Catatan Kecil Terkait Draft RPP Pemberian ASI (Update 9 Nov 2010 )
1. PASAL 11
(2) Dalam hal ibu melahirkan meninggal dunia atau oleh sebab lain sehingga tidak dapat memberikan persetujuan, hak menolak atau menyetujui pemberian formula bayi atau produk susu lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh keluarga terdekat.
==> ATAU OLEH SEBAB LAINNYA ==> ATAU SESUAI DENGAN PASAL 4 AYAT 5, sehingga tidak dapat memberikan persetujuan, hak menolak atau menyetujui pemberian formula bayi atau produk susu lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh keluarga terdekat.
2. Pasal 12
Dalam hal pemberian ASI eksklusif tidak dimungkinkan berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, bayi dapat diberikan formula bayi.
==> Dalam hal pemberian ASI eksklusif tidak dimungkinkan berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, bayi dapat diberikan formula bayi, namun terlebih dahulu petugas kesehatan wajib memberikan informasi yang sejelas-jelasnya serta WAJIB memberikan surat pernyataan/ informed consent yang ditanda-tangani oleh kedua belah fihak dengan sadar tanpa tekanan.
3, Pasal 14
Setiap tenaga kesehatan dilarang menerima, memberikan, dan mempromosikan formula bayi dan produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI eksklusif, kecuali dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11.
==> HAPUS : kecuali dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11.
tanpa kecualipun merka pasti akan menjelaskan.
justru dengan kecuali ini mereka bisa punya peluang utk promosi utk produk tertentu dst.
4. Pasal 15
(1) Penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan dilarang menerima, memberikan, dan mempromosikan formula bayi dan produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI eksklusif, kecuali dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11.
==> idem ditto no 4…hapus KECUALI…BLA..BLA
5. PASAL 15
(3) Penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan dilarang menerima sampel ataupun sumbangan formula bayi dan/atau produk bayi lainnya untuk keperluan rutin atau penelitian.
==> (3) Penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan dilarang menerima sampel, MENCANTUMKAN SEGALA MACAM ATRIBUT ataupun sumbangan formula bayi dan/atau produk bayi lainnya BAIK SECARA LANGSUNG/ eperluan rutin atau SECARA TIDAK LANGSUNG/SEMINAR/penelitian.
6. Pasal 16
(1) Produsen atau distributor formula bayi dan/atau produk bayi lainnya dilarang melakukan kegiatan :
a. memberikan sampel secara cuma-cuma atau sesuatu dalam bentuk apapun kepada fasilitas pelayanan kesehatan atau wanita hamil atau ibu yang melahirkan, atau menjajakan, menawarkan atau menjual langsung ke rumah-rumah,
==> Pasal 16
(1) Produsen atau distributor formula bayi dan/atau produk bayi lainnya dilarang melakukan kegiatan :
a. memberikan sampel secara cuma-cuma atau sesuatu dalam bentuk apapun kepada fasilitas pelayanan kesehatan atau wanita hamil atau ibu yang melahirkan, atau menjajakan, menawarkan atau menjual langsung ke PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERN SERTA LANGSUNG KE rumah-rumaH
7.PASAL 17
(3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika bantuan tersebut ditujukan untuk biaya pelatihan, penelitian dan pengembangan, pertemuan ilmiah, dan/atau kegiatan lainnya yang sejenis yang tidak berhubungan dengan nutrisi bayi.
==> ANEH…KONTRADIKSI DENGAN PASAL 15.
HAPUS……..PASAL 17 AYAT 3……..BIAYA PENELITIAN BISA CARI SENDIRI DOKTER LEWAT LEMBAGA DONOR DST..ATAU BISA LEWAT APBN.
DISINI MEREKA BANYAK BERMAAIN SELAM INI..APA MAU DIBIARKAN TERUS!
8. HAPUS PASAL 18 ~ PASAL 22
9. PASAL 23
Pasal 23
Iklan formula bayi, formula lanjutan dan/atau produk bayi lainnya yang diperuntukkan bagi bayi sampai dengan genap usia 1 (satu) tahun, dilarang dimuat dalam media massa, kecuali dalam media cetak khusus tentang kesehatan, setelah mendapat persetujuan Menteri, dan dalam iklan yang bersangkutan wajib memuat keterangan bahwa formula bayi dan formula lanjutan yang bersangkutan bukan pengganti ASI.
==> Pasal 23
(1)Iklan formula bayi, formula lanjutan dan/atau produk bayi lainnya yang diperuntukkan bagi bayi sampai dengan genap usia 1 (satu) tahun, dilarang dimuat dalam media massaBAIK CETAK MAUPUN ELEKTRONIK.
(2) SEMUA PRODUSEN FORMULA BAYI, LANJUTAN/ATAU PRODUK BAYI DILARANG MEMBERIKAN SPONSOR UNTUK KEGIATAN APAPUN (OLAHRAGA, SENI, KESEHATAN..DLL)
10. PASA 25
c. tidak memberikan pernyataan tertulis bahwa bantuan tersebut tidak mengikat dan tidak menghambat keberhasilan program pemberian ASI eksklusif, sebagaimana dimaksud dalam pasal 19
==> HAPUS c INI.
11. Pasal 27
Setiap institusi pendidikan kesehatan yang dengan sengaja tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 21 dapat dikenakan sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa teguran lisan, teguran tertulis, penghentian kegiatan sementara dan/atau pencabutan izin .
==> HAPUS PASAL 27 KARENA PASAL 17 AYAT 3, PASAL 18 ~ PASAL 22 DIHAPUS.
[FREE E-BOOK] Breastfeeding => Clinical Protocols (Jaundice, Mastitis, Hypoglycemia …Etc)
Statements
ABM Position Statement on Breastfeeding
ABM Physician Education Statement
Clinical Protocols
These protocols serve only as guidelines for the care of breastfeeding mothers and infants and do not delineate an exclusive course of treatment or serve as standards of medical care. Variations in treatment may be appropriate according to the needs of an individual patient.
If you would like to use an ABM protocol, please fill out our request form.
Translated protocols that appear here [on the ABM website] have undergone a rigorous two-way translation to provide complete accuracy. Please be aware that translations that appear elsewhere, such as on other websites, are not ‘official’ ABM translations and ABM cannot assure their accuracy.
For information on how ABM Protocols are created click below:
Procedure for Protocol Development
For corrections to Protocols 3, 7 & 8, click below:
Corrections to Published ABM Clinical Protocols
ABM Clinical Protocols are now readily available through the National Guideline Clearinghouse website. Visit www.guideline.gov
Note: Most protocols below are available as pdf files, viewable with Adobe Reader.
- Hypoglycemia
English
Japanese
Korean
German
German
Chinese - Going Home/Discharge
English
Korean
Chinese - Supplementation
English
Japanese
Korean
Chinese - Mastitis
English
Korean
Chinese
Japanese
German - Peripartum BF Management
English
Korean
Chinese - Cosleeping and Breastfeeding
English
Chinese
Korean
German - Model Hospital Policy
English
Chinese
Korean
Spanish - Human Milk Storage
English
German
Chinese
Korean - Galactogogues
English
Korean - Breastfeeding the Late Pre-term Infant
English - Neonatal Ankyloglossia
This protocol has been removed from the website because it has expired. It is currently under revision and will be replaced when the revision is approved and published in Breastfeeding Medicine. - NICU Graduate Going Home
This protocol has been removed from the website because it has expired. It is currently under revision and will be replaced when the revision is approved and published in Breastfeeding Medicine. - Contraception and Breastfeeding
English
Chinese - The Breastfeeding-Friendly Physicians’ Office Part 1: Optimizing Care for Infants and Children
English
Korean
Chinese - Analgesia and Anesthesia for the Breastfeeding Mother
English
Korean
Chinese - Breastfeeding the Hypotonic Infant
English
Korean
Chinese
Spanish - Guidelines for Breastfeeding Infants with Cleft Lip, Cleft Palate, or Cleft Lip and Palate
English
Korean
Chinese - Use of Antidepressants in Nursing Mothers
English
Korean
Chinese - Breastfeeding Promotion in the Prenatal Setting
English
Korean
Spanish - Engorgement
English - Breastfeeding and the Drug-Dependant Woman
English
Korean
Chinese - Jaundice
English
Chinese
Spanish
Korean
Japanese - Non-Pharmacologic Management of Procedure-Related Pain in the Breastfeeding Infant
English
Spanish - Allergic Proctocolitis in the Exclusively Breastfed Infant
English
Source : bfmed.org
Nice Story : Perjuanganku diantara Menyusui dan Spondilitis TB
Sharing Dari Ibu Diah Anggrahita dari milis sehat@yahoogroups.com
Dear All,
Sedikit ingin berbagi pengalaman saya relaktasi.
Diawali saat saya terdiagnosa spondilitis TB dan harus mendapatkan tindakan
operasi tulang belakang tepat saat usia anak kedua saya, Imara, menginjak 1
tahun.
Karena kondisi saya yg mengharuskan dirawat inap hampir 1 bulan, dan dengan
gerakan tubuh yg terbatas, obat2 serta alat bantu yg harus melekat pada
saya, dengan berat hati saat itu saya berhenti menyusui Imara dalam kondisi
weaning yg tergesa2 karena operasi yg harus segera dilakukan.
Bulan kedua pasca operasi, sekembalinya saya ke rumah, Imara ternyata
kembali meminta disusui. Setelah konsul dgn dsa dan dokter bedah orthopedi,
juga dengan pertimbangan kondisi saat itu saya sudah dapat tidur dgn posisi
tubuh miring kiri-kanan dan sedikit2 sudah dapat kembali duduk dan
berjalan, maka saya memutuskan untuk kembali menyusui di usia Imara 13
bulan.
ASI yang awalnya sudah betul2 kering sama sekali, lambat laun berproduksi
lagi. Dan sampai saat ini di usia Imara 23 bulan, saya masih dapat menyusui.
Alhamdulillah saat minggu lalu adik saya melahirkan bayi perempuannya dalam
kondisi prematur dan membutuhkan donor ASI, saya masih dapat membantu
mendonorkan ASI untuk keponakan tercinta.
Mudah2an sharing ini bisa lebih menguatkan apa yang sudah disebutkan mbak
Ade, yang penting ketekunan serta keinginan yg kuat, insya Allah akan ada
jalannya.
PR saya berikutnya untuk weaning with love di usia Imara 2 thn, karena
Januari besok saya masih harus menjalani operasi tulang belakang lanjutan.
Sekalian mohon doanya di sini agar proses weaning dan operasinya dpt
berjalan lancar
Rgds,
Diah
Menyusui,Lebih dari Sekadar Transfer Gizi
Tuesday, 13 December 2011
ASI menyimpan berjuta manfaat bagi bayi.Tak hanya sebagai makanan utama yang kaya nutrisi.Kedekatan dengan ibu saat bayi menyusu juga berdampak positif bagi kecerdasan dan perkembangan pribadi anak di masa mendatang.
Bayi memperoleh gizi terbaik melalui Air Susu Ibu (ASI).Kandungan gizinya tak akan tergantikan oleh susu formula atau sumber makanan lain apapun.Lebih dari itu adalah terjalinnya kedekatan antara ibu dan bayi ketika proses menyusui.Kontak kulit dengan ibunya ditengarai mampu membuat otak bayi melepaskan hormon oksitosin.Hormon yang dikenal pula dengan hormon cinta ini membantu bayi lebih tenang dan merasa terlindungi.
Air susu ibu (ASI) mengandung hormon koleksitokinin yang membuat bayi mudah tidur. Selain itu,detak jantung sang ibu juga menenangkan si bayi.Ini karena dalam kandungan si kecil telah terbiasa merasakan kedekatan dengan ibu lewat suara detak jantung.Di dalam rahim dia juga akan merasa hangat dan nyaman.Ketika akhirnya lahir,ia akan sangat membutuhkan perasaan aman dan nyaman tadi.
Dekapan hangat ketika ibu menyusui membuatnya yakin bahwa kehadirannya diterima dengan penuh kasih sayang.Perasaan dilindungi dan disayangi tersebut menjadi dasar untuk perkembangan emosi yang hangat dan kepribadian penuh percaya diri. Dengan menyusui pula, ibu dan bayi bisa berkomunikasi. Berkomunikasi dengan buah hati bisa dilakukan dengan memilih posisi yang paling nyaman bagi bayi saat ia menyusu.
Dengan posisi yang pas,ia tak akan rewel lantaran ASI mengalir lancar. Dan bagi ibu sendiri tidak akan cepat lelah. Bagaimana caranya untuk meraih posisi nyaman itu? * Gunakan bantal kecil untuk menyangga bayi,bila ia tak mampu mencapai puting payudara ibu. * Pastikan bahwa puting susu beserta sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi dan lidahnya bisa menghisap. * Konsentrasilah pada bayi ketika mulai menyusui dan hindari stres.Kondisi psikis ibu akan berpengaruh pada produksi ASI.
Lancarkan ASI
Agar proses menyusui berlangsung tanpa kesulitan, salah satu faktor penting adalah lancarnya produksi ASI.Untuk memaksimalkan produksi ASI,ibu membutuhkan tambahan kalori yang jauh lebih banyak.Selama masa menyusui eksklusif (4-6 bulan pertama) ibu harus mendapatkan tambahan 700 kalori,enam bulan selanjutnya 500 kalori,dan pada tahun ke dua 400 kalori.
Semua itu bisa terpenuhi bila ibu mengkonsumsi makanan bergizi seimbang.Mengandung cukup karbohidrat,vitamin, protein,lemak dan mineral demi menunjang produksi ASI.Beberapa jenis sayuran di antaranya daun katuk, daun oyong dan daun pepaya disebutkan bisa membantu memperbanyak ASI. Kita tahu,daun katuk yang mengandung laktogagum dipakai secara turun menurun untuk meningkatkan produksi ASI.
Dalam 100 gram daun katuk segar terdapat 70 gr air,4,8 gr protein,1 gr lemak,11 gr karbohidrat, 204 gr kalsium,83 mg fosfor, 2,7 gr besi,2,2 gr mineral-mineral lain,3 mcg retinol (vitamin A),0,1 mcg thiamin (vitamin B1),200 mg asam askorbat (vitamin C),7 mg asam folat.Supaya kandungan gizi tersebut tidak rusak,harus hati-hati mengolahnya. Jangan terlalu matang atau kelamaan memasak daun katuk.
Sayangnya,tidak semua orang menyukai daun katuk. Terkadang pula ada rasa bosan bila menyantapnya terus menerus.Untuk membantu mempermudah kaum ibu melancarkan ASI,tersedia suplemen Lancar Asi yang praktis.Lancar Asi ini berbentuk kapsul tablet (kaptab), terbuat dari ekstrak daun katuk yang mengandung karbohidrat,protein, lemak,vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan ibu menyusui demi kesehatan bayinya.
Kemasannya berupa strip yang kedap udara, menjamin Lancar Asi tetap higienis. Karena kandungan gizi dan kualitasnya,Lancar Asi baik dikonsumsi oleh semua ibu menyusui. Bila ASI lancar, tak ada lagi alasan bagi ibu untuk tidak mentransfer gizi sekaligus cinta kasihnya pada si bayi melalui ASI. [esthi/info
Sumber : SINDO
-
Archives
- January 2012 (1)
- December 2011 (6)
- November 2011 (8)
- October 2011 (1)
- September 2011 (11)
- August 2011 (19)
- July 2011 (5)
- June 2011 (7)
- May 2011 (13)
- April 2011 (2)
- March 2011 (1)
- February 2011 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
