ASI ( Air Susu Ibu )

- more fresh… HEALTHIER and free -

Dot Bisa Ganggu Perkembangan Emosional Bayi Laki-laki

Kamis, 20 September 2012 | 04:01
//

Dot bayi

Dot bayi (sumber: mommypage)

Sebelum bayi dapat berbicara, mereka bergantung pada isyarat non-verbal, terutama ekspresi untuk berkomunikasi.

Memberikan dot merupakan cara cepat menghentikan kerewelan bayi. Namun, bagi bayi laki-laki, hal itu mungkin bisa mengganggu pertumbuhan emosional mereka.

Sebelum bayi dapat berbicara, mereka bergantung pada isyarat non-verbal, terutama ekspresi untuk berkomunikasi. Dalam sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Basic and Applied Social Psychology,  peneliti University of Wisconsin mengevaluasi lebih dari 100 anak-anak.

Mereka menemukan bahwa anak laki-laki berusia enam dan tujuh tahun menggunakan dot buruk dalam mengungkapkan emosi lewat ekspresi wajah saat diabadikan rekaman video.

Mereka juga mewawancarai lebih dari 600 mahasiswa dan menemukan bahwa lelaki usia kuliah yang orang tuanya mengandalkan dot mencatat nilai lebih rendah pada tes mengukur empati dan kemampuan untuk mengevaluasi suasana hati orang lain.

Penggunaan dot pada umumnya adalah topik yang kontroversial. Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa setiap puting buatan dapat menghambat bayi menyusui.

Journal of American Family Physician menambahkan bahwa dot dapat mendorong infeksi telinga dan akhirnya menyebabkan masalah gigi. Namun, American Academy of Pediatrics mengatakan akan baik-baik saja selama tidak menawarkannya untuk bayi yang lapar. Mengisap dot selama tidur siang dan malam bahkan dapat mengurangi risiko Sindrom Kematian Bayi Mendadak.

Sumber : Beritasatu

September 20, 2012 Posted by | Article | Leave a comment

Menkes: Suami Ikut Sukseskan Pemberian ASI

Kamis, 20 September 2012 | 02:03
//

Air susu ibu mempunyai banyak manfaat keasehatan bagi ibu dan bayi.

Air susu ibu mempunyai banyak manfaat keasehatan bagi ibu dan bayi. (sumber: wales.nhs.uk)

Rendahnya cakupan dan kurangnya dukungan dari para ayah itu dikatakan Nafsiah seringkali karena kurangnya informasi.

Para suami agar dapat ikut berpartisipasi dalam menyukseskan pemberian ASI eksklusif dalam upaya mendorong pemberian makanan bayi itu yang masih rendah di Indonesia, kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi.

“Kami melihat salah satu permasalahannya adalah karena ini merupakan masalah gender, para ayah kurang mau terlibat dalam pemberian ASI kepada anaknya, dan menjadikannya masalah perempuan saja. Oleh karena itu, suami juga perlu dilibatkan dalam promosi ASI eksklusif ini,” kata Menkes ketika memberikan sambutan pada kegiatan puncak Pekan ASI Sedunia di Jakarta, Rabu.

Berdasarkan data Susenas 2010, baru 33,6 persen atau sekitar sepertiga bayi yang mendapatkan ASI eksklusif mulai lahir hingga berusia enam bulan, cakupan yang dinilai masih sangat rendah.

Rendahnya cakupan dan kurangnya dukungan dari para ayah itu dikatakan Nafsiah seringkali karena kurangnya informasi mengenai pentingnya memberikan ASI bagi kesehatan bayi sehingga banyak pasangan orang tua yang kemudian memberikan susu formula.

“Padahal pemberian ASI adalah hak asasi bagi anak maupun orangtuanya. Kedua, ASI merupakan gizi yang terbaik dan murah. Ketiga, proses menyusui juga memberi keuntungan bagi ibu, karena ibu menyusui memiliki risiko kanker payudara yang lebih kecil,” papar Menkes.

Dukungan dari pemerintah daerah juga dinilai penting untuk menyukseskan pemberian ASI eksklusif dengan cara mengeluarkan peraturan daerah yang mendukung pemberian ASI seperti keleluasaan ibu bekerja untuk tetap dapat menyusui.

 

Sumber : Beritasatu

September 20, 2012 Posted by | Article | Leave a comment

Menyusui Lindungi Bayi dari Depresi Saat Dewasa

Senin, 17 September 2012 | 12:36
//

Ilustrasi

Ilustrasi (sumber: KidStock/Blend/Visualphotos)

Hormon cinta (oksitosin) membuat bayi berisiko rendah mengalami depresi saat dewasa.

Bayi yang disusui ibunya dengan air susu ibu (ASI) mungkin memiliki risiko lebih rendah terkena depresi saat dewasa.

Demikian hasil studi terkini yang dilakukan para peneliti dari Jerman.

Dalam penelitian tersebut mereka melihat 52 orang berusia rata-rata 44 tahun, yang sedang dirawat inap di rumah sakit karena depresi besar. Kemudian membandingkannya dengan 106 orang sehat yang belum pernah didiagnosis  depresi.

Peserta saat bayi dilaporkan telah disusui oleh ibunya selama setidaknya dua minggu.

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa 73 persen dari mereka yang tidak depresi semasa kecilnya disusui oleh ibunya. Sedangkan 46 persen orang dengan depresi, semasa kecilnya tidak disusui.

Kesimpulan tersebut didapat setelah para peneliti memperhitungkan faktor-faktor yang dapat memengaruhi peserta terkena risiko depresi, seperti usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan ibunya.

Para peneliti juga menemukan, bahwa jangka waktu bayi yang disusui ibunya tak akan memengaruhi risiko depresi bagi anaknya kelak.

Rendahnya risiko depresi pada bayi yang disusui ibunya terjadi lantaran aktivitas menyusui, mempererat kualitas hubungan emosional ibu dan bayi.  Kedekatan hubungan emosional ini, kata para peneliti, bisa menjadi pelindung terhadap depresi.

Mereka juga menyarankan, bahwa menyusui dapat meningkatkan perilaku pada ibu terkait dengan hormon oksitosin (hormon cinta). Perilaku tersebut diyakini mampu melindungi ibu dari stres.

Tak hanya itu, komponen ASI juga mempromosikan perkembangan otak bayi dengan cara membantu mencegah depresi pada anak saat dewasa.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Psychotherapy and Psychosomatics.

Sumber : Beritasatu

September 17, 2012 Posted by | Article | Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: