ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Hak Bayi Peroleh ASI Eksklusif Masih Rendah

Oleh Juliyah

Jum’at, 08 Juni 2012 | 18:46

Jakarta, InfoPublik– Di Indonesia, bayi yang mendapatkan air susu ibu (ASI) eksklusif hingga usia 6 bulan masih rendah. Berdasarkan Data Susenas 2010, persentase bayi umur 0-6 bulan yang mendapat ASI hanya 61,5 persen. Demikian diungkapkan Dirjen Bina Kesehatan Ibu dan Anak Slamet Riyadi Yuwono dalam temu media di Jakarta, Jumat (8/6). “Penyebab masih rendahnya pemberian ASI eksklusif, karena belum semua rumah sakit menerapkan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui (LMKM),” ungkapnya.

 Dijelaskan, ASI merupakan nutrisi yang penting bagi bayi usia 0-6 bulan. ASI eksklusif hingga 6 bulan dibutuhkan bayi guna menunjang pertumbuhan dan perkembangan otak, otot dan hormon hingga berusia 2 tahun, dimana pada masa itu merupakan periode emas yang akan berpengaruh bagi kecerdasan dan pertumbuhannya. “Golden periode ini prosesnya tidak akan bisa diulangi lagi di usia-usia berikutnya,” kata Slamet.

 Ia menjelaskan 10 LMKM, yakni menetapkan kebijakan peningkatan pemberian ASI secara rutin dikomunikasikan kepada semua petugas, melakukan pelatihan bagi petugas untuk menerapkan kebijakan tersebut, memberikan penjelasan kepada ibu hamil tentang manfaat menyusui dan tata laksananya dimulai sejak masa kehamilan, masa bayi lahir, sampai umur 2 tahun.

 Di samping, membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 60 menit setelah melahirkan di ruang bersalin, membantu ibu untuk memahami cara menyusui yang benar dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis. Lalu, tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada bayi baru lahir. Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari.

 Selanjutnya, membantu ibu menyusui semau bayi semau ibu, tanpa pembatasan terhadap lama dan frekuensi menyusui. Tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi yang diberi ASI. Mengupayakan terbentuknya Kelompok Pendukung ASI di masyarakat dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari Rumah Sakit/Rumah Bersalin/Sarana Pelayanan Kesehatan.

 Selain itu, menurutnya, belum semua bayi baru lahir mendapatkan inisiasi menyusui dini (IMD), masih terbatasnya jumlah konselor menyusui yang hanya 2.921 dari target 9.323 konselor dan promosi susu formula pun masih gencar dilakukan. Juga belum semua kantor dan fasilitas umum melaksanakan Peraturan Bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menaker dan kesehatan tentang peningkatan pemberian ASI selama waktu kerja di tempat bekerja.

 “Promosi susu formula cukup gencar tidak jarang puskesmas menggunkan sponsor susu, misalnya kalender cara menghitung tinggi badan di puskesmas ada gambar produk susunya, apalagi biasanya berada didekat dokter saat menuliskan resep. RS dan Puskesmas dilarang keras memasang promosi produk susu formula untuk bayi,” tegasnya.

 Untuk itu, kata dia, tenaga kesehatan didalamnya baik dokter, bidan hingga perawat juga kilinik bersalin harus paham dan memiliki komitmen akan pentingnya ASI eksklusif. Sementara keluarga harus memberikan dukungan dan perlindungannya kepada ibu dalam memberikan ASI eksklusif bagi bayinya. “Pemahaman dan kepedulian tenaga kesehatan akan pentingnya PP nomor 33 tahun 2012 tentang pemberian ASI Eksklusif harus ditingkatkan. Setiap bayi berhak mendapatkan ASI sejak dilahirkan sampai enam bulan,” ujarnya.

 Produsen susu formula pun mestinya mendukung. PP ini kata dia, tidak akan mematikan industri susu formula karena pasarnya tetap akan ada. “Di sini intinya produsen susu formula jangan ganggu ASI eksklusif untuk bayi hingga enam bulan,” tegas Slamet.

 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 33 tahun 2012 mengenai Pemberian ASI Eksklusif disahkan pada 1 Maret 2012 lalu. Tujuan PP tersebut diantaranya guna menjamin pemenuhan hak bayi untuk mendapatkan ASI sejak dilahirkan hingga berusia 6 bulan dengan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya. Memberikan perlindungan kepada ibu dalam memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dan meningkatkan peran dan dukungan keluarga, masyarakat, pemerintah pusat dan daerah terhadap pemberian ASI eksklusif.(dry)

 
Sumber : Kominfo

June 8, 2012 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: