ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Bapak ASI

Monday, 29 August 2011 09:00
Suryawijayanti
KBR68H – Siapa bilang menyusui bayi secara ekslusif hanya menjadi tanggungjawab ibu. Ayah pun  memiliki andil dalam meluluskan bayinya mendapatkan haknya secara penuh hingga 6 bulan.  Reporter KBR68H Suryawijayanti berbincang bersama para ayah yang turut menyukseskan ASI Ekslusif. Mereka juga dikenal dengan isitilah Ayah menyusui atau Breastfeeding Father.

UDIANTARA : kami harus berjuang membesarkan anak dari awal dengan baik. Lagipula pemberian ASI waktunya gak bisa tergantikan setelah umurnya 10 tahun misal. Mau tak mau harus dilakukan hingga umur 6 bulan. Mulai hamil kami afirmasi agar anak ini sehat, kami akan beri terbaik, kami akan beri ASI. Bagaimana ASI baik bayi sebagai start awal.

Namanya I Gede Udiantara. Dia fasih berbicara tentang ASI sejak anak semata wayangnya, Putu Gede Prema Nananjaya atau biasa dipanggil Prema, lahir.

 

UDIANTARA   : ASI itu khan susu yang bisa didapatkan dari bermacam sumber, ada hewani dan nabati. Nah anak manusia ya dikasih dari sumbernya, yakni dari ibunya. Kalau ada ibunya kenapa dikasih dari sumber lain.

KBR68H : Ketika Prema lahir ASI langsung keluar?

UDIANTARA   : itu yang membuat kami deg-degan. Ujian ASI adalah ketika pertama kali memulainya, kami sempat ragu dan tidak yakin,  karena secara kasat mata tidak ada cairan yang keluar. Cuma logikanya kalau gak ada cairan yang keluar berarti si anak rewel menangis. Tapi ini tidak, berarti dia mendapatkan sesuatu. Dan informasi yang saya dapatkan memang tidak putih tapi bening. Yakinlah para ibu dan bapak yang akan memiliki bayi, bahwa dengan keyakinan akan memberi solusi untuk pilihan memberikan ASI.

Pengetahuan Udianta berkat kerjasama dengan isterinya, Putu Sukartini.

 

SUKARTINI : persiapan sebelum lahiran memang sudah dipersiapkan, waktu masa hamil sudah baca-baca. Nah biasanya di kantor saya print artikel, ketika pulang naik kereta saya serahkan ke dia untuk dibaca. Karena saya ingin punya pemahaman yang sama, khususnya soal ASI.

Sukartini meyakini, suami memiliki peran penting selama proses menyusui, apalagi bagi ibu bekerja dengan masa cuti rata-rata hanya tiga bulan pasca persalinan. Udianta punya cara bagaimana dia membantu program ASI keluarga.

 

UDIANTARA : yang disarankan oleh medis adalah kenyamanan ibu, seperti pijat ke ibu biar tambah rileks. Kami punya cara berjuang masing-masing ya. Saya sebagai seorang ayah yang mendukung dengan cara-cara yang saya bisa. Misal suplai makanan buat si Ibu, kalau sebelumnya pas belum punya baby susah makan sayur, nah sekarang  harus rajin. Dengan beberapa cara harus masuk.

Menjadi ayah ASI memang dituntut untuk memliki kesabaran ekstra. Itu pula yang dirasakan oleh Dedy Bagus Prakarsa. Ayah dari Muhammad Athallah Prakarsa ini juga harus ekstra sabar menghadapi istrinya. Dari bacaan yang dia pahami, menjaga emosi turut mempengaruhi keluarnya ASI.

 

DEDY : semua hal yang berkaitan dengan ASI saya cari tahu, 80 persen ASI keluar itu ada pengaruh psikis. Jadi kalau Ibu stress atau kecapekan maka ASI bisa gak keluar. Makanya harus benar-benar membuat istri gak stres

Menjaga istri tidak stress, juga diamini oleh Ari Maulana Muhammad. Dia harus pintar-pintar membaca kondisi istrinya. Jika emosi mulai naik, maka saatnya dia menjauhkan Aslam Darsana Fauzan dari ibunya. Membiarkan sang Ibu untuk rileks sejenak. Tidak hanya menjaga emosi, Ari juga mendapat tugas urusan rumah tangga.

 

ARI : kadang saya bersihin kasur, nyapu, beresin kamar, pakaian saya beresin, kalau istri ingin makan, saya pegang. Cuman kalau urusan mencuci pakaian bekas air besar, saya gak mau, kebayang-bayang sampai makan ha..ha..ha..

Apa yang membuat para Ayah ini mau terjun ke urusan domestik demi menyukseskan ASI ekslusif? Menurut Dedy Bagus Prakarsa, selain bagus untuk kekebalan tubuh bayi, ASI juga membuat irit.

 

DEDY : mereka yang pakai susu formula kerepotan ketika anaknya menyusu malam-malam, kondisi capek, harus bikin ke dapur, makan waktu. Kalau ASI khan tinggal buka dan beri ASI.  Selain kondisi psikologis anak terhadap ibu dari segi waktu gak repot dan hemat. Karena saya orang akuntan, hemat juga. Karena pakai susu formula saja sebulan bisa 700 hingga 1 juta. Kalau pakai ASI khan gratis

Bagaimana jika para suami jika tak mendukung program ASI ekslusif? Sukartini mungkin akan kelimpungan.

 

SUKARTINI : Dia itu fasilitatornya, tolong dong bantuin bilang ke Ibu, gini-gini. Buat saya itu support yang luar biasa. Itu akhirnya Ibu mertua merasakan enaknya. Tidak repot, kalo ngasih susu formula, harus naker air panas, air dingin diperkirakan susunya. Sementara kalau pakai ASI tinggal ambil satu botol, pake wemer, setel timernya, tinggal celupin, anget, kasih ke anak. Jadinya ngerasain enaknya.

Ari Astri Yunita juga mengaku dorongan suami yang membuatnya tetap bertahan memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. Pernah mencuat keinginan menyerah, namun suaminya selalu mengingatkan.

 

ASTRI : pernah anaknya rewel, trus akhirnya sms-an ama ayahnya, gimana dong, ASInya sedikit. Apa mau dipakain Susu formula. Lalu dianya selalu bilang sabar dan menenangkan, nanti juga bisa lancar. Itu sih support yang berasa sampai sekarang. Dia juga bantu-bantuin, jika lagi menyusu seperti sekarang, dia yang ambil alih kerjaan. Yaa nyuciin baju, yah beresin ini, atau main ama dedeknya, saya tidur sebentar.

ARI : Saya pingin istri saya tahu, bahwa anak dengan ASI eksklusif perkembangannya lebih baik. Saya selalu memotivasi kalau Aslam adalah anak yang spesial, sehingga istri termotivasi untuk memberikan ASI lebih. Di satu sisi saya juga menunjukkan foto-foto Aslam dengan berbagai gaya, saya ingin menunjukkan bahwa ini lho anak ASI ekslusif pertumbuhannya hebat. Setidaknya orang melihat, Insya Allah, Aslam berkembang dengan baik, karena sudah tengkurep padahal dua bulan lho.

 

Demikian laporan yang disusun Reporter KBR68H Surya Wijayanti.

Sumber : KBR68H

August 29, 2011 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: