ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Ayah Pejuang ASI

Friday, 12 August 2011 09:33
Suryawijayanti

Dedy dan Astri sedang menimang anaknyaKBR68H- Siapa bilang menyusui bayi secara eksklusif hanya menjadi tanggungjawab ibu. Ayah pun  memiliki andil dalam meluluskan bayinya mendapatkan haknya secara penuh hingga 6 bulan.  Reporter KBR68H Suryawijayanti berbincang bersama para ayah yang turut menyukseskan ASI Eksklusif. Mereka juga dikenal dengan isitilah Ayah Menyusui atau Breastfeeding Father.

Menjadi Ayah Peduli

Akhir pekan selalu menjadi hari yang ditunggu-tunggu bagi pasangan I Gede Udiantara dan Putu Sukartini. Di hari libur inilah mereka menghabiskan waktu seharian bersama anak semata wayangnya Putu Gede Prema Nananjaya atau biasa dipanggil Prema.

Prema yang berusia kurang lebih 1,5 tahun tengah lincah-lincahnya aktif bermain. Odong-odong dan topeng monyet pun menjadi menu wajib untuk beratraksi di depan rumah yang berada di kawasan Bogor itu.

Memberikan yang terbaik bagi anak, itu yang selalu diutamakan pasangan asal Bali ini. Apalagi untuk mendapatkan anak, Sukartini dan Udiantara harus menunggu selama 4 tahun setelah pernikahan. Salah satu hal yang terbaik itu adalah memberikan ASI eksklusif kepada Prema.

 

“Saya punya sebundel cara mengurus bayi dari mandiin, memberi ASI, menyimpan ASI. Nah ini saya print setiap hari di kantor bekalnya ini, lumayan dibaca-baca ke kereta, kalau biasanya novel, ganti baca ini.”

Tak hanya Sukartini yang membaca lembar demi lembar artikel informasi soal bayi dan ASI. Suaminya pun disodori bacaan itu.

 

“Persiapan sebelum lahiran memang sudah dipersiapkan, waktu masa hamil sudah baca-baca. Nah biasanya di kantor saya print artikel, ketika pulang naik kereta saya serahkan ke dia untuk dibaca. Karena saya ingin punya pemahaman yang sama, khususnya soal ASI.”

Sukartini, Udiantara dan PremaSukartini meyakini, suami memiliki peran penting selama proses menyusui, apalagi bagi ibu bekerja dengan masa cuti rata-rata hanya tiga bulan pascapersalinan.

Beruntung Sukartini, memiliki suami yang mendukung keinginannya memberikan ASI Eksklusif.

 

“Kami harus berjuang membesarkan anak dari awal dengan baik. Lagipula pemberian ASI waktunya gak bisa tergantikan setelah umurnya 10 tahun misal. Mau tak mau harus dilakukan hingga umur 6 bulan. Mulai hamil kami afirmasi agar anak ini sehat, kami akan beri terbaik, kami akan beri ASI. Bagaimana ASI baik bayi sebagai start awal.”

Dibombardir informasi soal ASI, membuat Udiantara fasih bicara soal ASI.

 

“ASI itu khan susu yang bisa didapatkan dari bermacam sumber, ada hewani dan nabati. Nah anak manusia ya dikasih dari sumbernya, yakni dari ibunya. Kalau ada ibunya kenapa dikasih dari sumber lain. Kami juga deg-degan saat Prema lahir, ASI ibunya tidak langsung keluar. Ujian ASI adalah ketika pertama kali memulainya, kami sempat ragu dan tidak yakin,  karena secara kasat mata tidak ada cairan yang keluar. Cuma logikanya kalau gak ada cairan yang keluar berarti si anak rewel menangis. Tapi ini tidak, berarti dia mendapatkan sesuatu. Dan informasi yang saya dapatkan memang tidak putih tapi bening. Yakinlah para ibu dan bapak yang akan memiliki bayi, bahwa dengan keyakinan akan memberi solusi untuk pilihan memberikan ASI.

Dan ketika bayi sudah lahir, perjuangan nyata untuk mendukung ASI eksklusif pun mulai dipraktekkan. Sebagai seorang suami, Udiantara harus betul-betul menjaga ASI yang diproduksi istrinya lancar.

 

“Yang disarankan oleh medis adalah kenyamanan ibu, seperti pijat ke ibu biar tambah rileks. Kami punya cara berjuang masing-masing ya. Saya sebagai seorang ayah yang mendukung dengan cara-cara yang saya bisa. Misal suplai makanan buat si Ibu, kalau sebelumnya pas belum punya baby susah makan sayur, nah sekarang  harus rajin. Dengan beberapa cara harus masuk.”

Ari Maulana Muhammad bersama istri dan anaknya AslamUdiantara pun jadi ahli memijat istrinya. Pijatan yang diyakini melancarkan ASI.

 

“Jadi malam-malam pas pulang kantor udah capek saya pas nyusuin dia pijat. Khan massage itu tahapannya ada di payudara langsung, yang diurut, dan dikompres ganti air anget, air dingin. Nah itu tugasnya dia tuh saya tinggal nempelin doang. Dia yang ngurusi kompresannya, sambil mijit-mijit tengkuk juga.”

Menjadi ayah ASI memang dituntut untuk memliki kesabaran ekstra. Itu pula yang dirasakan oleh Dedy Bagus Prakarsa. Pegawai Negeri Sipil yang bekerja di kompleks Senayan ini baru saja dikarunai anak yang baru berusia 2 bulan. Hari-harinya pun langsung berubah 180 derajat. Urusan merapikan tempat tidur hingga mencuci popok kini menjadi rutinitasnya.

 

“Jadi suami yang baik-baik, di rumah nuruti semua keinginan istri, mau minta apa, disuruh apa harus mau. Nyuci pakaian yang kotor buang air besar pun dilakukan, pokoknya kalau hari libur dimanfaatin untuk ibunya dan dedek .”

Dedy pun mengikuti kursus seputar ASI. Rasa malu ditepisnya, karena  dia satu-satunya laki-laki di antara peserta kursus yang kebanyakan ibu-ibu menyusui.

 

“Saya ikut kursus pijat bersama ibu-ibu, kala itu istri setelah melahirkan gak bisa ke mana-mana, karena caesar. Saya yang ikut kursusnya, bagaimana cara pijat payudara, punggung agar ASI-nya lancar. Yang bingung sih pas prakteknya ha..ha..ha. Tapi saya cuek saja.”

Dedy  menunjukkan stok asi yang disimpang di kulkasAyah dari Muhammad Athallah Prakarsa ini juga harus ekstra sabar menghadapi istrinya. Dari bacaan yang dia pahami, menjaga emosi turut mempengaruhi keluarnya ASI.

 

“Semua hal yang berkaitan dengan ASI saya cari tahu, 80 persen ASI keluar itu ada pengaruh psikis. Jadi kalau Ibu stress atau kecapekan maka ASI bisa gak keluar. Makanya harus benar-benar membuat istri gak stress.”

Menjaga istri tidak stress, juga diamini oleh Ari Maulana Muhammad. Dia harus pintar-pintar membaca kondisi istrinya. Jika emosi mulai naik, maka saatnya dia menjauhkan Aslam Darsana Fauzan dari ibunya. Membiarkan sang Ibu untuk rileks sejenak.

 

“Dukungan utama adalah menjaga istri gak stress. Ketauan tuh kalo ngomongnya agak tinggi, lalu saya pegang Aslam, dan biarkan ibunya puas-puasin deh. Mau mandi, mau makan, pokoknya biarkan ibunya. Dari yang saya baca kalau ibunya stress, ASInya sedikit.”

Tidak hanya menjaga emosi, Ari juga mendapat tugas urusan rumah tangga.

 

“Kadang saya bersihin kasur, nyapu, beresin kamar, pakaian saya beresin, kalau istri ingin makan, saya pegang. Cuman kalau urusan mencuci pakaian bekas air besar, saya gak mau, kebayang-bayang sampai makan ha..ha..ha.. “

Terjun Ke Urusan Domestik

Tinggal dalam hitungan hari, istri Dedy Bagus Prakarsa harus kembali bekerja. Jatah cuti melahirkan selama 3 bulan sudah semakin menipis. Kesibukan pasangan muda ini juga semakin bertambah. Hari-hari ini Ari Astri Yunita mulai memerah ASI untuk stok.

 

“Ini paling cuma segini, nah ini ASInya, sekali meres masih sedikit, kalo di freezer katanya bertahan tiga bulan. Awal-awal cuman segaris nih pas meres, sekarang sudah lumayan 40 mililiter, makanya kalo dedeknya tidur, ibunya meres. Karena sekali menyusui suka mengalir, makanya sayang. Jadi biasanya satu meres, satunya menampung tetesan ASI.”

Dedy dan Astri mulai memikirkan strategi ketika harus meninggalkan anaknya bekerja tetapi kebutuhan ASI tetap terpenuhi. Apalagi jarak kantor ke rumah cukup jauh, yakni Bekasi-Jakarta.

 

“Ibunya kuliah juga, jadi nanti ketika ibunya kuliah sampai malam. Saya sama dedeknya jemput ke kampus supaya begitu langsung ketemu ibunya langsung menyusui. Kami usahakan yang terbaik agar mendapatkan asupan ASI. Selain itu kita juga mulai nyetok mulai sekarang.“

Totalnya Dedy dalam memberikan dukungan ASI eksklusif bukan tanpa alasan. Selain bagus untuk kekebalan tubuh bayi, ASI juga membuat irit.

 

“Mereka yang pakai susu formula kerepotan ketika anaknya menyusu malam-malam, kondisi capek, harus bikin ke dapur, makan waktu. Kalau ASI khan tinggal buka dan beri ASI.  Selain kondisi psikologis anak terhadap ibu dari segi waktu gak repot dan hemat. Karena saya orang akuntan, hemat juga. Karena pakai susu formula saja sebulan bisa 700 hingga 1 juta. Kalau pakai ASI khan gratis.”

Bahkan Dedy sempat berdebat panjang dengan ibunya yang menyarankan susu formula untuk anaknya, gara-gara ASI gak langsung keluar begitu istrinya melahirkan.

 

“Hampir mau pakai susu formula, saya agak berdebat dengan ibu yang kasihan lihat dedeknya nangis terus. Saya tetap bilang nggak deh. Dua hari pertama agak kosong yah, memang agak depresi. Kok susah keluarnya, maka saya usahain dipijit, dikasih dorongan, khan mungkin istri stress juga karena caesar dan ada bekas operasi. Jadi dua hari pertama dedek ditempeli di payudara, jadi waktu itu perjuangan yang sangat berat. Tapi lama kelamaan keluar juga.”

Ari Maulana Muhammad lebih beruntung karena tak ada pertentangan di lingkungan keluarganya.  Sejak awal keluarga besarnya mendukung ASI ekslusif.

 

“Alhamdulilah support, karena ibu mertua dulu juga ASI esklusif, ipar yang tinggal disini juga memberikan ASI. Orangtua saya mah ngikut apa kata anaknya. Pas di rumah sakit pun kita sudah siap-siap tempur, karena banyak yang memberikan Sufor. Tapi malah dapat rumah sakit yang mendukung ASI eksklusif.”

Semangat memberikan ASI ekslusif juga ditularkan Ari ke teman-temannya. Dia juga tak segan mengkritik orangtua yang tak memberikan ASI eksklusif.

 

“Saya pernah pasang status facebook, dikomen banyak orang, banyak yang marah. Soalnya saya pasang begini, kalau Ibu-Ibu yang melahirkan caesar kemudian menyusui bayinya dengan susu formula habis itu anaknya dirawat babysitter, di mana letak keibuannya.  Dia itu hanya seorang perempuan yang diberi Tuhan titipan berupa bayi, tetapi bukan ibu. Pada marah semua. Banyak yang bilang ASInya gak keluar. Padahal triknya khan banyak, wong dokter bilang gak mungkin ASI gak keluar. Kalau ibunya meyakini ASInya sedikit atau gak keluar ya akan begitu. Saya juga wanti-wanti ke adik untuk berikan ASI eksklusif. Saya minta istri untuk ngajari merah ASI juga.”

Bagaiamana jika para suami jika tak mendukung program ASI ekslusif?

Sukartini mungkin akan kelimpungan. Dia meminta langsung suaminya melakukan pendekatan ke keluarga besarnya. Misinya untuk mengamankan program ASI Ekslusif.

 

“Dia itu fasilitatornya, tolong dong bantuin bilang ke Ibu, gini-gini. Buat saya itu support yang luar biasa. Itu akhirnya Ibu mertua merasakan enaknya. Tidak repot, kalo ngasih susu formula, harus naker air panas, air dingin diperkirakan susunya. Sementara kalau pakai ASI tinggal ambil satu botol, pake wemer, setel timernya, tinggal celupin, anget, kasih ke anak. Jadinya ngerasain enaknya.”

Ari Astri Yunita juga mengaku dorongan suami yang membuatnya tetap bertahan memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. Pernah mencuat keinginan menyerah, namun suaminya selalu mengingatkan.

 

“Pernah anaknya rewel, trus akhirnya sms-an ama ayahnya, gimana dong, ASInya sedikit. Apa mau dipakain Susu formula. Lalu dianya selalu bilang sabar dan menenangkan, nanti juga bisa lancar. Itu sih support yang berasa sampai sekarang. Dia juga bantu-bantuin, jika lagi menyusu seperti sekarang, dia yang ambil alih kerjaan. Yaa nyuciin baju, yah beresin ini, atau main ama dedeknya, saya tidur sebentar.”

Peniwati, istri Ari Maulana Muhamad bercerita sifat humoris yang dimiliki suaminya mampu meredakan emosi, jika rasa capek menyerang.

 

“Yang paling utama dukungan pas sebulan pertama melahirkan, paling capek banget, tiap malam begadang. Kalau sudah capek biasanya ayahnya yang pegang. Trus menghibur, hampir kena babyblues. Pas ibuk pulang ke Cianjur, menangis terus tiap malam..sampai dia bilang, kalau harus bolos, saya bolos deh.”

Dan buah perjuangan mendukung ASI eksklusif itu mulai tampak. Itulah yang dibanggakan Dedy, Udiantara dan Ari melihat anak-anaknya yang tumbuh sehat.

 

Dedy, “Dikasih tahu suster bahwa ketahanan tubuh bayi yang minum ASI lebih bagus, tidak rentan penyakit. Kita kasihan khan kalau anak kecil sakit, dia panas pun kita panik. Makanya dikasih ASI eksklusif biar ke depannya lebih baik. Ini khan buat dedeknya juga ke depan.”

 

Udiantara, “Kami melihat perbedaaan perbedaan yang baik untuk Anak yang mengginakan ASI. Prema terlihat lebih lincah dan beradaptasi, proposional di usia dia. Dan yang tidak kalah penting semoga selalu diberikan sehat, saya merasa dibanding anak-anak seusia dia, daya tahan tubuhnya sehat. Dan kalaupun diberi kesempatan lagi mempunyai anak, kami akan melakukan hal yang sama, yakni memberikan ASI eksklusif.”

Ari, “Saya pingin istri saya tahu, bahwa anak dengan ASI eksklusif perkembangannya lebih baik. Saya selalu memotivasi kalau Aslam adalah anak yang spesial, sehingga istri termotivasi untuk memberikan ASI lebih. Di satu sisi saya juga menunjukkan foto-foto Aslam dengan berbagai gaya, saya ingin menunjukkan bahwa ini lho anak ASI ekslusif pertumbuhannya hebat. Setidaknya orang melihat, Insya Allah, Aslam berkembang dengan baik, karena sudah tengkurep padahal dua bulan lho.”

Sumber : KBR68H

August 12, 2011 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: