi berhak mendapat ASI eksklusif sejak dilahirkan selama enam bulan. “Dua pertiga pertumbuhan ini (7,5 triliun dollar/Rp 62.250 triliun) berasal dari Asia Pasifik dengan China dan Indonesia berkontribusi masing-masing 5,2 triliun(Rp 45.240 triliun) dan1,1 triliun (Rp 9.570 triliun),” ujarnya.

Utami menyarankan, dalam penjabaran PP ASI nanti, pemerintah mengadaptasi kode pemasaran susu pengganti ASI internasional, yaitu bagi susu anak di bawah dua tahun. Dengan begitu, susu formula akan dijual di toko secara khusus dengan harga mahal. Selain itu, ia juga mendorong sosialisasi pembuatan Tempat Kerja Sayang Ibu yang memungkinkan karyawati memberi ASI eksklusif pada bayi. “Juga komunikasi dengan pimpinan perusahaan agar memberi kemudahan dalam menyusui dan jadwal kerja yang lebih fleksibel,” ujarnya.

Sumber : Surabayapost

August 6, 2011 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: