ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Kampanyekan ASI Tanpa Susu Formula

25 April 2012

MENYUSUI selalu dipandang sebagai cara paling mudah memberi makan pada bayi. Namun faktanya, masih banyak ibu yang kesulitan saat akan memberikan air susu ibu (ASI), sehingga harus memberikan susu formula. Apalagi ketika ibu harus bekerja dan meninggalkan rumah.

Berangkat dari permasalahan seputar menyusui, sekelompok ibu bergabung dalam milis (mailing list) asiforbaby. Dalam milis dengan anggota dari berbagai kota di Indonesia tersebut, mereka saling berbagi informasi seputar ASI dan menyusui.

“Dari situlah kemudian kami berlanjut mendirikan sebuah organisasi nirlaba bernama Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI),” kata Rachmadhani Yuniarco.

Ketua AIMI cabang Jawa Tengah itu mengungkapkan, AIMI berdiri 21 April 2007. Saat itu, AIMI baru memiliki satu konselor laktasi, yakni Mia Sutanto yang menjabat sebagai ketua umum. Kegiatan AIMI baru sebatas kelas edukasi, breastfeeding fair, di Jakarta.

Pada 2008, kelas edukasi mulai diselenggarakan di Semarang berkat arahan Clodi Stepantoro, pengurus AIMI pusat. Saat itu, Semarang belum memiliki satu pun konselor laktasi.

“Di kelas edukasi pertama, kami tekor. Seluruh pengurus swadaya mengumpulkan uang. Maklum, waktu itu nama AIMI masih asing. Belum ada pihak yang mau mendanai kegiatan kami,” ujarnya.

Kemudian Juni 2009, Rachmadhani memutuskan untuk ikut pelatihan konselor laktasi yang diselenggarakan Sentra Laktasi Indonesia (Selasi) di Jakarta. Meski hanya memiliki satu konselor, AIMI di Semarang terus berjalan dengan berbagai kegiatan kelas edukasi. Pada 2010, AIMI pusat mengeluarkan persyaratan bahwa untuk menjadi cabang harus memiliki minimal empat konselor.

“Kebetulan waktu itu Dinkes Jateng mengadakan kegiatan pelatihan konselor laktasi. Dua anggota AIMI Jateng, diikutkan pelatihan tersebut. Kurang satu, akhirnya Pak Yazid, pegawai Dinkes Jateng bersedia menjadi konselor AIMI”.

Setelah genap memiliki empat konselor, AIMI Jateng resmi menjadi cabang. Wagub Rustriningsih, meresmikan AIMI Jateng pada 19 Desember 2010. Lambat laun, AIMI mulai merambah ke sejumlah daerah lain, seperti Puwokerto, Yogyakarta, Solo, Cilacap, Tegal, dan Wonosobo. Anggotanya sudah mencapai 200 orang di Jateng, dan lebih dari 1.600 orang di 18 provinsi. Permintaan kelas edukasi di daerah terus mengalir. Saat ini ranting AIMI Jateng sudah ada di Purwokerto yang juga membawahi Cilacap.

“Sebentar lagi Solo dan Salatiga akan menyusul. Kami baru saja punya sekretariat dan ruang konseling baru di Jl Kyai Saleh No 13 Semarang,’’ ujarnya.

Sekarang, AIMI fokus pada perluasan wilayah. AIMI Jateng bersama Dinas Kesehatan Kota Semarang tengah menggodok Perwal soal pemberian ASI eksklusif beserta fasilitas menyusui di tempat umum. Ini dilatarbelakangi oleh PP Nomor 33 tahun 2012 tentang pemberian ASI eksklusif, dan Pergub No 56/2011.

Ayah ASI

Selama lima tahun berdiri, AIMI telah melakukan advokasi, edukasi, serta memberikan dukungan bagi para ibu untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan baik melalui media cetak, radio, maupun media sosial. AIMI mencatat bahwa saat ini presentasi ibu yang memberikan ASI eksklusif selama enam bulan bagi bayinya di seluruh Indonesia hanya sebesar 15% dari total ibu yang memiliki bayi.

Indonesia bahkan tercatat sebagai negara konsumen susu formula terbesar di dunia setelah China. Padahal, ASI adalah sumber utama nutrisi yang sangat diperlukan oleh bayi. “Komposisi ASI itu unik karena berubah sesuai kebutuhan bayi,” tuturnya.

Sayangnya karena kurang dukungan keluarga dan banyaknya mitos, banyak ibu gagal memberikan ASI eksklusif. Umumnya mereka selalu menganggap bahwa ASI saja belum cukup untuk memenuhi kebutuhan minum bayi, karena bayi sering menangis. Padahal bayi menangis bukanlah satu-satunya tanda bahwa dia lapar, tapi bisa karena ingin digendong, dipeluk, atau merasa tidak nyaman. Apalagi bila harus berhadapan dengan mitos bila ASI encer itu tidak bergizi, dan tidak bisa membuat bayi kenyang.

Keberhasilan pemberian ASI selama enam bulan pertama setelah kelahiran juga bergantung pada dukungan ayah ASI. Peran ayah ASI dalam proses pemberian ASI sangat penting. Sebab dukungan suami secara psikologis mampu membantu proses menyusui menjadi lancar. Peran suami dalam proses menyusui salah satunya adalah meneguhkan hati istri agar tetap memberikan ASI eksklusif selama enam bulan, bahkan berlanjut hingga dua tahun.

“Kami bukan antisusu formula, melainkan tidak setuju tentang cara mereka memasarkan produk yang sering melanggar kode etik WHO. Seperti dengan mendekati ibu secara langsung, membuat seminar tentang ASI dengan pembicara terkenal tapi sponsornya susu formula,” paparnya.

Ya, AIMI tetap akan terus berkampanye mengajak para ibu dan ayah untuk memberikan ASI eksklusif, agar bayi benar-benar mendapatkan haknya, yaitu ASI. (Fani Ayudea-61)

Sumber : Suara Merdeka

April 25, 2012 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: