ASI ( Air Susu Ibu )

- more fresh… HEALTHIER and free -

ASI Eksklusif Cetak Generasi Baru Berkualitas

  • 13 Sep 2014 12:00

Banyaknya Manfaat ASI bagi Ibu dan Anak

Dipercaya bahwa tingkat IQ seseorang dipengaruhi berapa lama sang ibu memberikan ASInya.

Liputan6.com, Jakarta Pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif pada bayi sampai berusia enam bulan atau dua tahun, merupakan investasi gizi yang membantu memutus lingkaran kemiskinan. Bahkan, mampu meningkatkan PDB 2 sampai 3 per tahun.

Secara tidak langsung, pemberian ASI eksklusif akan mencetak generasi baru berkualitas, penentu masa depan bangsa.

“Kehidupan kita semua berawal dari makanan. Dan ASI merupakan makanan pokok yang harus diberikan pada seorang bayi. Perilaku kita mengenai makanan, turut memengaruhi akan seperti apa kita di masa depan,” kata Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Doddy Izwardi.

Dalam konferensi pers untuk Pekan ASI Sedunia di Ruang Mahamarjono, Gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kuningan, Jakarta, pada Jumat (12/9/2014), Doddy menjelaskan bahwa hanya dengan melakukan investasi 1 dolar pada gizi, mampu menghasilkan kembalinya 30 dolar dalam peningkatan kesehatan. “Termasuk juga pendidikan dan produktivitas ekonomi,” kata Doddy menambahkan.

Pada the copenhagen consensus 2012, lanjut Doddy, para ekonom terkenal dunia mengidentifikasi cara paling erdas mengalokasikan uang untuk menghadapi tantangan utama dunia adalah dengan inestasi untuk perbaikan status gizi penduduk.

Credit: Gabriel Abdi Susanto

Sumber : Liputan6.com

September 16, 2014 Posted by | Article | Leave a comment

Cakupan ASI Terus Turun ==> Ayo ASI + Imunisasi

Cakupan ASI Terus Turun

Pada 2010, prevalensi ASI eksklusif di Indonesia hanya mencapai 15,3%. Itu sangat miris dengan kondisi rata-rata per tahun ada 4 juta kelahiran bayi. Rendahnya pemberian ASI eksklusif bagi bayi antara lain disebabkan masih rendahnya pengetahuan ibu dan masih gencarnya promosi perusahaan susu formula.

TARGET capaian cakup an prevalensi pembe rian air susu ibu (ASI) secara eksklusif bagi bayi usia 0-6 bulan minimal 80% hingga kini masih sulit tercapai. Itu lantaran pemberian ASI ekslusif dari tahun ke tahun cenderung menurun.
Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anung Sugihantoro menyatakan kecenderungan pemberian ASI ekslusif tergambar dari data terakhir Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) selama satu dekade (1997-2007).

SDKI menyebutkan pada 1997, prevalensi pemberian ASI eksklusif mencapai 40,2%, kemudian 2003 menurun menjadi 39,5%, dan pada 2007 turun kembali jadi 32%.

Bahkan pada 2010, prevalensi ASI eksklusif kembali menurun jadi 15,3%. Dengan rata-rata per tahun ada 4 juta kelahiran, tingkat pemberian ASI eksklusif di Indonesia tergolong sangat rendah.

“Penurunan pemberian ASI memprihatinkan. Tanpa ASI, tingkat kematian anak akan tinggi karena mereka tidak memiliki kekebalan tubuh,” kata dia pada peringatan Pekan ASI Sedunia, di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan penye bab rendahnya pemberian ASI beragam. Di antaranya, kurangnya dukungan dari suami, adanya mitos tidak benar seperti memberikan ASI menyebabkan bayi diare dan tubuhnya berbau amis.Kemudian, rendahnya pengetahuan ibu tentang manfaat ASI, masih gencarnya promosi perusahaan susu formula, rendahnya tenaga kesehatan yang mendorong ibu melahirkan untuk memberikan ASI serta terbatasnya sarana pemberian ASI di tingkat perusahaan dan sarana publik. Hak anak Te r k a i t i t u , p e m e r h a t i perempuan dan anak Giwo Rubianto Wiyogo menyatakan ASI harus diberikan kepada anak karena merupakan hak anak. “Hak anak itu sejak dalam kandungan, sehingga ibu harus memberi ASI kepada bayinya,” paparnya di sela launching sosialisasi Aliansi Pita Putih Indonesia (APPI) tentang imunisasi pentavalen.

Menurut dia, anak yang diberi ASI punya imunitas lebih tinggi ketimbang anak yang diberi susu formula. ASI juga meningkatkan ikatan ibu dan anak dan praktis.

“Sebagus apa pun susu formula, tetap ASI yang terbaik,” ungkap aktivis APPI itu.

Ia menegaskan keluarga, pemerintah, dan perusahaan harus mendukung pemberian ASI. Perusahaan misalnya, perlu menyediakan ruang laktasi. Tidak hanya sekadar ruangan, tapi juga dilengkapi fasilitas penunjang. “Kalau di luar negeri, fasilitas di ruang laktasi lengkap, ada tenaga kesehatan dan fasilitas penunjang. Bukan sekadar formalitas,” kata dia.

Pemerintah juga perlu menggalakkan pemberian ASI pada anak lantaran pemerintah akan diuntungkan. “Dengan ASI, akan lahir generasi muda yang sehat,” ujarnya.

Ketua Pembina Sentra Laktasi Indonesia Utami Roesli menegaskan pemerintah harus tegas memberi sanksi kepada perusahaan yang tidak memungkinkan karyawatinya memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, “Sesuai Pasal 201 UU Kesehatan, bila seperti itu, pimpinan kerjanya dapat dituntut 3 tahun penjara dan denda Rp300 juta.” (H-2)

http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2014/09/16/ArticleHtmls/Cakupan-ASI-Terus-Turun-16092014015012.shtml?Mode=1#

September 16, 2014 Posted by | Article | Leave a comment

DHA Susu Formula Tidak Jadikan Bayi Pintar

SENIN, 15 SEPTEMBER 2014

IKLAN produk susu formula menawarkan berbagai kelebihan. Salah satunya mengandung DHA yang dikatakan dapat menambah kepintaran bayi.

Konsultan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, Utami Rusli, mengatakan bahwa kandungan DHA yang ditawarkan pada produk susu formula sama sekali tidak menambah kepandaian bayi. Pasalnya, hal ini tidak didasarkan pada penelitian ilmiah.

“Jadi kalau kita lihat iklan sehari-hari kan ada ibu yang mengatakan ‘susunya apa? Kok pintar ya?’ menurut 16 metaanalisa itu tidak benar, karena tidak berdasarkan penelitian ilmiah,” ujarnya di Gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Lebih lanjut, Utami menjelaskan bahwa pada tahun 2010, empat penelitian meta analisa dari 12 penelitian besar di tahun 2012 menunjukkan bahwa pemberian DHA dan AHA pada susu formula bayi tidak akan menambah kepintaran bayi. Menurutnya, bila berbicara mengenai tumbuh kembang seoran anak harus benar-benar berdasarkan hasil penelitian.

Karena itu, Utami menekankan pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) ekslusif selama enam bulan hingga dua tahun untuk bayi. Menurutnya, dengan ASI ekslusif , maka kemampuan kognitif, bahasa, dan motorik dari seorang bayi akan meningkat.

“Buktinya, pada tahun 2013 di Inggris dilakukan penelitian terhadap 504 orang bayi yang diikuti sampai mereka berusia dua tahun. Di situ peneliti menemukan sejumlah anak yang memperoleh makanan standar emasnya, beberapa fungsi tersebut meningkat secara signifikan,” tutupnya.

Sumber : Okezone

September 15, 2014 Posted by | Article | Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,171 other followers

%d bloggers like this: