ASI ( Air Susu Ibu )

– more fresh… HEALTHIER and free –

Cakupan ASI Terus Turun ==> Ayo ASI + Imunisasi

Cakupan ASI Terus Turun

Pada 2010, prevalensi ASI eksklusif di Indonesia hanya mencapai 15,3%. Itu sangat miris dengan kondisi rata-rata per tahun ada 4 juta kelahiran bayi. Rendahnya pemberian ASI eksklusif bagi bayi antara lain disebabkan masih rendahnya pengetahuan ibu dan masih gencarnya promosi perusahaan susu formula.

TARGET capaian cakup an prevalensi pembe rian air susu ibu (ASI) secara eksklusif bagi bayi usia 0-6 bulan minimal 80% hingga kini masih sulit tercapai. Itu lantaran pemberian ASI ekslusif dari tahun ke tahun cenderung menurun.
Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anung Sugihantoro menyatakan kecenderungan pemberian ASI ekslusif tergambar dari data terakhir Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) selama satu dekade (1997-2007).

SDKI menyebutkan pada 1997, prevalensi pemberian ASI eksklusif mencapai 40,2%, kemudian 2003 menurun menjadi 39,5%, dan pada 2007 turun kembali jadi 32%.

Bahkan pada 2010, prevalensi ASI eksklusif kembali menurun jadi 15,3%. Dengan rata-rata per tahun ada 4 juta kelahiran, tingkat pemberian ASI eksklusif di Indonesia tergolong sangat rendah.

“Penurunan pemberian ASI memprihatinkan. Tanpa ASI, tingkat kematian anak akan tinggi karena mereka tidak memiliki kekebalan tubuh,” kata dia pada peringatan Pekan ASI Sedunia, di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan penye bab rendahnya pemberian ASI beragam. Di antaranya, kurangnya dukungan dari suami, adanya mitos tidak benar seperti memberikan ASI menyebabkan bayi diare dan tubuhnya berbau amis.Kemudian, rendahnya pengetahuan ibu tentang manfaat ASI, masih gencarnya promosi perusahaan susu formula, rendahnya tenaga kesehatan yang mendorong ibu melahirkan untuk memberikan ASI serta terbatasnya sarana pemberian ASI di tingkat perusahaan dan sarana publik. Hak anak Te r k a i t i t u , p e m e r h a t i perempuan dan anak Giwo Rubianto Wiyogo menyatakan ASI harus diberikan kepada anak karena merupakan hak anak. “Hak anak itu sejak dalam kandungan, sehingga ibu harus memberi ASI kepada bayinya,” paparnya di sela launching sosialisasi Aliansi Pita Putih Indonesia (APPI) tentang imunisasi pentavalen.

Menurut dia, anak yang diberi ASI punya imunitas lebih tinggi ketimbang anak yang diberi susu formula. ASI juga meningkatkan ikatan ibu dan anak dan praktis.

“Sebagus apa pun susu formula, tetap ASI yang terbaik,” ungkap aktivis APPI itu.

Ia menegaskan keluarga, pemerintah, dan perusahaan harus mendukung pemberian ASI. Perusahaan misalnya, perlu menyediakan ruang laktasi. Tidak hanya sekadar ruangan, tapi juga dilengkapi fasilitas penunjang. “Kalau di luar negeri, fasilitas di ruang laktasi lengkap, ada tenaga kesehatan dan fasilitas penunjang. Bukan sekadar formalitas,” kata dia.

Pemerintah juga perlu menggalakkan pemberian ASI pada anak lantaran pemerintah akan diuntungkan. “Dengan ASI, akan lahir generasi muda yang sehat,” ujarnya.

Ketua Pembina Sentra Laktasi Indonesia Utami Roesli menegaskan pemerintah harus tegas memberi sanksi kepada perusahaan yang tidak memungkinkan karyawatinya memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, “Sesuai Pasal 201 UU Kesehatan, bila seperti itu, pimpinan kerjanya dapat dituntut 3 tahun penjara dan denda Rp300 juta.” (H-2)

http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2014/09/16/ArticleHtmls/Cakupan-ASI-Terus-Turun-16092014015012.shtml?Mode=1#

September 16, 2014 - Posted by | Article

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: